2 tahun lalu · 82 view · 5 min baca · Agama 39915.jpg
google

Berserah pada Massa Barbar

Ini printer servisan, bukan pencurian. Takut dibakar hidup-hidup”

“Ini galon pelanggan, bukan galon curian”

“TV servisan, bukan tv curian”

Meme ini beredar luas sebagai tanggapan sekaligus sindiran atas kasus pembakaran hidup-hidup seorang pria yang dituduh mencuri amplifier musala. Muhammad Aljahra alias Zoya, tewas dihakimi warga di Kampung Muara Bakti, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, pada Selasa, 1 Agustus 2017 lalu. Selain dikeroyok, tubuhnya dibakar massa. 

Zoya dikeroyok usai diduga mengambil amplifier di Musala Al-Hidayah yang berada di Kampung Cabang Empat, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Pria malang ini dituduh maling. Hingga kematiannya yang tragis tak mampu dibayangkan sang istri. Mungkin juga untuk keturunannya yang sedang dikandung sang Ibu. 

Indonesia berhutang sejarah yang tidak baik bagi jabang bayi di rahim ibunya itu. Ia akan bertanya suatu saat nanti, bagaimana kematian ayahnya, bagaimana ia bisa dibunuh begitu keji, dan dimana negara saat warganya teraniaya? Dimanakah debar atas nama kemanusiaan? Tidakkah hati nuraninya membisikkan jika yang dipanggang itu adalah manusia, seorang ayah, seorang suami?

Kalimat-kalimat sindiran ini disertakan pada barang-barang yang akan diservice atau hendak dikembalikan pada pelanggan. Tukang service keliling juga tukang-tukang antar barang terpaksa melakukan ini agar terhindar dari prasangka dan terhindar dari api neraka yang didapatkan dengan mudah di dunia. 

Kehadiran meme ini memberi isyarat bahwa negeri ini dipenuhi orang-orang dengan prasangka. Ini membuat masyarakat ketakutan dan dihinggapi cemas. Prasangka ini begitu liar menyudutkan seseorang. 

Dituduh atau difitnah adalah hal yang paling kejam. Apalagi sebelum diberi kesempatan untuk menjelaskan duduk perkara, seseorang harus meregang nyawa. Bukan kali ini saja, seorang pria harus tewas karena dibakar hidup-hidup. Warga yang dipenuhi amarah kadang tak menjalankan sisi kemanusiaannya. Prasangka yang memenuhi benak harus dituntaskan dengan caranya masing-masing.

Manusia Barbar yang Masih Berkeliaran

Sekelompok warga membakar begal motor di Pondok Jaya, Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, Selasa 24 Februari 2015. Korban merupakan satu dari empat pelaku begal yang beraksi di kawasan tersebut. Satu pelaku tewas dibakar massa, sisanya masih memeiliki nasib baik meski harus berakhir di penjara. Kejadian serupa juga pernah berlangsung di Pamekasan, Madura. 

Warga yang tersulut amarah karena pencurian sepeda motor di Desa Karangan Badung, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, Madura, pada 22 Mei 2017 langsung menangkap pencuri itu dan langsung diikat sebelum akhirnya dibakar hidup-hidup. Kasus main hakim sendiri itu, terjadi lantaran petugas lambat datang ke tempat kejadian perkara.

Kisah lainnya yang turut menjadi data sejarah bahwa main hakim sendiri di negeri ini belum sepenuhnya berakhir. Maret lalu seorang terduga pencuri sawit tewas dihajar massa di Muarojambi. Bulan selanjutnya, seorang remaja kelas 3 SMP tewas dikeroyok massa di Batam setelah dituding mencuri burung. Di Asahan, Juni lalu, seseorang tanpa identitas diteriaki maling kemudian dikeroyok hingga tewas.

Kasus main hakim sendiri yang menewaskan banyak orang, ada pula hitungan nyawa nyaris tewas, belum lagi yang dikeroyok luka parah, apakah ini bukti demokrasi yang sesungguhnya? Ketidakberdayaan hukum untuk mengadili seadil-adilnya apakah akan tetap menjadi alasan membenarkan perilaku yang bahkan hewan pun masih memilih tidak melakukannya. 

Bagaimana jika yang dituduhkan itu sama sekali tak beralasan, sama sekali tidak benar, pada siapa lagi warga mengadu tentang arti kemanusiaan itu sendiri? Orang-orang berpengaruh yang merasa memiliki kekuatan selalu menekan dengan kata-katanya. Mereka akan memprovokasi yang lainnya untuk melakukan hal-hal yang lebih kuat dari hukum. 

Ya...mereka menjelma seolah lebih baik dari hukum. Mereka merasa perlu memberi efek jera bagi yang dituduh pencuri, begal, pembuat onar, bahkan mereka bisa menyamai Tuhan untuk mencabut nyawa seseorang sewaktu-waktu.

Masalah main hakim sendiri dalam menghadapi persoalan kemanusiaan tidak bisa dibiarkan. Pemerintah harus tegas agar di perkotaan maupun di pedesaan tidak menerapkan hukum rimba yang sama, sewenang-wenang, terlalu mengedepankan amarah, hingga setiap yang tertuduh bisa dibakar hidup-hidup. Bukankah kita sudah merdeka? Mengapa masih ada hukum rimba? J

ika persoalan ini tidak jelas, berapa banyak lagi nyawa yang harus dibayar? Bisa jadi mereka yang memiliki kekuatan penuh bisa mengolok-olok musuh dengan politiknya yang busuk dan menghilangkan nyawa musuh dengan jalan politik kotor. Bangsa Indonesia pernah begitu brutal dalam sejarahnya. 

Tahun 1965, penuduhan dan pembunuhan massal dilakukan untuk melindungi koloni. Siapa yang kuat akan menjadi penuduh dan yang tertindas akan dituduh. Seolah saat itu tak ada kuasa Tuhan. Apakah akan mengulang hal yang sama?

Kita tidak sedang hidup di rimba. Meski hukum belum sempurna, namun memenuhi prasangka dengan amarah apalagi pembakaran hidup-hidup sungguh di luar kemanusiaan yang kita anut.

Anak-anak menjadi Saksi Kebrutalan

Pembunuhan sadis dan disaksikan banyak manusia dewasa begitu viral di media sosial. Yang melihat videonya akan langsung mengutuk para pelaku. Bukankah pembakaran ini sia-sia? Apa yang bisa kembali saat Zoya dibakar, kecuali hilangnya rasa kemanusiaan yang diklaim hanya dimiliki oleh mahkluk yang benarama manusia. 

Bukan hanya yang menyiram bensin dan menyulut api lalu dilemparkan ke tubuhnya. Tapi juga para penonton dewasa dan yang paling mengerikan tukang video yang dengan upaya tak bersalahnya mengambil gambar MA yang merintih kesakitan dan kepanasan tanpa rasa bergidik dan tidak mencegah kebrutalan ini. Di antaranya banyaknya manusia dewasa yang melihat, mereka, juga mengamati kekejaman itu, apakah tidak ada yang berusaha menghentikan? Atau mereka sungguh sepakat bahwa kematian yang paling pantas untuk menunjukkan kemanusiaan? 

Coba amati lagi video pembakaran yang disaksikan secara terang, secara nasional ini juga disaksikan oleh anak-anak. Apakah hukum seperti ini yang akan diwariskan? Siapa yang dituduh mencuri akan selesai dengan membakarnya hidup-hidup? Anak-anak yang melihat video itu dibuat akan merekam dengan jelas bahwa tindakan kejam dibenarkan oleh kemanusiaan itu sendiri.

Ulah massa barbar ini harus dihentikan. Massa yang buas dan liar sama sekali bukan warisan. Kemanusiaan harus menjadi landasan utama.

Merujuk keterangan sejumlah saksi mata, Zoya dibakar saat masih bernyawa, di atas got, di sekitar beberapa gerobak penjaja makanan yang buka jelang sore. Seorang pemilik toko bangunan di depan lokasi itu menyebut tak berani menyaksikan kejadian tersebut. Lokasi pengeroyokan dan pembakaran massal terhadap Muhammad Al-Zahra tidak ditutup garis polisi. 

Terdapat bekas noda hitam api di got tempat kejadian. Menurut saksi itu, amuk massa memuncak karena mendengar ada yang berteriak maling motor. Menurutnya, jika massa mengetahui barang yang diduga dicuri hanya pengeras suara, Al-Zahra tidak akan dibakar hidup-hidup. Nyawa seharga 200 ribuan. Apakah harga kemanusiaan juga tak lebih dari 200 ribu?

Jika masih percaya hukum dan perlindungan HAM, pelaku barbar yang mengandalkan debar harus diadili seadil-adilnya. Undang-Undang no. 39 tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia pasal 4 dan 33 ayat (1) menyebutkan

Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak-hak manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan keadaan apapun dan oleh siapapun.

Sedangkan pasal 33 ayat 1 tertulis: Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan, penghukuman, atau perlakuan yang kejam, tidak manusiawi, merendahkan derajat dan martabat kemanusiaannya

Dari kedua pasal tersebut bisa disimpulkan para pelaku kriminal atau pelanggar hukum juga memiliki hak asasi manusia (HAM). Jadi perbuatan main hakim sendiri itu jelas melanggar HAM. 

Ini negara hukum. Meski hukumnya kadang tak berpihak, bukan berarti seseorang bisa dengan bebas menghilangkan nyawa orang lain. Siapa pun yang melakukan hukum rimba tanpa basa-basi, maka ia wajib dihukum seberat-beratnya. Ingat, Indonesia bukan hutan belantara yang ditunggui binatang buas maupun binatang-binatang lainnya. 

Untuk apa jadi manusia jika ujungnya harus tetap berlaku bak binatang? Sekali lagi didengungkan Fiat Justitia Ruat Caelum: Keadilan harus ditegakkan meskipun langit akan runtuh~ (Lucius Calpurnius Piso Caesoninus).

Artikel Terkait