21 Mei 2019 kemarin merupakan salah satu hari bersejarah bagi Indonesia. 

Hari itu diumumkan bahwa Indonesia mempunyai pemimpin baru, Ir. H. Joko Widodo atau yang lebih akrab disapa Jokowi sebagai Presiden periode 2019-2024 dan Prof. Dr. K. H. Ma'ruf Amin sebagai wakilnya. Keduanya terpilih secara sah melalui pemilihan umum atau pemilu yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tentunya setelah hasil pemilu diumumkan menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Banyak pihak yang merasa senang karena jagoannya terpilih. Ada pihak yang merasa ikhlas meskipun jagoannya kalah. Namun banyak juga pihak yang tidak bisa menerima kekalahan jagoannya.

Hal ini juga terjadi pada lingkungan sekitar saya. Ada teman saya yang merasa senang karena 01 menang. Namun ada juga teman saya yang kesal karena kekalahan 02. Lalu bagaimana dengan saya?

Setelah hasil pemilu diumumkan, saya merasa campur aduk. Senang karena memiliki pemimpin baru. Sedih karena banyak yang tidak terima dengan hasil yang diumumkan KPU. Dan tentunya saya juga merasa cemas dengan nasib bangsa ini ke depannya.

Hasil pemilu kemarin tentunya tak luput dari peran media sosial. Banyak sekali tagar yang digunakan di media sosial untuk menyoroti hasil pemungutan suara, baik dari pendukung Jokowi maupun pendukung Prabowo. #RakyatTolakHasilPilpres menjadi salah satu tagar paling populer dengan lebih dari 12.000 cuitan. 

Rupanya tak sedikit teman-teman saya yang ikut berkomentar di media sosial mereka terkait hasil pemungutan suara. Mulai dari instastory, postingan Instagram, hingga status WhatsApp mereka dipenuhi dengan tulisan mengenai tanggapan mereka terkait hasil pilpres. 

Tentunya timeline media sosial saya dipenuhi oleh postingan teman-teman saya. Berbeda dengan teman-teman saya yang sibuk berkomentar dengan hasil pilpres, saya lebih memilih diam dan menerima keputusan KPU.

Keesokan harinya, tepatnya pada 22 Mei 2019, massa menggelar aksi damai di sekitar gedung KPU. Aksi berlangsung damai selama sekitar 45 menit. 

Dalam aksinya, massa menyuarakan kata-kata semangat dan persatuan usai pemilu. Namun sayangnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan aksi anarkis yang terjadi di beberapa wilayah Jakarta. Seperti di sekitar Polsek Gambir Jakarta Pusat dan di depan gedung Bawaslu, massa terlibat aksi saling serang dengan aparat keamanan.

Miris memang melihat mereka yang anarkis karena jagoannya kalah dalam pemilu. Yang lebih memalukan adalah saat saya tahu bahwa ternyata media luar negeri mengetahui hal ini. Bahkan media luar negeri juga menulis berita mengenai kasus pemilu rusuh yang terjadi di Indonesia kemarin. 

Tidak hanya sampai di situ, kabarnya pihak 02 melapor ke MK bahwa adanya kecurangan pada pemilu kemarin. Entah sampai mana kasus ini akan berlanjut. 

Saya sangat berharap kasus ini segera selesai. Tentu saya sangat merindukan keadaan damai seperti sebelum pemilu diadakan, dan saya yakin bukan hanya saya saja yang menginginkan kedamaian dan persatuan di Indonesia.

Untuk itu, marilah kita bersatu lagi setelah berkubu sekian lamanya. Mari menjunjung kembali nilai Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini kita sepelekan. Bukankah pelangi itu indah karena warna-warnanya yang berbeda? Namun yang perlu diingat, meskipun berbeda warna pelangi, tetap satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan. 

Sudah saatnya kita menerapkan kembali sila ketiga dari Pancasila, yakni Persatuan Indonesia. Banyak sekali cara yang dapat kita lakukan untuk menerapkan sila ketiga Pancasila. Salah satunya dengan menghormati perbedaan yang ada.

Selain itu, kita juga harus selalu mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. 

Menurut saya, apabila kita melihat kasus yang dapat menyebabkan perpecahan, langkah yang harus kita ambil, yaitu mendamaikan mereka yang bermusuhan. Menjaga persahabatan dan persaudaraan dengan sesama juga merupakan salah satu hal penting yang mesti kita jaga demi keutuhan dan kesatuan Indonesia.

Mari kita kesampingkan ego yang ada pada diri kita saat ini. Mulailah peduli dengan kepentingan banyak orang. Sebab kalau bukan kita yang bertindak, maka siapa lagi? Bukankah dulu Indonesia jaya karena rakyatnya bersatu mengusir bangsa asing yang menjajah negeri ini?

Apakah kalian rela apabila Indonesia terpecah belah lagi seperti pada masa penjajahan dulu? Sungguh, saya sangat tidak rela jika hal ini benar-benar terjadi. Untuk itu, mari kita bersatu kembali. Jangan jadikan perbedaan yang ada di antara kita sebagai pemecah belah.

Terimalah hasil yang sudah diputuskan, meskipun hasilnya tidak sesuai dengan harapan kalian. Sebab hidup tidak akan selalu berpihak pada kita, adakalanya harapan kita tidak terwujud. 

Mari bersatu kembali, demi Indonesia yang maju. Demi Indonesia yang damai, demi masyarakat yang makmur. Sesungguhnya saya, anda, dan mereka berada dalam satu kesatuan. Sebab, kita satu Indonesia.