2 tahun lalu · 530 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 37169.jpg
Ilustrasi: tarbijahislamijah.com

Bersastra secara Otentik

Bersastra, dalam arti berkarya atau menulis, saya rasa bukan hanya sebagai bentuk pemenuhan hasrat ke-individu-an penulis saja. Bersastra, merujuk maknanya yang otentik, tentu lebih merupakan penegasan kebermanfaatan—melalui cara-cara yang indah dan imajinatif—tentang apa saja; dari individu untuk kemanusiaan; dari yang privat untuk kehidupan publik.

Sedikit menjabarkannya biar terang, cara bersastra secara otentik kiranya dapat mengacu pada Quintus Horatius Flaccus. Lewat kajian filologi, penyair terbaik bahasa Latin ini mengistilahkan sastra sebagai dulce et utile, semacam hiburan yang memberi makna.

Sastra memang berfungsi ganda. Seturut pada Horatius, sastra dapat menghibur (dulce) karena tampilan pesona atau keindahannya yang memukau. Di sisi lain, sastra juga mampu memberi makna (utile) terhadap kehidupan, mulai dari soal kematian, kesengsaraan, sampai kegembiraan. Sastra memberi pelepasan bagi manusia menuju dunia yang lebih imajinatif.

Dengan cara-cara indah dan imajinatif, yang nyastra secara otentik, baik penulis maupun pembaca, dalam perkara pembacaan realitasnya, tentu akan termudahkan.

Penulis, seperti juga pada pembaca, melalui sastra sebagai dulce et utile, menggumul sastra tak hanya akan memberi kesenangan-kesenangan yang indah dan mengharukan. Dengan sastra yang demikian, mereka juga akan mampu memetik pengetahuan-pengetahuan, kebenaran-kebenaran, bahkan yang tak pernah tersadari sebelumnya sekalipun.

Seperti filsafat, sastra yang otentik inilah nanti akan membawa umat manusia ke ruang penuh ide. Ketika kering mulai melanda, mereka tak perlu bersusah pikir lagi untuk mengentaskannya. Bahkan sebelum itu terjadi, pengentasannya sudah akan mendahului secepat yang tak terkira. Itu jika kita memang optimis pada ide-ide manusia, tanpa perlu mengandalkan ide-ide yang tak jelas asal-usul turunnya seperti agama.

Wellek dan Warren juga pernah menegaskan makna sastra dalam aras yang seirama. Juga bagi mereka, fungsi sastra sebagai dulce et utile alias sweet and useful ini adalah hal yang menyenangkan sekaligus berguna.

Mengapa menyenangkan? Sebab sastra bukan sesuatu yang menjemukan. Tak ada nuansa keharusan seperti kebiasaan yang otoritatif. Dan berguna? Sebab sastra, bisa dikatakan, sebagai hal yang tidak pernah membuang-buang waktu. Ia lebih sebagai sesuatu yang layak mendapat perhatian bersama secara utama.

Jadi, dalam bersastra secara otentik, di sana ada pembebasan sekaligus penetapan. Seperti rajutan Cak Nur dalam konsep tauhidnya, di dalam sastra juga ada istilah negasi dan afirmasi.

***

Dilihat dari bentuknya, sastra jelas merupakan hasil kreativitas seorang penulis terhadap pencermatannya pada realitas. Untuk itu, membentuknya dalam rangkaian yang indah nan imajinatif, seperti juga filsafat, setidaknya dibutuhkan ilmu mengenai sastra itu sendiri.

Apa itu sastra; mengapa sastra diharuskan ada; untuk apa dan bagaimana sastra harus menganulir kerealitasan. Jelas, antara sejarah, kritik, dan teori sastra adalah hal yang mutlak dikuasai. Sistem pengetahuan ini yang nanti akan membantu penulis (juga pembaca) dalam merespons kehidupan yang menggejala secara sosial di sekitarnya.

Tetapi sayang, tersadar atau tidak, banyak di antara pekerja sastra (penulis) yang hanya menampilkan karya mereka sebagai rekaan. Tujuan yang ditampilkan hanya untuk menghibur. Tak jarang di antara mereka yang tidak menampilkan tanda-tanda dari gejala sosial dalam perwujudannya.

Di titik inilah sastra hanya berbentuk hiasan belaka. Bentuk dan isinya dipahami secara terpisah, bukan dalam satu kesatuan yang simultan. Sastra yang pincang, sastra yang ‘bukan sastra’.

Hakikat lain dari bersastra ini juga dapat kita temukan dari rumusan cogito ergo sum-nya seorang Descartes. Ketika ia menyeru “berpikir” untuk senantiasa bisa “ada”, yang dikehendaki jelas bukan hanya berpikir saja tanpa wujud. Bersastra, sebagai wujud dari olah rasa, hati, dan pikiran, itulah yang sebenarnya yang ia inginkan. Ya, agar manusia benar-benar bisa menjadi manusia, “ada” sebagai “yang ada”.

Pertanyaannya, siapa di antara kita yang sudah memperlakukan sastra dalam fungsinya yang demikian? Alih-alih memposisikannya sebagai sesuatu yang layak mendapat perhatian, sebatas mengaguminya karena sifat seni yang ada padanya saja itu sudah sangat jarang.

Belum lagi, sejumlah tonjolan yang kerapkali penulis tampakkan dalam bersastra, justru menciderai keotentikan dari karya-karyanya sendiri. Bukan dalam perkara menuliskannya, tapi pencideraan itu kerap tampil ketika buah-buah pikirnya disebar-luaskan ke khalayak publik.

Tonjolan yang Tak Perlu

Ada beberapa tonjolan yang sebenarnya tak perlu penulis kedepankan dalam bersastra. Pertama, soal iri hati; dan kedua, soal kesombongan intelektual.

Memang, bersastra dan iri hati sejatinya adalah serangkaian yang saling menguatkan. Jika bersastra kita posisikan sebagai tujuan seorang penulis, maka iri hati bolehlah kiranya kita sebut sebagai cara mencapai atau memantik tujuan tersebut.

Sayangnya, dua hal itu sangat jarang terlihat bersinergi. Jika bukan seringnya salah satu saja yang dikedepankan di ruang publik, berarti keduanya justru dikonsep sebagai hal yang saling mengalpakan.

Fatal? Tentu iya. Sebab di satu sisi, iri hati ini penting bahkan utama. Hanya saja, ketidakmampuan penulis memilah mana yang pantas untuk jadi pemantik dan mana yang pantas untuk dienyahkan, maka yang penting dan utama tersebut jadi buyar.

Bukan kuasa saya untuk menunjuk siapa-siapa dari penulis yang gemar beriri-hati dalam maknanya yang peyoratif. Toh, saya sendiri, yang bukan penulis ini, sering berlaku demikian. Apalagi mereka yang sejak dalam pikirannya mengaku sebagai seorang penulis, penyair, sastrawan, dan lain sebagainya?!

Hemat kata, iri hati dalam bersastra itu perlu. Tapi, jika fungsinya hanya dipakai untuk menebar benci bukan menumbuhkan progresivitas, maka yang didapat adalah penyakit. Kemajuan yang diharap, yang timbul adalah kejumudan.

Berlanjut ke tonjolan selanjutnya, yakni soal kesombongan intelektual. Sama dengan iri hati yang negatif, penyakit satu ini juga hanya akan melahirkan kejumudan berpikir. Alih-alih membangun kesadaran, yang ada justru merusak kewibawaan—bukan berarti penulis melulu butuh wibawa. Ia harus butuh itu hanya sebagai pendulang pembacanya secara lebih luas.

Tentu ada penulis yang juga tidak paham mengapa ia harus bersastra. Disangkanya bersastra itu hanya menggoreskan ide dalam secarik kertas, menyimpannya, dan lalu menebarkannya bukan dalam arti sebagai benih. Di sini, bersastra menjadi sebatas berekspresi tanpa tujuan yang politis.

Bersastra tanpa tujuan politis itu adalah ketika orang melakoninya hanya demi kepentingan diri pribadi. Dalam arti, ke-aku-an diri yang berusaha ia tonjolkan ke hadapan publik. Hasrat ke-individu-annya yang berupaya ia puaskan.

Lihatlah ketika seorang penulis sudah menuangkan ide-gagasannya di secarik kertas, lalu membaginya ke ruang publik seperti media sosial. Apa yang tampak? Seringnya imbuhan frasa “tulisan saya...” yang tak terkendali. Dan ini dibangga-banggakan. Digaungkannya sebagai hal yang seolah sudah benar pada dirinya sendiri.

Penulisnya lupa, berbagi ide dengan imbuhan frasa “tulisan saya...” merupakan hal yang bukan saja sangat menjijikkan, tapi juga mencederai keotentikan karya sastra itu sendiri. Ia lupa bahwa “apa” bukan “siapa” yang sejatinya pembaca lebih butuhkan.

Saya rasa penulis akan sama-sama menyadari bahwa “apa” bukan “siapa”-lah yang jauh lebih penting. Namanya juga bersastra, berkarya, menulis, yang tujuannya untuk kemanusiaan, bukan pemanusiaan diri sendiri, tapi publik—penulis semacam ini adalah apa yang Arendt sebut sebagai manusia politik, individu bebas yang bersosial, individu yang otentik.

Lantas, sudahkah kita mengamalkan laku manusia politik ini dalam bersastra? Jika belum, kinilah saatnya.

Artikel Terkait