Mahasiswa
1 minggu lalu · 397 view · 4 min baca · Budaya 69586_59139.jpg
Pixabay

Bertanya kepada Kambing Baphomet

Sebentar lagi Iduladha, hari berkurban nyawa beberapa kingdom animalia yang sudah ditunjuk secara sahih, baik naqli ataupun aqli yang sifatnya tentatif ijtihadi.

Hari berkurban ini akan menyasar al-ibil (unta), al-baqar (sapi), ad-dha’n (domba atau biri-biri), dan al-maʽiz (kambing). Namun, bisa saja jenis-jenis binatang kurban ini dikembangkan dari sisi ordo, kelas, dan spesiesnya untuk mendapatkan sebuah keadaan darurat. 

Penganekaragaman binatang kurban bisa lewat tentatif ijtihadi untuk urusan faktor keterbatasan sebaran habitat hewan ternak atau yang dikenal dengan istilah bahimatul an’am sebagai sasaran kurban.

Keterbatasan tersebut bisa ditawar taksonominya ke yang lebih rendah, seperti menyasar ke kelas Aves (burung/unggas) yang masih tergolong vertebrata yang bertulang belakang.  

Kenapa ditulis kurban, kok tidak korban? Untuk kali ini, KBBI membuat diskriminasi makna yang cukup signifikan. Ketika hewan persembahan berafiliasi dengan Iduladha, KBBI memberi kata kurban. Namun, ketikan hewan persembahan tidak berafiliasi dengan Iduladha, KBBI memberi kata korban.

Padahal proses penyerapannya juga sama, kata pinjaman (loan word) dari Bahasa Arab yang sudah mengalami proses adaptasi. 

Diskriminasi makna tersebut membuat saya mulai mencercah pertanyaan kepada kambing Baphomet, si raja kegelapan versi setanisme Romawi kuno yang dilambangkan dengan kepala kambing itu.

Ketika kita tanya Baphomet dengan sopan, apakah dia tersinggung atas perbedaan kata korban dan kurban? Kemungkinannya tidak. Baphomet pasti tersipu malu untuk menjawab. Sepertinya dia sudah pasrah jadi korban, bukan kurban


Mungkin juga sekarang Baphomet malah cekikikan sambil menunjuk gambar kepalanya yang tersablon rapi di kaus saya.

Benar, kepalanya sudah terpenggal pada beberapa penampilan simbologinya. Artinya, Baphomet memang korban, dan bukan kurban. Dia sudah dipenggal pemujanya untuk kepentingan desain sablonan di kaus, agar terlihat simpel dan minimalis. Badannya sudah dimutilasi dan dihabisin agar menarik tampilannya.

Sebagian pemujanya membiarkan tubuhnya utuh. Simbologi setanisme ini akan tampil lengkap dengan pernik-pernik kegelapan lainnya. Saya kira kalian adalah pemuja yang kurang ajar, seenaknya saja memotong, membiarkan, atau menambahi Tuhanmu sekehendak hati.

Pemuja pada dasarnya memang bebas. Apakah dia memosisikan pujaannya sebagai idol atau sebaliknya, sebagai odol. Bisa juga keduanya, hingga campur aduk tak karuan, pujaan sekaligus pembersih mulut busuknya.

Sebagian anak muda yang menyelami dunia musik subkultur blackmetal tak asing lagi dengan simbologi Baphomet ini. Pada Iduladha nanti, kambing akan menjadi kurban. Tentunya kambing sungguhan, bukan Baphomet, korban yang cengar-cengir tadi.

Dengan melihat uraian di atas, jelaslah ada perbedaan antara kurban dan korban, tentunya versi KBBI. 

Pada dasarnya hewan sejak dahulu kala sudah menjadi tradisi untuk dilibatkan, diikutkan, dikorbankan, dikurbankan dalam peribadatan. Keterlibatan hewan akan terus mengiringi dinamika peribadatan manusia. 

Hewan juga lazim dijadikan persembahan acara-acara suci untuk penebusan dosa. Namun, ada juga perkecualiannya. Misal, sapi yang dianggap suci, pasti tidak akan menjadi bahan korban atau kurban.

Ketika dibandingkan antara saya dengan Baphomet berdasar klasifikasi ala Carolus Linnaeus, ada beberapa persamaan pada tingkat taksonominya. Saya dan Baphomet sama-sama di kingdom animalia. 

Bedanya, saya dipoles dengan istilah hewan berakal yang dalam ilmu mantiq (logika) disebut sebagai al-insanu hayawanun nathiq (manusia adalah binatang yang berpikir). Sedang Baphomet tetaplah sebagai binatang, yang tak berpikiran tentunya. Sehingga dia tidak mempunyai beban ibadah (mukallaf), sebagaimana manusia yang berpikiran. 


Namun, tak jarang keadaan menjadi berbalik. Ketika binatang yang “terlatih” mampu mengungguli pikiran manusia yang telah dipenuhi nafsu dan angkara murka. 

Baphomet yang saya temui ini terlatih dan mampu menendang bola. Sedang manusia yang pikirannya penuh nafsu, termasuk saya, juga terlatih untuk menendang. Namun, yang ditendang bukanlah bola, tapi kepala orang yang juga berpikiran. Di sinilah saya ditertawai oleh Baphomet yang kini sedang berjingkrak di pinggir lapangan itu.

Untuk urusan filum, saya dan Baphomet sama-sama di area kordata, bertulang belakang. Namun, Baphomet lebih sadis, mampu menegakkan badannya sebagai lambang kekuasaannya sebagai Tuhan, Supreme of God, keren. Mengungguli manusia kadang juga menyembah Supermi of God.

Belum dijumpai Baphomet berpose layaknya kambing piaraan yang tidak berjalan tegak. Baphomet kekinian adalah kambing yang berpose duduk tegak, layaknya orang suci yang sedang berkhidmat.

Sedang saya yang dikategorikan sebagai homo erektus, mamalia yang berjalan tegak, kadang membungkuk-bungkuk menjilat kaki Tuhan Yang Maha Lain. 

Ini kedua kalinya saya melihat Baphomet terpingkal, menertawakan kemerosotan kasta manusia yang erektus, yang tegak terhormat, tiba-tiba merosot menjadi lupus (serigala). Para lupus yang berkedok agama tanpa malu-malu dengan Baphomet yang hanya seekor kambing. Mereka kadang beringas saling sembeli antar-sesamanya. 

Untuk ketiga kali, Baphomet terbahak sambil menari memainkan pernik-perniknya, sebuah pentagram, bintang berujung lima. Gemulai dan riangnya tarian Baphomet seolah-olah mengejek manusia yang katanya "terlatih" dengan yang lima waktu.

Tak perlu jauh-jauh bertanya kepada para kesatria Templars ataupun perkumpulan Mason tentang Baphomet. Cukuplah dengan melihat pancaran-pancaran diri kita yang kadang bersikap menuhan diri seperti Baphomet. Hingga akan tampak terbolak-balik. 

Di satu sisi, ketika manusia sadis mengorbankan manusia dengan bertuhan seeekor kambing untuk kepentingan setanismenya. Sedang di sisi lain, manusia mengurbankan kambing dengan ber-Tuhan Yang Maha Esa namun gemar membunuh untuk kepentingan radikalismenya.

Korban dan kurban sebagai tanda cinta kasih sudah mengiringi peradaban manusia sejak dahulu kala. Masing-masing kepercayaan mempunyai landasan dan tujuannya. Untuk kali ini, Baphomet mulai menangis. 

Coba tanyai kenapa menangis, pasti jawabnya; hari ini aku telah dibaca manusia! Pastikan beberapa hari ke depan dia akan pensiun jadi Tuhan.

Dalam demonologi juga ada penggolongan teis dan ateis. Teis ketika menuhankan setannya, dan ateis ketika tidak perlu ada yang disembah atau dipuja. Bagi yang ateis, setan hanyalah simbologi perlawanan terhadap oknum pemeluk agama yang kadang kesetanan.

Terima kasih, Baphomet. Hari ini banyak pelajaran yang diambil dari sisi ketuhananmu. Jangan lupa ya, yang benar Iduladha, bukan Idul Adha. Atau, Idulkurban bukan Idulkorban.

Artikel Terkait