Psikolog Feminis
3 minggu lalu · 31 view · 4 min baca menit baca · Gaya Hidup 49101_67096.jpg
Foto: Pxhere

Bersikap Positif Menghadapi Infertilitas

Tidak kunjung memiliki si buah hati tentu dapat menimbulkan tekanan tersendiri bagi pasangan yang mengharapkan kehadiran anak. Apalagi ketika diagnosis infertil telah ditegakkan oleh dokter. Ketidakmampuan menghasilkan keturunan berpotensi menghancurkan kebahagiaan rumah tangga. 

Namun syukurlah, bagi sejumlah pasangan, infertilitas menjadi kesempatan untuk memperkuat relasi mereka. Pasangan-pasangan ini bukannya tidak mengalami konsekuensi-konsekuensi psikologis dari infertilitas, tetapi cara mereka menghadapi persoalan ini yang membuat mereka dapat saling menguatkan satu sama lain. 

Bersikap positif menghadapi infertilitas, inilah yang dapat kita pelajari dari mereka:

Satu, sama-sama menyadari dan memahami bahwa infertilitas memiliki dampak-dampak psikologis dalam diri mereka yang akan memengaruhi selanjutnya kehidupan mereka sebagai pasangan. Termasuk dalam hal ini adalah memahami bahwa rasa rendah diri, perasaan bersalah, dll selalu dapat muncul sewaktu-waktu. 

Kesadaran dan pemahaman ini memungkinkan pihak yang infertil untuk belajar mengelola perasaan-perasaan negatifnya. Di sisi lain, pasangan tidak akan bingung dan terkejut dengan suasana hati melankolis, kemarahan, dan sikap serta perilaku lain yang kurang menyenangkan dari suami/istrinya.  

Dua, menjadikan persoalan infertilitas sebagai persoalan pasangan, bukan persoalan pribadi. Jadi persoalan ini tidak menyerang harga diri perorangan. Mereka juga tidak melihat pasangan ataupun dirinya sendiri sebagai pihak yang membawa masalah ini dalam kehidupan pasangan. 

Pihak yang infertil, dibantu pasangan, perlu sebelumnya mengelola rasa bersalah dalam dirinya. Pasangan dapat menguatkan dan meyakinkannya bahwa infertilitas ini bukan kesalahan siapapun.

Tiga, mendefinisikan masalah yang sedang dihadapi secara objektif. Contohnya : "Bukan keperempuanan (ataupun kejantanan) yang menjadi persoalan tetapi bahwa kami sebagai pasangan menginginkan kehadiran anak namun mengalami hambatan secara fisiologis. Kini saatnya kami mengupayakan dengan harapan dan optimisme meski kami juga menyadari secara penuh bahwa upaya ini dapat gagal." 


Empat, menetapkan sejak awal sejauh mana upaya-upaya medis yang ingin dilakukan dan jika gagal, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Dengan menetapkan sedari awal batas mereka, pasangan-pasangan ini umumnya akan lebih mudah berdamai dengan fertilitas ketika upaya-upaya sudah tidak berhasil. 

Lima, bekerja sama sebagai tim, dengan menopang jika salah satu sedang merasa ‘lemah’, dengan berbagi tugas seperti suami yang menelepon dokter untuk membuat janji temu sedangkan istri yang membuka amplop hasil tes ketika suami merasa tidak sanggup. Terlihat sebagai hal kecil, tetapi ternyata pembagian tugas-tugas semacam ini dapat saling menguatkan. 

Enam, tidak terobsesi untuk mencari waktu yang ‘tepat’ untuk bercinta. Mereka memahami bahwa obsesi ini dapat membunuh gairah. Meski ada kegiatan bercinta yang dijadwalkan, mereka tetap melakukannya pada waktu-waktu yang lain tanpa mereka rencanakan. Mereka menjaga agar hubungan tidak menjadi mekanis dan melihat pasangan tetap sebagai orang yang dengannya ia jatuh cinta, bukan semata sebagai rekan untuk memiliki keturunan. 

Tujuh, meluangkan waktu untuk menikmati kebersamaan, seperti pergi makan malam, mengunjungi tempat wisata tertentu, atau sekedar menonton televisi di rumah. Mereka juga tidak ragu untuk mencoba hobi baru bersama, yang sebelumnya tidak terpikirkan. Hasilnya adalah mereka menikmati waktu bersama, menemukan teman-teman baru, dan mengembangkan keterampilan baru (bersama ! ?). 

Delapan, terbuka untuk mengungkapkan semua yang dirasakan terkait dengan persoalan ini. Laki-laki hendaknya tidak menganggap diri lemah jika membagikan isi hati mereka. Ketika suami menceritakan kekhawatiran, keputusasaan, kesedihannya dll kepada istri, istri akan menyadari bahwa persoalan infertilitas ini bukanlah persoalannya sendiri, bahwa ada pasangannya yang merasakan hal yang sama dan juga butuh dikuatkan. 

Sembilan, saling mengingatkan bahwa yang utama dan yang pertama adalah kehidupan berpasangan itu sendiri. Ketidakhadiran anak dalam relasi ini tidak menandakan matinya relasi. 

Sepuluh, membuang jauh-jauh ide bahwa infertilitas adalah hal tabu atau memalukan. Mereka tidak menarik diri dari lingkungan atau menutup diri dari pertemanan. Dengan santai, mereka berani mengatakan, “Ya kami sedang mengikuti program kesuburan, tolong doanya ya.”  

Tentu mereka tidak mengumbar persoalan pribadi ke mana-mana. Tetapi maksudnya di sini adalah mereka mau dan berani membicarakan apa yang mereka rasakan terkait dengan masalah ini dengan sahabat, keluarga, ataupun kelompok dukungan yaitu perempuan/laki-laki/pasangan yang mengalami hal yang sama. 

Harus diakui, kebanyakan di antara mereka menemukan bahwa kelompok dukungan lebih membantu dibandingkan sahabat/keluarga yang sering kali memberikan komentar-komentar pribadi yang kurang empatis. Namun ada pula yang beruntung menemukan dukungan positif dari orang-orang terdekat. 

Saling berbagi dengan mereka yang sedang merasakan tekanan, kegelisahan, kekecewaan, kesedihan dan kemarahan yang sama dapat menjadi salah satu cara penyaluran emosi-emosi ini. Dalam kelompok dukungan biasanya juga ada yang sudah melewati masa-masa ini, yang dapat menguatkan mereka yang masih dalam pergumulan. 

Seringkali dengan hanya menemukan teman-teman dengan masalah yang ‘sama’ sudah dapat menjadi sebuah bentuk dukungan. Mereka jadi belajar bahwa ada pasangan lain yang mungkin sudah melewati perjuangan yang lebih ‘berat’ dari mereka. Hal ini membantu mereka untuk melihat persoalan mereka secara proporsional. 


Sebelas, bersama-sama melakukan refleksi diri. Masing-masing menilai ulang apa yang sebenarnya diinginkan dalam hubungan ini. Sungguhkah kehadiran anak? Untuk apa? Untuk melanjutkan keturunan? Untuk sekedar memenuhi tuntutan sosial bahwa setelah menikah memang harus punya anak? Untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri karena merasa belum menjadi perempuan jika belum punya anak, bahwa tidak menjadi laki-laki ketika sperma ditemukan kurang berkualitas? 

Mohon maaf jika pertanyaan-pertanyaan ini terdengar tajam tetapi dengan mengajukan sendiri pertanyaan-pertanyaan ini, mereka berhasil mendefinisikan ulang tujuan mereka berumah tangga. Selanjutnya mereka siap untuk melihat maju ke depan, memikirkan langkah-langkah selanjutnya seperti adopsi atau menikmati hidup tanpa anak. 

Dua belas, mereka menyibukkan diri dalam aktivitas-aktivitas kemanusiaan. Bukan semata untuk mencari kegiatan agar melupakan masalah yang mereka alami. Tetapi dengan membantu orang lain yang kesusahan, mereka mampu melihat persoalan mereka secara lebih proporsional bahwa dalam dunia ini ada begitu banyak penderitaan yang mungkin jauh melebihi penderitaan yang mereka alami. 

Tiga belas, mereka berkreasi seperti menciptakan blog khusus tentang infertilitas, mendirikan asosiasi yang mempertemukan orang-orang dengan masalah sama, atau berkarya di bidang lain yang tidak ada kaitannya dengan infertilitas. 

Empat belas, mereka menganggap infertilitas ‘hanya’ sebagai ‘satu’ masalah dalam rumah tangga mereka sebagaimana umumnya dalam rumah tangga lain. Maksudnya setiap rumah tangga ada masalahnya, dan jika memang ‘infertilitas’ adalah masalah yang harus mereka hadapi, mereka menerimanya dengan ikhlas…. 

Keikhlasan yang sungguh menyentuh hati saya…. Saya doakan dengan tulus agar rekan-rekan yang sedang bergumul dengan persoalan ini diberi keikhlasan dan kekuatan. 

Artikel Terkait