Namun tetap, suasana bersebatih masih kental terasa. Berkunjung sebagai keturunan orang yang terlahir di dusun Bateh, bakal tetap disambut penuh suka cita, berhias hawa nan sejuk, sungai berair bening, pepohonan rindang, selayaknya pesona alam poros Kopeng.


Lahir dan tumbuh besar di perkotaan, siapa nyana saya memiliki darah dan jiwa pedusunan.

Adalah dusun Bateh, desa Bawang, kecamatan Pakis, kabupaten Magelang, propinsi Jawa Tengah, negara Indonesia, telah mewariskan inti sari kelimpahan protein flora, fauna, mineral tanah, air dan gas ambien udara bebas.

Inti sari kimiawi alami itu lalu terangkum menjadi Deoxyribo Nucleic Acid (DNA), yang kemudian merumuskan Kode Genetik unik kepada Ribonucleic Acid (RNA), agar protein-protein dalam setiap sel dalam tubuh saya selalu bertumbuh dan berkembang.

Tak hanya memengaruhi sifat fisik, maka perilaku juga dipengaruhi oleh inti sari berkah alam, lingkungan, di mana seseorang berasal usul, baik langsung ataupun tak langsung.

Langsung jika dia terlahir di sana. Tak langsung jika salah satu atau kedua orang tuanya menurunkan DNA yang merupakan inti sari dari kelimpahan alam lingkungan yang terekam kuat dalam bentuk Kode Genetik.


Lereng Merbabu.

Dusun Bateh, sering diucapkan sebagai Mbateh sebagaimana lidah orang Jawa yang menambah kesan pengucapan berhuruf 'm' sebelum huruf 'B'.

Bateh sendiri berasal dari kata Sebatih yang bermakna satu saudara sehati yang tinggal dalam satu atap.

Makna tersebut mewakili tatanan berkehidupan warga dusun Bateh yang sejak dulu masyarakatnya saling berinteraksi sebagaimana satu saudara yang tinggal dalam satu pengayoman, dengan mata pencaharian sebagai petani, peladang juga pedagang.

Berada di lereng gunung Merbabu, dusun Bateh berhawa sejuk, berciri khas pemandangan alam yang berhalimun setiap pagi hingga jelang matahari terbit. Alam lingkungan yang begitu memikat elok, sejauh mata memandang.


Jalan Tanah.

Sebagai dusun, maka pembangunan Bateh cukup terlambat. Baru tahun 1990-an awal, listrik mulai masuk di dusun ini, memberikan penerangan lampu di malam hari bagi penduduknya, juga kebutuhan hidup lainnya yang memerlukan pasokan listrik, seperti pompa air.

Ketika saya masih kecil pada pertengahan tahun 1970-an, sewaktu liburan sekolah, Bapak dan Ibu mengajak saya dan kakak saya ke dusun Bateh, berkendaraan umum, bus Baruna namanya.

Sampai di jalan masuk dusun Bateh yang masih berupa tanah, kami sudah disambut sanak saudara dan kerabat, yang lalu bersuka cita membantu membawa tas perbekalan juga oleh-oleh dari kota. 

Mereka sudah siap di pintu masuk dusun, berbekal informasi dari kiriman surat sejak 3 hingga 5 hari sebelumnya, yang mengabarkan bahwa kami akan bertandang ke kampung halaman.


Rumah Kayu.

Cukup jauh berjalan mulai dari gapura pintu masuk dusun Bateh, menuju ke rumah Pakde, kakak Bapak saya. Mbah Kakung dan Mbah Putri dari pihak Bapak saya, sudah berpulang lama waktu itu.

Selama meniti sepanjang jalan tanah perkampungan, banyak sekali kerabat tetangga yang ramah riang menyapa. Serasa kami adalah sekeluarga dusun asli yang seolah menjadi tamu dari jauh, begitu lama tak singgah pulang ke kampung halaman.

Rumah-rumah di dusun Bateh saat itu kebanyakan terbuat dari kayu dan anyaman bambu, berpagarkan tanaman pendek, yang dari depan rumah mereka seringkali terlihat sumur-sumur timba di bagian pekarangan belakang.

Beberapa rumah terlihat punya halaman luas berlantai semen, sebagai tempat untuk menjemur gabah.

Rumah Pakde cukup luas, berupa bangunan kayu khas rumah adat Jawa yang ditopang oleh beberapa kayu penyangga. Di dalam ruangan utama rumah terdapat dua hingga tiga gebyok sebagai penyekat untuk memisah ruang tamu, ruang makan dan lorong menuju dapur.

Dalam ruang tamu terdapat satu set kursi dan meja terbuat dari kayu, yang bagian anyaman rotannya telah membentuk cekungan dudukan juga sandaran. Pertanda rumah Pakde sering kedatangan tamu.

Suasana rumah Pakde memang asri. Terdapat jejeran jendela kayu yang sebagian terbuka lebar di sepanjang sisi depan dan samping kiri serta kanan. 

Sebuah lampu Petromax masing-masing tergantung di ruang tamu dan teras. Bale-bale kayu besar ada dalam ruang tamu dan teras depan buat jagongan, bercengkerama bersama tamu, kerabat dan keluarga.

Aroma kayu bakar menghias tipis diantara sejuknya hawa yang mengalir bebas ke seisi rumah.


Masakan De Ni.

Senang Pakde dan Bude menyambut kedatangan kami. Semua saudara Bapak juga berkumpul di ruang tamu rumah Pakde, menyambut kami.

Bapak saya anak ketujuh dari delapan bersaudara. Selain Pakde, juga ada tiga saudara Bapak yang menetap tinggal di dusun Bateh. Jadi, saya punya banyak Pakde dan Bude di dusun Bateh. Pakde pemilik rumah yang kami kunjungi adalah anak tertua dari delapan bersaudara.

Sementara Bapak tengah asyik bercengkerama dengan kakak-kakak sesaudara di ruang tamu, maka Ibu menemani saya dan kakak saya untuk menikmati hidangan berupa masakan Bude-bude saya yang melimpah di meja makan. 

Selalu dengan riang, istri Pakde tertua menjelaskan satu persatu masakan yang terhidang itu hasil olahan oleh siapa saja. 

Di atas meja makan telah berjejer aneka masakan hangat mulai opor mentok, telor ayam dadar, ayam bakar, lodeh ontong pisang, urap-urap, oseng kembang pepaya, baceman tahu tempe dan paru, hingga rendang daging.

Tercium aroma sangit pada setiap masakan yang terhidang, pertanda semuanya dimasak menggunakan api kayu bakar. 

Saya dan kakak saya waktu itu masih duduk dibangku sekolah dasar, masih belum tertarik menyantap masakan favorit Ibu dan Bapak yakni lodeh pedas dan urap-urap. 

Kami berdua pun lebih memilih lauk daging dan paru, hasil masakan Bude saya yang asli orang Sumatera Barat, istri Pakde saya yang keempat, yang kami panggil De Ni, singkatan dari Bude Uni.

Tak sendiri kami menikmati sajian. Kami juga ditemani sepupu-sepupu sepantaran dan beberapa diantaranya sudah lebih berusia remaja. Ada beberapa diantara mereka yang saya belum mengenalnya. 

Kedatangan kami menjadi waktu yang tepat untuk saling perkenalkan siapa saja yang menjadi saudara yang sekakek juga senenek, di dusun Bateh.


Dua Belik.

Usai menikmati masakan olahan kolaborasi para Bude, kami pun lalu keluar halaman rumah Pakde untuk bermain dengan para sepupu, menghabiskan sore berkeliling kampung dusun Bateh. Sekalian, kami membawa bekal handuk, sabun dan baju ganti bersih.

Riangnya tak alang kepalang. Kami berjalan menyusur jalan tanah menanjak dan menurun, melewati barongan bambu, hingga sampai ke sungai dangkal yang mengalir jernih diantara bebatuan. 

Tak jauh dari sungai, berada di atas tanah yang lebih rendah dan tersembunyi di antara rimbun pepohonan dan bambu, terdapat tempat pemandian dan mencuci untuk umum yang disebut Belik. 

Ada dua Belik yang dipisah saling berjauhan. Belik Kakung, tempat mandi pria dan Belik Putri tempat mandi wanita. Bening air Beliknya selalu mengucur dari bilah bambu panjang berwarna kekuningan, berlumut. 

Kami pun mandi di Belik Kakung. Airnya begitu dingin berasa merasuk hingga tulang belulang, berasa kesat di kulit. Sekujur badan pun berasa lebih bersih.

Puas bermain di sekeliling kampung hingga bermain air di sungai dangkal, kami pun pulang balik ke rumah Pakde. Suasana perjalanan terasa lebih sejuk dan nyaman, karena badan bersih segar sehabis mandi di Belik.


Kehangatan Petromax.

Malam hari seusai sembahyang Isya, di halaman teras rumah Pakde banyak orang berkumpul. 

Tiga hingga empat lampu Petromax menyala terang menebar warna putih kekuningan, mengeluarkan suara mendesis dan asap tipis pada lekukan logam di bagian atasnya. Listik memang belum mengalir di dusun Bateh waktu itu.

Penerangan malam hari mengandalkan Petromax di area tamu ataupun teras. 

Termasuk penerangan dalam bentuk nyala api sentir, ublik -berupa bakaran api dari sumbu kain yang menyambung dengan botol kaca berisikan minyak tanah- di dapur, api lampu semprong yang menempel tembok di kamar-kamar tidur, juga di pekarangan belakang dekat sumur.

Orang-orang pria yang berkumpul, semuanya adalah saudara dan kerabat Bapak, yang siap untuk jagongan, mengobrol hangat bertukar pengalaman dan kabar, hingga larut malam. Panas lampu Petromax cukup membantu menebar hangat ke tempat sekitar.

Pakde, kakak sepupu, saudara dan kerabat semuanya duduk nyaman di tempatnya masing-masing. Kebanyakan dari mereka mengenakan kopyah dan berkemul sarung goyor yang bertekstur lembut, tebal dan berukuran besar.

Kopi panas dalam ceret, kukusan kacang tanah, jagung, singkong dan ubi, lalu tetel goreng juga tape ijo yang dibungkus daun pisang, menjadi hidangan pendamping jagongan. Kehadiran cemilan desa tersebut membuat suasana lebih gayeng.

Tak lama saya bertahan. Karena capek setelah perjalanan seharian, rasa kantuk pun datang mendera. Terang hangat cahaya Petromax berpadu hawa dingin dan suara obrolan pria dewasa bersuara berat pun lamat-lamat menjadi melodi pengantar tidur di bale-bale rumah Pakde.


Poros Kopeng.

Lebaran tahun 1999, saya sempat bertandang lagi ke dusun Bateh. Suasana mulai berubah. Jalan gapura masuk dusun Bateh tak lagi berupa tanah, melainkan telah diperkuat bebatuan, makadam. Termasuk poros jalan sepanjang perkampungan.

Setiap rumah telah memiliki kamar mandi dan tempat cuci, tak lagi mengandalkan keberadaan dua Belik, meski keduanya masih ada. 

Rumah-rumah pun sebagian sudah dibangun permanen, berdinding batu bata bersemen. Lampu-lampu penerangan di malam hari telah berganti dari Petromax ke lampu tabung neon ataupun bola lampu dop. 

Namun tetap, suasana bersebatih masih kental terasa. Berkunjung sebagai keturunan orang yang terlahir di dusun Bateh, bakal tetap disambut penuh suka cita, berhias hawa nan sejuk, sungai berair bening, pepohonan rindang, selayaknya pesona alam poros Kopeng.


Menahan Diri.

Semangat bersebatih rupanya tetap dipertahankan hingga generasi muda warga dusun Bateh. Acara syukuran seperti Megengan menyambut awal bulan puasa, dilaksanakan meriah, dihadiri warga mulai anak-anak hingga dewasa. 

Beraneka masakan rumahan dihampar dalam deretan panjang di atas tikar, juga daun pisang. Tiap orang, membawa makanan hasil olahan masakan rumah masing-masing, untuk di tempatkan di atas hamparan alas memanjang. 

Lalu mereka duduk berpisah dari masakan bawaannya, mengambil tempat lain untuk duduk menghadap masakan bawaan orang lain, tetangganya.

Mereka saling bertukar tempat dan bertukar masakan yang disunggi dari tenong-tenong besar. Apapun hidangan yang disajikan dan ditemui sebagai masakan yang tertukar, akan dihormati sebagai anugerah penuh kebersyukuran.

Ratusan orang warga dusun Bateh juga turut bahagia, larut dalam suasana Megengan, menikmati sore bersanding ratusan aneka masakan, jajanan juga buah-buahan. 

Mulai dari nasi tumpeng, nasi gurih, ayam panggang, daging masak lapis, rendang ala Jawa, sate ayam, sate sapi, gurami dan nila goreng, telor dadar, tahu tempe bacem, bakso sunduk, urap-urap, semangka, duku, pisang, jeruk, roti kukus, nogosari, ampyang hingga getuk.

Semua orang, baik pria dan wanita, mulai anak-anak, remaja hingga dewasa riang dalam kebersamaan, berdoa agar bisa menjalankan ibadah selama bulan puasa dan diberkahkan kesejahteraan.


Foto Suasana Megengan Dusun Bateh


Petang jelang Mahgrib, acara Megengan pun usai. Orang-orang kembali ke rumah masing-masing berbekal hidangan yang masih ada di hadapannya, sebagai berkat bagi orang-orang tercinta di rumah. 

Sekaligus mengabarkan keluarganya bahwa mulai esok Subuh sudah masuk hari-hari berpuasa sebulanan, melatih menahan diri dari perbiatan yang merugikan bagi diri sendiri, orang lain maupun lingkungan sekitar.

Selepas Maghrib, warga dusun Bateh pun menanti waktu bertarawih bersama. Satu kegiatan beribadah malam hari selama bulan puasa yang juga selalu dinantikan oleh anak-anak hingga remaja, dengan segala kenangan saat menjalankannya hingga kelak mereka dewasa.


Merasuk Jadi Kode Genetik.

Hingga kini, adab bersebatih warga Bateh, bersikap sebagai satu saudara yang terayomi dalam satu atap, masih dijaga turun temurun.

Alam lingkungan dusun Bateh yang demikian menyejukkan mata, menyehatkan raga dan menentramkan jiwa, punya andil besar dalam menebar benih-benih bersebatih. 

Bahkan, benih-benih tersebut terangkum sebagai inti sari Kode Genetik, yang tersemat dalam DNA pun RNA dalam sel-sel tubuh setiap warganya, lalu diwariskan pada setiap anak cucu keturunannya.

Semoga jiwa bersebatih terus menebar, menginspirasi manusia seisi bumi, menyadarkan betapa saling mengenal dan bersaudara adalah cara bijak memuliakan bumi, sebagai tempat satu-satunya bagi manusia bakal terayomi hingga akhir waktu nanti.