2 tahun lalu · 4696 view · 3 menit baca · Budaya 1408b.jpg
Ilustrasi: indonesia.ucanews.com

Bersatu dalam Keberagaman

Isu-isu keberagaman masih sangat sering jadi sentral soal, terutama dalam debat. Bukan karena sukarnya manusia menembus wilayah ide di luar konteks subjektivitasnya, melainkan juga karena maraknya penghakiman atas nama kebenaran absolut.

Padahal, tiap orang punya konsep kebenaran masing-masing. Ia absolut hanya bagi siapa yang mengimaninya, tetapi relatif ketika berada di ruang publik.

Seringnya sikap egois itu muncul di ranah publik, tak sedikit memunculkan konsekuensi yang sebenarnya tak harus terjadi. Oleh karena seringnya mengabsolutkan kebenaran padahal ia bersifat relatif, lahirlah beragam macam konflik atasnya.

Konflik-konflik ini tentu tak hanya mengancam integrasi kita sebagai umat, melainkan sekaligus menjadi batu sandungan kita sebagai bangsa dalam mengisi cita-cita kemerdekaan bersama: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Secara historis, Indonesia tidaklah dibangun berdasar satu paham atau golongan tertentu. Ia tidaklah berdiri di atas fondasi kebudayaan satu kelompok. Tetapi jauh berlawan darinya, negeri plural ini ber-ruang dan ber-waktu dalam konteks perbedaan-perbedaan yang ada di masing-masing realitas masyarakatnya.

Bahwa keberagaman atau pluralitas organisme hidup itulah yang jadi pemicu dasar lahirnya bangsa, yang hari ini kita kenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ya, Indonesia ada dalam konteks keberagaman masyarakatnya. Tak hanya berbeda dalam hal suku bangsa, budaya, bahasa, bahkan juga warna kulit, tetapi juga berbeda dalam hal keagamaan dan atau aliran kepercayaan yang dianut masyarakat di masing-masingnya.

Dan demi mencapai integrasi umat, yakni persatuan dan kesatuan sebagai misi dari cita-cita kemerdekaan, bersatu dalam perbedaan-lah yang kemudian terpilih sebagai keniscayaan. Sebuah ketepatan dalam berpikir para pendiri bangsa kita yang meski hampir nyaris terlupakan itu.

Memaknai Keberagaman

Berbeda tak berarti harus berpisah; berbeda tak berarti tak dapat untuk bersatu; bahwa berbeda harus kita sikapi dalam konteks ke-gotong-royong-an. Upaya ini harus kita tujukan demi mencapai tujuan bersama dalam ruang kebersamaan bernama Indonesia. Dasar berpikir seperti inilah yang kemudian menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Tanah Air Nusantara ini: berbeda-beda tetap satu jua.

Tentu bisa dipastikan bahwa hampir seluruh warga masyarakat paham akan makna semboyan tersebut. Hanya saja, maraknya tindak kekerasan atas nama golongan tertentu, diskriminasi berujung intimidasi, sebut misalnya kasus yang pernah dan mungkin sampai hari ini menimpa kelompok Ahmadiyah dan Syiah, juga yang menimpa mereka-mereka yang berpaham Komunisme atau Liberalisme, jelas memunculkan tanda tanya yang sangat besar.

Benarkah Indonesia masih menjadikan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai satu landasan hidup dalam berbangsa dan bernegara? Oleh karena hadirnya tindak kekerasan semacam itu, memaksa kita untuk me-redifinisi dan bahkan mendekonstruksi kembali cara pandang kita terhadap makna keberagamaan.

Secara esensi, keberagamaan yang berakar makna dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika, sungguh tak hanya berakhir sebagai seruan bersatu dalam perbedaan. Lebih jauh, esensi darinya tersebut juga meniscayakan adanya jiwa toleransi: sikap saling harga-menghargai.

Betapa pun tak sukanya kita atas suatu pandangan hidup tertentu, tak berarti bahwa pandangan hidup kitalah yang lebih benar dan harus diberlakukan dalam konteks kehidupan bersama di ruang publik. Bahwa menurut kita mungkin iya, tapi belum tentu berlaku bagi semua.

Sebagai langkah penerangan, kita patut merujuk pandangan hidup yang pernah tercetus dari benak seorang Mukti Ali—Guru Besar IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan mantan Menteri Agama Republik Indonesia. Yang bisa kita rujuk darinya adalah ungkapannya tentang pentingnya toleransi dalam perbedaan di ruang kebersamaan: agree in disagreement.

Konsep Mukti Ali ini jelas menunjukkan sikap, yang secara kata bisa kita gambarkan, yakni “sepakat dalam ketidaksepatakan”. Ia berusaha memperjuangkan hak-hak berpendapat semua orang tanpa kecuali, sebagaimana yang juga pernah diajarkan oleh pemikir Perancis bernama Voltaire:

Mungkin saya tidak setuju dengan pendapat kalian, tetapi saya akan berjuang sampai mati untuk membela hak-hak kalian untuk menyatakan pendapat.

Toleran dalam Perbedaan

Nurcholish Madjid (Cak Nur) pernah mengingatkan bahwa upaya integrasi umat adalah upaya yang sia-sia jika ia hanya dibangun dengan fondasi kebersamaan tanpa kualitas berpikir. Memang, di satu sisi, pendapat tersebut ada benarnya. Hanya saja, ketika pembangunan kualitas individu hendak disertai dengan upaya integrasi, mengapa tidak untuk diseru? Bersama dalam perbedaan jauh lebih penting daripada bercerai dengan memilih jalan hidup masing-masing.

Jelas, tak ada seorang pun yang dapat hidup tanpa bantuan orang lain. Begitulah pendapat Aristoteles yang kemudian mendefinisikan manusia sebagai mahluk sosial. Sebab tiap manusia itu berbeda-beda, baik secara fisik maupun kemampuan berpikir, maka mereka dituntut untuk bekerjasama. Dan kerjasama ini hanya akan terwujud ketika sikap toleransi menjadi fondasi utamanya.

Sebagai paham yang meniscayakan adanya kerjasama dalam kehidupan publik, sayangnya konsep kebebasan individu yang secara terang tertuang dalam liberalisme, melulu dipandang hanya sebelah mata. Kecenderungan orang hanya dengan melihat dari luaran fakta yang terjadi, membuat liberalisme kian hari kian dihindari.

Padahal, jika ditilik lebih dalam, paham inilah yang mendambakan lahirnya sikap toleran dalam perbedaan tiap manusia-manusia. Ide kebebasan berpikirnya meniscayakan bahwa perbedaan adalah rahmat. Bahwa batas seseorang dalam berpikir (bertindak juga menilai) adalah kebebasan yang juga orang lain miliki di masing-masingnya.

Maka karenanya, tiap orang dituntut untuk menghargai satu sama lain. Tak ada yang lebih berhak untuk bertanggung jawab pada tiap-tiap individu selain individu itu sendiri. Begitu pun pada yang lain.