Culinary Academy Kuala Lumpur, merupakan salah satu sekolah memasak khusus pelajar putri di Asia. Sekolah bertaraf Internasional dengan tampilan gedung bergaya London kontemporer. Selain lantai granit ber-aksen Hitam elektrik, bangunan juga didominasi oleh material kaca, serta beberapa fasilitas tempat hiburan pada umumnya.

"Razia lagi?" Tanya Vanesa, pelajar asal Surabaya dengan raut panik ketika mendengar langkah sepatu pantofel milik Wakil Kepala Akademi kian mendekati ruang kelas mereka.

"Bukannya kemarin kuteks dan majalah BTS ku sudah dibakar?" Cetus Sae Byeok, pelajar asal Seoul.

Sedang Angbin, pelajar asal Pekanbaru yang juga tengah bersama dengan Vanesa dan Sae Byeok tampak mengusap pipi kanannya. Meski hilang warna kebiruan, rasa nyeri masih sangat kerap dirasakan oleh gadis tersebut.

"Morning class!" Sapa Yohan, Wakil Kepala Akademi CAKL.

"Morning Sir!"

"Open your bag, and show me out!

Dua puluh orang pelajar putri yang ada di kelas pun turut membongkar isi tas mereka. Semula, mereka memang sudah diberi peringatan untuk tidak membawa peralatan atau barang apa pun yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan memasak.

"Vanesa! Why  you bring your cosmetic to school?" Maki Yohan.

"It's only lip balm, Sir." Vanesa tertunduk namun berusaha membela diri.

"I dont care! Come to my room! NOW!"

"O.. Okey Sir." Vanesa melangkah mengikuti Yohan ke ruang Wakil Kepala Akademi.

"Baru juga satu minggu yang lalu razia," Cetus Sae Byeok, sementara Angbin, gadis dengan rambut terurai itu langsung bergegas meninggalkan ruang kelas.

"Angbin, kamu mau ke mana?" Cegah Sae Byeok.

"Aku harus ikut mereka!"

"Jangan, biar saja Vanesa dikasih hukuman, agar jera."

"Aku takut Vanesa kenapa-kenapa!"

"Maksud kamu apa?"

"Kamu ingat razia minggu kemarin? Aku hanya membawa novel Percy Jackson lantas aku ditampar!"

"What the hell? Kamu kenapa tidak bilang?"

"Ahh!" Angbing menggeleng, sadar bahwa waktunya sudah banyak terbuang hanya demi meladeni Sae Byeok. Bergegas dirinya menuju ruang Wakil Kepala Akademi, lalu mengintip melalui celah pintu.

"Aww!" Jerit Vanesa ketika Yohan menjambak rambutnya.

"Kamu ke sini hanya untuk belajar memasak, tidak perlu cantik, yang penting ciptakan resep masakan-masakan terbaru, ITU SAJA!"

"Maafkan saya, Sir. Saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama," Lirih Vanesa pelan.

"Aww!" Yohan kian mengencangkan jambakannya pada Vanesa.

"Angbin?" Sapa Kepala Akademi tiba-tiba.

"Hh!!" Gadis itu sontak terkejut, dengan raut pucat dirinya kembali menuju ruang kelas. Bahkan saking ketakutannya, Angbin terjatuh oleh langkahnya sendiri.

"Aduh!"

Kepala Akademi dengan warna lipstick menyala seperti bara api Neraka pun memandang sinis pada Angbin, namun memilih mengabaikannya.

"Stop Yohan! What are doing?" Bentak Clare, sang Kepala Akademi ketika mendapati Yohan yang sedang menjambak Vanesa.

"Maaf Ms. Saya pikir, Anda tidak akan masuk dalam beberapa hari, untuk itu," Yohan menggantungkan pemaparannya ketika Clare berjalan mendekati Vanesa yang sudah meneteskan air mata.

"Kesalahan apa yang sudah kamu lakukan?" Delik Clare.

"Sa.. Sa.. Saya hanya membawa lip balm Ms."

"Bukankah sudah berkali-kali diberitahukan bahwa tidak ada siswa yang boleh membawa peralatan selain untuk memasak?"

"Ma.. Maafkan saya Ms, saya janji ini yang terakhir."

"Hmm," Gumam Clare namun sudah terdengar mematikan. Dengan sedikit melenggok, wanita paruh baya itu berjalan menuju pantry, lalu membawa pisau pemotong daging seraya menari-narikan jemarinya.

"Letakkan kepala mu di atas meja!" Instruksi Clare pada Vanesa dengan sekujur tubuh bergetar hebat.

"Sa.. Sa.."

"Saya tidak akan membunuh mu Vanesa!" Vanesa yang kian ciut pun menuruti instruksi gila tersebut, sedang dalam beberapa detik,

Trap, trap, trap! Rambut sebahu milik Vanesa kita telah terpotong menjadi kian pendek dengan model tidak beraturan.

"Itu adalah hukuman untuk kamu, kembali ke ruang kelas mu sekarang!" Tutup Clare.

"Hh.. Hh.. Baik Ms."

***

"Angbin! What are you doing?" Tanya Sae Byeok ketika Angbin tengah mempersiapkan ranselnya dengan raut ketakutan.

"Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang!" Gadis itu berusaha meyakinkan sahabatnya.

"Sesuatu yang buruk?" Tanya Sae Byeok sedang tenggorokannya mulai tercekat.

"Hmm!" Kedua orang siswi CAKL itu berlari meninggalkan ruang kelas. Mereka memilih untuk lewat tangga darurat saja karena tidak ada CCTV di sana. Namun tiba-tiba,

"Angbin! Sae Byeok!" Teriak Kepala Akademi yang masih membawa pisau pemotong daging di tangannya.

"Mau ke mana kalian? Cepat kembali ke kelas!"

"Hh.. Hh.." Angbin dan Sae Byeok saling memandang satu sama lain.

"Ayo, saya akan mengajarkan kalian memasak menu dari Itali, kembali ke kelas!"

"Hh.. B.. Baik Ms," Sahut Sae Byeok. Angbin dan Sae Byeok pun mengikuti langkah Clare dari belakang. Bahkan suara nafas keduanya tertangkap dengan sempurna oleh Clare.  

"Vanesa, itukah hukuman bagi mu?" Tanya  seorang siswa ketika mendapati rambut Vanesa telah terpotong pendek.

"Hmm." Sedang Vanesa yang masih shock atas kejadian di ruang Yohan tadi hanya mengangguk.

"Attention class!" Clare mengambil alih ruangan.

"Hari ini, dan tiga hari ke depan, CAKL akan kedatangan tamu spesial dari Itali. Untuk itu, kalian akan diliburkan, dan dipersilahkan pulang ke rumah."

"Kecuali, lima orang siswa yang saya pilih secara langsung, harus tetap tinggal di asrama dan mempersiapkan diri untuk menyambut tamu tersebut. Kelima orang siswa tersebut adalah ; Fatimah, Sae Byeok, Angbin, Larissa, Theresia. Berbanggalah kalian yang namanya saya sebutkan!"

Sae Byeok dan Angbin sontak saling menoleh, lalu kemudian beralih melirik Vanesa.

"Hari ini, selain dari lima orang siswa yang saya sebutkan, lekas bersiap untuk pulang, dan sampai jumpa lagi setelah tiga hari ke depan!" Clare   berlalu meninggalkan ruang kelas.

Siswi yang lainnya turut berhambur menuju asrama demi mempersiapkan barang-barang mereka. Tiga hari adalah waktu yang cukup panjang jika dihabiskan di luar asrama CAKL.

"Vanesa, are you okey?" Tanya Angbin sontak mendekap Vanesa yang masih shock. Vanesa menatap Angbin tanpa mengucap sepatah kata pun.

"Sebaiknya kamu pulang dan beristirahat di rumah," Tutup Angbin ketika teringat dirinya ditampar oleh Clare satu minggu yang lalu lantaran membawa novel Percy Jackson.

***

"Urusan kita belum selesai, Vanesa!"

"Mmp, mmp," Vanesa yang masih belum stabil kondisinya, kini harus dikejutkan kembali oleh kedatangan Yohan yang tiba-tiba membekap mulut lantas memasukkan gadis itu ke dalam mobil ketika Vanesa sedang menunggu taxi menuju bandara. Ya! Yohan menculik Vanesa.

Sedang malam harinya di asrama, Angbin terlihat mondar mandir memikirkan hari esok mereka berlima. Bagaimana jika hal buruk terjadi bahkan sebelum hari esok tiba.

"Angbin, what happent to you?" Tanya Fatimah yang merupakan pelajar asal Brunei.

"Ha? No, i dont think so," Sahut Angbin.

"Just tell me what you wanna tell."

"Kita dalam bahaya," Sahut Sae Byeok tiba-tiba.

"Bahaya?" Larissa, dan Theresia pun ikut bergabung.

"Katakan Angbin, apa yang kamu lihat di ruang Yohan tadi," Pinta Sae Byeok.

"Itu adalah sesuatu yang buruk." Angbin menyimpulkan, gadis itu bahkan tidak berani mengucapkan apa yang ia lihat tadi.

"Apakah, yang kamu lihat tadi seburuk ini?" Tanya Larissa, pelajar asal Beijing seraya memperlihatkan bekas luka cambuk di punggungnya.

"Hh!" Keempat siswi lainnya terkejut.

"Aku tidak sengaja menambahkan lada Hitam dalam masakan ku dua bulan yang lalu, kemudian Clare marah, ia mencambuk ku dengan ikat pinggang milik Yohan di dapur CAKL ketika jam kelas masak usai," Papar Larissa kemudian.

"Kita harus keluar dari tempat ini sebelum sesuatu yang lebih buruk menimpa kita semua! Firasat ku mengatakan akan ada sesuatu yang lebih berbahaya lagi, terlebih di CAKL hanya ada kita berlima sekarang," Susul Angbin.

"Benar, dan berhubung kita semua sama-sama sudah menyadari bahaya ini, sebaiknya kita lebih waspada, dan saling menjaga satu sama lain," Tekad Theresia, siswa asal Filipina dengan penampilan yang sedikit tomboy.

"Dan untuk besok, ada yang sudah memikirkan rencana?" Tanya Sae Byeok.

"Actually i've," Sahut Angbin yang disimak keempatnya.

***

Pelipis Vanesa tampak dialiri oleh darah segar. Yohan masih membekapnya lalu berkali-kali menamparkan gadis tersebut. Vanesa sudah menangisi keadaannya sejak tadi sore. Dirinya bahkan sudah tidak lagi mengenakan rok dan c3lana dalamnya juga sudah dibuka oleh Yohan meski baju dan rompi CAKLnya masih terpasang utuh.

"RASAKAN INI!" Maki Yohan seraya mencabuli Vanesa dengan sejadi-jadinya.

"Mmp!" Jerit Vanesa sia-sia.

***

Dapur CAKL tampak mulai sibuk pagi itu, lima orang siswi sepertinya langsung didampingi oleh sang Kepala Akademi, Clare yang turut mempersiapkan makan siang sebagai penyambutan tamu dari Itali.

Trang!

"MAKANAN APA INI?" Amuk Clare saat baru saja mencicipi dessert Sae Byeok seraya memecahkan piring.

"Tamu kita akan datang siang ini Sae Byeok! Saya tidak mau tau, lima menit lagi saya kembali, pecahan kaca ini sudah harus bersih!"

"Fuck you, Clare! Hari ini hidup mu akan berakhir!" Batin Sae Byeok dengan sepasang netra yang menyiratkan kebengisan.

"Kamu duduk dulu ya, itu pecahan kacanya kena pipi kamu, aku obatin dulu," Ucap Angbin yang datang seraya membawa kotak P3K, sedang Fatimah membantu membersihkan pecahan kaca tersebut.

Beberapa menit berlalu, Clare lagi-lagi dibuat mengamuk. Angbin telah salah meracik saos pasta hingga rasanya sangat pedas. Clare membuka paksa mulut gadis tersebut lantas memasukkan bubuk cabai sebanyak-banyaknya. Cairan bening mulai membasahi sepasang mata Angbin, Clare sudah terang-terangan bersikap buruk kepada siswi CAKL.

"Sekali lagi saya mendapati setitik kesalahan dari kalian, saya akan bunuh kalian!" Ancam Clare yang lagi-lagi berlalu meninggalkan ruangan.

"Angbin, kamu tidak apa-apa? Ini minum dulu yang banyak," Ucap Fatimah seraya membawakan segelas air.

***

Yohan kembali ke ruang Wakil Kepala Akademi dengan tubuh sempoyongan. Lelaki itu telah membunuh Vanesa 10 jam yang lalu. Kini Yohan tampak memukul kepalanya berkali-kali seperti seseorang yang sedang frustrasi. Alam bawah sadar menuntunnya kembali pada kenangan puluhan tahun silam.

Yohan dan Clare adalah Kakak beradik, di mana Ibu mereka bernama Fransisca sedang Ayah mereka bernama Frederich. Keduanya terlahir di tengah-tengah keluarga yang jauh dari kata harmonis. Frederich merupakan lelaki tempramen yang kerap melampiaskan amarahnya pada Fransisca, Clare dan juga Yohan.

Bukan hanya mencambuk Clare dengan ikat pinggangnya, Frederich juga pernah memukul Yohan dengan linggis. Bahkan lelaki monster itu merusak wajah Fransisca dengan setrika panas, bahkan Fransisca pun mati di tangan Frederich. Sejak saat itu, Clare membawa Yohan pergi dari rumah, dan memutuskan untuk tidak pernah muncul lagi di hadapan Ayah mereka.

Yohan mulai berjalan lunglai menuju kamar mandi yang ada di ruang kerjanya. Dalam keadaan sadar, lelaki tersebut memandikan dirinya yang masih dengan seragam sekolah lengkap di bawah shower.

Sedang di dapur CAKL, Angbin, Sae Byeok, Fatimah dan Theresia dibuat menjerit ketika Clare menggantung Larissa dengan leher diikat tali pada plafon dapur CAKL yang sangat tinggi.

"Kalian semua sengaja ingin merusak momen hari ini kan? Kalian sengaja ingin mempermalukan saya? Sekarang lihat teman kalian sudah mati? Ingat, acara hari ini tidak boleh gagal, jangan macam-macam kalian dengan saya!" Ancam Clare dengan tatapan beringas.

***

Setelah menyuguhkan hidangan Ayam Laksa Penang untuk para tamu undangan, Fatimah pun kembali ke dapur CAKL, tempat di mana Angbin, Sae Byeok dan Theresia menunggu giliran untuk menghidangkan makanan mereka.

"Bagaimana?" Tanya Angbin pada Fatimah.

"Alhamdulillah, semua baik-baik saja. Sekarang giliran kamu, apa kamu sudah siap?" Tanya Fatimah pada Angbin.

"Hmm!" Gadis itu mengangguk.

"Wish we are lucky girls!" Susul Theresia.

Angbin pun mengawali hidangannya dengan senyuman ramah. Piring Pasta Fettucine pertama, ia berikan kepada tamu perempuan yang mengenakan mini dress berwarna baby Brown dengan rambut terurai sebahu.

Perempuan itu mengulas tawa pada Angbin, namun tidak setelah membaca tulisan yang ada pada tisu yang membalut pisau dan garpunya. Semula, Angbin berencana menggunakan pisau dan garpu berwarna Silver, namun Clare menyuruh Angbin agar menggantinya dengan warna Gold.

Jangan lihat ke atas, kita semua bisa mati! Jatuhkan pisau Gold mu, maka akan aku ganti dengan warna Silver, setelah itu lihatlah apa yang ada di atas mu melalui pantulan dari pisau tersebut.

Tenggorokan wanita itu tercekat. Namun karena rasa penasaran, ia menjatuhkan pisaunya, lalu meminta Angbin untuk mengganti pisau tersebut. Angbin kembali seraya membawa pisau berwarna Silver, namun Clare menahannya.

"Angbin, use our Gold knife!"

"No, it's okey!" Bela perempuan yang dituju Angbin dengan seulas tawa. Perempuan tersebut mulai mengarahkan pisaunya agar mampu menangkap pantulan apa yang sedang berada di atas mereka, dan terkejut bukan main ketika mendapati bayangan Larissa yang tengah tergantung di atas sana.

"Ehm! Sepertinya saya ingin ke toilet!" Ucap perempuan dengan mini dress berwarna baby Brown tersebut.

"Baik, akan saya antar." Clare menawarkan.

"Oh? Thankyou," Sahut tamu tersebut sedikit kecewa karena ia berencana hendak menelfon polisi.

Selang beberapa menit, Clare dan tamunya kembali. Ini adalah hidangan penutup yang disuguhkan oleh Theresia, Truffle. Para terlihat sangat puas, untuk itu mereka mengundang empat orang siswi CAKL untuk bersulang bersama mereka.

"OPEN THE DOOR, NOW!" Teriak seseorang dari luar.

"Siapa yang mengunci pintunya?" Tanya Sae Byeok panik.

"HAHAHAAAA! Kalian semua pikir aku bodoh?" Tawa Clare kemudian.

"Anak-anak cerdas yang tidak tau diri!" Clare berjalan mengelilingi Angbin, Sae Byeok, Fatimah dan Theresia.

"Bisa-bisanya kalian menusuk ku dari belakang! Dan kalian! Tamu-tamu agung yang tidak tau terima kasih!"

TARR! Suara tembakan pertama pun mengejutkan seisi ruangan bahkan terdengar hingga ke ruang Yohan.

"Buka kuncinya dan biarkan saya bebas!" Ancam Clare seraya menyandra tamu perempuan dengan mini dress baby Brown.

"Lepaskan! Lepaskan!" Teriak perempuan itu.

"Fatimah, pergi ke sana dan buka pintunya!" Instruksi Theresia.

"Hmm." Fatimah bergegas keluar membukakan kunci, diikuti Clare yang masih membawa sanderanya. Sebuah pisau berwarna Gold telah siap melukai sandera jika Clare menginginkan hal itu terjadi.

"Theresia, sekarang!" Instruksi Angbin kemudian. Theresia dengan segera mendorong Clare hingga keduanya tersungkur, pisau yang sempat mengenai leher tamu tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas luka. Tamu tersebut berhasil melepaskan diri.

"Jangan mendekat!" Clare menghunuskan pisaunya pada pihak kepolisian.

"Tangkap saja Sir. Itu bukan pisau sungguhan!" Geram Angbin karena telah mempersiapkan pisau tersebut untuk momen hari ini.

"Fuck you, Angbin!" Maki Clare yang langsung segera ditangkap dan dibawa oleh polisi, sedang beberapa di antara mereka membantu menurunkan Larissa. Keempat orang siswi tersebut memeluk mayat Larissa erat.

Tiba-tiba, Yohan dengan pakaian serta jas yang terlihat sangat rapi pun datang menghadap para polisi. Ia juga turut menggendong mayat Vanesa bersamanya.

"Hh!" Jerit Angbin, Sae Byeok, Fatimah dan Theresia serentak.

"Saya akan menyerahkan diri saya kepada kepolisian Sir. Tapi izinkan saya mengembalikan gadis ini dulu kepada teman-temannya, agar dapat dikebumikan dengan layak," Ucap Yohan pasrah.

"ANAK ANJ1NG!! CUIHH!!" Maki Clare seraya meludah ke wajah Yohan.

Keempat siswi lainnya bergegas meraih Vanesa. Menempatkan sahabat mereka di sisi Larissa. Para tamu Itali diminta ikut ke kantor polisi sebagai saksi. Sedang keempat siswi yang tertinggal diberi kesempatan untuk mengurusi mayat sahabat mereka lebih dulu.

"Untuk Vanesa dan Larissa!" Ucap Theresia seraya mengambil segelas vodka untuk bersulang.

"Untuk Vanesa dan Larissa!" Susul Sae Byeok yang juga mengambil segelas vodka lalu membalas gelas Theresia.

"Untuk Vanesa dan Larissa!" Sambut Fatimah seraya mengambil Cocktail.

"Untuk Vanesa dan Larissa!" Tutup Angbin seraya mengambil gelas Red wine.

***