“Barang siapa yang mempunyai sumbangan pada kemanusiaan, dia tetap terhormat sepanjang zaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan secuwil pun, namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” - Pramoedya Ananta Toer.

Belakangan ini, bangsa tengah disuguhkan banyak sekali panggilan kemanusiaan dari berbagai media khususnya pada isu-isu kebencanaan. Dalam sekejap saja paska kejadian gempa dan tsunami yang maha dahsyat telah menyebar hingga kamar kost saya yang berada dikawasan barat Pulau Jawa. Ya, terasa mudah memang, apalagi sekarang telah memasuki era disrupsi dimana perolehan informasi tidak lagi susah payah didapat melalui surat kabar atau berita di radio yang sudah tersimpan usam di dalam lemari berdebu.

Sejak terjadinya kasus bencana gempa bumi di kawasan timur Indonesia dari Lombok Nusa Tenggara Barat hingga Palu Sulawesi Tengah, terhitung ratusan panggilan volunteer hingga postingan penggalangan dana dan kebutuhan pokok lainnya telah memenuhi dinding akun Line, Instagram dan Facebook saya. Dalam hitungan detik saja, notifikasi telepon genggam berdering hingga terasa penuh dan jenuh. Hampir semua lembaga kemanusiaan menyuguhkan hal yang sama, panggilan volunteer dan amal.

Begitu antusiasnya berbagai aksi baik lembaga swadaya masyarakat maupun dukungan pribadi hampir berhasil membuat hati saya terenyuh. Bahkan ketika lembaga-lembaga yang masih terbilang baru sempat saya dengar gaungnya. Tujuannya sama saja, yaitu berupaya menarik simpati masyarakat sasaran untuk bergabung dan tepa salira bersama. Nyatanya, benar sekali bahwa hati ini mudah sekali berspekulasi. Prasangka buruk mulai menggrogoti pemikiran bahkan menghambat aksi.

Bukan karena alasan siapa penggagasnya, namun hilangnya motivasi untuk proaktif menjadi sasaran empuk pada hilangnya gairah menjadi volunteer dan penyumbang amal. Saya pribadi sebagai seorang yang masih memiliki status mahasiswa, sering sekali bimbang, disaat kemampuan saya masih dibawah pemikiran idealis. Ingin rasanya menjadi “pahlawan”, namun kenyataannya masih saja menjadi katak dalam tempurung.

Terdapat dua hal yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini. Pertama, bagaimana respon mahasiswa ketika begitu banyak permintaan jasa maupun material yang  muncul setiap detiknya di media. Kedua, mengenai status mahasiswa yang sangat menghambat pergerakannya untuk memenuhi permintaan tersebut. Namun saya jamin, tulisan ini bukan semata-mata untuk kelompok mahasiswa saja. Jika anda seorang politikus, pekerja kantoran, PNS, bahkan wiraswasta sekalipun saya kira masih sangat sejalan dengan tulisan ini.

Namun, sebelum saya mengungkapkan lebih jauh, saya ingin bercerita sedikit mengenai latar belakang pendidikan saya. Fokus kuliah saya adalah bagaimana menyejahterakan masyarakat tanpa memandang ras, agama dan suku bangsa. Saya akui, kampus dimana saya belajar ini sangat toleran terhadap perbedaan tersebut. bahkan ketika dosen saya menyampaikan materi dikelas, tidak pernah sedikitpun saya dengar kata-kata memojokan suatu kelompok tertentu hingga memasuki tingkat ketiga ini.

Faktanya memang benar, berbagai teori yang saya catat dan (memang) hampir semua mata kuliah yang saya geluti itu sangat relevan dengan tujuan awal saya memasuki kuliah ini. tentu saja, saya mendapatkan bagaimana cara menangani permasalahan dalam setiap kelompok rentan, seperti kemiskinan, kesehatan, pendidikan, bahkan isu kebencanaan. Selain itu, berbagai perspektif dan level sasaran juga saya pelajari, baik level mikro, mezzo, hingga makro.

Cerita ini bukan tanpa hakikat, saya hanya sedikit gerah dan resah. Ketika menurut logika berfikir saya bahwa anak humaniora harus memiliki jiwa seorang super hero. Sederhannya, memiliki insting menolong untuk melihat yang ditolongnya tersenyum bahagia. Anda boleh menyebut saya terlalu idealis atau humanis, tapi begitulah kenyataannya, kita hidup sebagai mahluk sosial, idealnya ketika terdapat suatu masalah kemanusiaan tentu saja hati ini bergetar dan merasa terpanggil.

Pada akhirnya, logika tak sepenuhnya sesuai tataran realita. Saya yakin, ribuan bahkan jutaan mahasiswa diluar sana masih banyak yang proaktif terhadap isu kemanusiaan ini. bahkan saya berani menjamin, masih banyak mental baja yang secara konkret mau berkontribusi dalam pengentasan masalah tersebut.

Jika boleh jujur, saya ingin mendeklarasikan perasaan saya kepada anda semua. Bahwa saya adalah mahasiswa yang gagal, sukses dalam akademis bukan berarti membuat bibir ini tersenyum lega. Namun, hati ini justru masih enggan untuk terbuka menerima keadaan, ketika tujuan belum sesuai kehendak, apa boleh buat?

Kembali lagi kepada topik, saya rasa hilangnya motivasi saya merupakan akumulasi dari hilangnya jiwa rekan-rekan seperjuangan dilingkungan kampus. Memang benar, tidak semua orang stagnan menyikapi permasalahan yang ada. Namun tidak sepenuhnya juga saya membenarkan bahwa semuanya mengambil tindakan ketika mendengar berita disana sini khususnya menyangkut masalah panggilan kemanusiaan.

Itulah tataran realitanya, ketika media dengan mudah menjadi sarana menebar informasi, begitu mudah pula kaum millenial menekan tombol share kedalam forum diskusi atau timeline-nya. Kala itu, mudah pula bagi para silent maupun non-silent reader untuk menilai konten yang dibacanya.

Begitu banyaknya informasi yang datang baik panggilan volunteer maupun amal yang berasal dari lembaga kemanusiaan memunculkan spekulasi – spekulasi. Saya sempat berjam-jam mengamati setiap komentar dalam sebuah postingan. Memang, mayoritas dari mereka memberikan simpati dalam bentuk dukungan moral, namun terlihat juga ribuan like and share yang saya duga ini menjadi kelompok yang saya maksud sebagai “super hero” dalam tempurung. Ingin melakukan sesuatu, tapi terbatas pada status.

Kembali ke fokus studi saya, lagi-lagi saya memperhatikan fenomena sosial dimana informasi berupa panggilan kemanusiaan hanya sebatas diterima oleh mata dan berupa respon bela sungkawa. Panggilan-panggilan itu seringkali tidak sampai pada tugasnya. Namun inilah salah satu distraction yang saya maksud, dimanakah jiwa-jiwa bermental baja berada? Bukankah ini bagian dari implementasi ilmu yang sudah dielu-elukan itu?

Saya sadar memang, kita tidak harus seperti Bunda Teresa sang peraih nobel perdamaian tahun 1979 atas jasanya memperjuangkan hak kaum miskin. Atau seperti Desmond Tutu peraih nobel tahun 1984 atas sikapnya yang berani menentang rezim apartheid di Afrika Selatan hingga Ia dijadikan simbol pemersatu bagi semua pejuang kemerdekaan di Afrika. Atau bahkan ada harus menjadi seperti Nelson Mandela peraih nobel tahun 1993 yang dianggap berhasil mengakhiri rezim apartheid di Afrika bahkan harus rela dipenjara hingga 27 tahun agar praktik tersebut dihentikan.

Tidak saudara, bukan itu yang saya harapkan. Setidaknya, saya dan begitupun anda mengakui status ini sebagai beban amanat. Bukan sebatas hanya status yang saya miliki, namun apapun status anda saat ini, juga didalamnya tersimpan amanat. Jika anda sama sekali belum menyadarinya, coba refleksikan lebih jauh, siapakah kita?

Sederhananya, Kita semua ini bersaudara, bahkan ketika kulit saya dan anda berbeda warna, atau tuhan saya dan juga anda berbeda pula, kita tetap berada dalam satu negara bahkan di alam semesta yang luas ini. Maka dimanakah seharusnya kita ketika saudara kita membutuhkan pertolongan?

Lagi-lagi kembali kepada status, apakah yang dapat dilakukan? Peran kita terbatas pada kesibukan yang begitu padat, hari-hari harus berjibaku dengan berbagai tugas ini dan itu. Rasanya selama belum memasuki masa libur panjang, semua beban tidak mungkin untuk ditinggalkan. Bahkan ego dan realitas harus berperang terlebih dahulu untuk menentukan prioritas.

Pada akhirnya, pemikiran egois adalah pemenangnya. Benar, kita adalah super hero dalam tempurung, kemenangan adalah hal mutlak untuk pribadi. Saya dan anda barangkali masih banyak berspekulasi. “Masih ada pemerintah, Tim SAR, Menteri Sosial, banyak juga relawan yang mau bantu, toh gue juga kan masih mahasiswa, bentar lagi mau ujian, gak ada waktu ngurus hal begituan!” begitulah kiranya celoteh sang “maha” siswa.

Bertumpu pada status memang hal wajar, kita tidak bisa mengelak dari hal tersebut. kiranya saya pribadi mengerti demikian, setiap status memiliki konsekuensi tersendiri. Namun hal yang disayangkan adalah kalau harus berlindung kepada status, menggantungkan beban pada orang lain, maka sudah tentu status itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk menahan beban amanat.

Setidaknya, tulisan ini mengarah pada satu hal, yaitu solidaritas. Setitik air hujan dapat melubangi batu yang kian kerasnya jika terus menerus dilakukan secara berkesinambungan. Begitu pun sama halnya dengan setitik kemufakatan dalam diri setiap individu dapat menggerakan jiwa-jiwa yang mati terbawa arus.

Arus informasi melalui media yang memiliki dua mata pisau. Gaungnya dapat dengan mudah menyentuh kaum-kaum millenial, beberapa orang justru tergerak untuk melakukan sesuatu yang diharapkan lembaga kemanusiaan dan kelompok rentan yang sedang menunggu. Disisi lain, diferensiasi informasi yang datang bertubi-tubi dapat membingungkan.

Kebimbangan dan prasangka akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi para elit kemanusiaan. Qualifikasi ideal yang seharusnya didapatkankan dengan mudah, telah hilang begitu saja karena melemahnya gairah dan motivasi. Terlebih mereka lebih suka bersembunyi dibalik status yang sangat dibanggakannya.

Solidaritas pada akhirnya telah menjadi obat bagi para jiwa-jiwa yang lemah. Setitik pun saya melihat tanda-tanda solidaritas itu muncul, demikian pula tingkat motivasi saya sedikit demi sedikit mencuat. Dukungan eksternal merupakan nyawa bagi para pencari jawaban seperti saya, mungkin juga anda. Walaupun memang saya menyadari betul bahwa work-life imbalance setiap orang berbeda-beda.

Lingkungan dimana kita berada merupakan aset penting yang berkontribusi pada aksi kita. Bukan hanya lingkungan fisik yang secara konkret terlihat, namun juga media sosial dimana kita beraktivitas tanpa batasan ruang dan waktu. Sekali lagi, ini hanya pandangan idealis seorang mahasiswa yang sedang berspekulasi atas kebimbangan dan keresahannya.