Pernahkah merasa bahwa semua orang sedang berpura-pura? Karena kepura-puraan mereka akhirnya membuat diri merasa sepi? Sehingga muak melihatnya? Orang seperti itu mungkin telah menemui keraguan terhadap kebaikan orang lain. 

Izinkan aku mengutip penggalan kalimat dalam bab pengantar buku terjemahan bahasa Indonesia berjudul Mengapa Aku Begitu Pandai karya Friederich Nietzsche. Buku yang diterbitkan oleh penerbit CIRCA itu, diterjemaahkan oleh Noor Cholis, namun yang menulis bab pengantar bukanlah Noor melainkan Cep Subhan KM.

Penggalan kalimat dalam bab pengantar tersebut sebenarnya berasal dari buah pikir Nietzche, yang berbunyi; “Ada orang-orang yang tidak kita yakini perilaku bersahabatnya tapi kita harus tetap menjaga sikap bersahabat terhadap mereka, dan orang-orang ini jauh lebih menyiksa imajinasi kita daripada musuh-musuh kita.”

Banyak situasi yang mengantar seseorang untuk merasakan kegalauan karena tidak mampu melihat mana yang benar-benar tulus saat bersikap bersahabat dan mana yang hanya memasang topeng semata. 

Di lingkungan masyarakat, kita akan menjumpainya dalam gerombolan ibu-ibu tetangga yang suka menghibah, terornya bahkan belum seberapa apabila dibandingkan lingkungan kerja berjenjang karier (sikut-menyikut sudah biasa).

Meski masih banyak tempat dan situasi yang dapat dijadikan contoh –artinya setiap orang berpotensi merasakan kegalauan yang sama– tetapi jangan khawatir, karena bangkai akan tetap berbau bangkai, maka biasakanlah untuk bersikap legowo,atau bahasa gaulnya santuy.

Satu lagi situasi yang biasanya mengantarkan kita menuju kegalauan seperti itu, yaitu pada saat ditinggal anggota keluarga yang paling kita sayangi untuk selama-lamanya. Tentu saja saat-saat tersebut mempertemukan kita dengan para tetangga, anggota keluarga besar, atau kolega, yang semuanya pasti akan menunjukkan sikap bersahabatnya dengan berbela sungkawa.

Cukup masuk akal apabila disituasi seperti itu kita lebih mudah muak dengan tingkah bersahabat mereka, karena kenyataannya mereka tidaklah dekat dengan kita ataupun orang yang telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Walau begitu tetaplah legowo, jangan menyiksa diri dengan prasangka. Tenang, bangkai akan tetap berbau bangkai kok.

Ngomong-ngomong soal acara pemakaman, aku ingin sedikit berbagi pengalaman ketika menjadi petakziah. Saat itu tetangga sedang diberi cobaan dengan diambilnya salah satu anggota keluarga untuk meninggalkan dunia. Walau jarak rumah kami berdekatan, hanya selisih satu rumah dan satu pekarangan, tetapi hubungan kami tidaklah dekat.

Jujur, awalnya aku berangkat bertakziah hanya sebagai formalitas belaka, saat itu di rumah hanya tinggal aku dan nenek, kedua orangtuaku pergi ke luar kota (rumahku berada di lingkungan pedesaan). 

Karena kedua orang tuaku tidak berada di rumah otomatis aku yang mewakili mereka, sebenarnya keberangkatanku menuju rumah duka membawa motivasi agar kelak tidak mendapat karma ketika tiba giliran anggota keluargaku yang dipanggil untuk meninggalkan dunia. Apa bentuk karma yang kutakutkan? Yaitu ketika para tetangga tidak mau membantu prosesi pemakaman.

Sesampainya di tempat aku tidak tau harus bersikap bagaimana, pada akhirnya aku memilih tempat duduk dengan posisi paling terpencil, dan duduk berdiam diri sembari menunggu dimulainya prosesi pengantaran jenazah ke makam terdekat.

Ternyata tidak hanya aku yang berdiam diri, banyak orang disana juga bersikap sepertiku, walau sesekali mengobrol dengan seseorang yang duduk disampingnya, akupun begitu. Tetapi ada juga sekolompok orang yang sedikit cerewet, kelompok tersebut terdiri dari bapak-bapak yang memang suka mengobrol, mereka tidak membuat gaduh kok.

Setelah jenazah dimandikan, kemudian disalatkan, maka langkah selanjutnya pengantaran jenazah menuju pemakaman. Sebelum pengantaran jenazah dimulai, diadakan doa massal terlebih dahulu lalu dilanjut persaksian massal para petakziah bahwa seseorang yang meninggal tersebut adalah orang yang baik, dan memafkan segala kesalahan yang telah dilakukannya.

Setelah itu jenazah diantarkan menuju pemakaman, sebagian petakziah pulang ke rumah masing-masing, sebagian lagi ikut mengantar jenazah. Jika kalian bertanya aku ikut mengantar atau langsung pulang? Maka jawabannya adalah ikut mengantar.

Coba bayangkan, sebelumnya aku memilih tempat duduk terpencil karena merasa canggung dengan situasi tersebut. Apalagi saat ikut mengantar jenazah menuju pemakaman yang banyaknya orang sudah berkurang setengah dari jumlah awal.

Karena tetap canggung aku memilih diam, dan ternyata tidak hanya aku tetapi seluruh pengantar juga diam. Baru ketika mayat telah diletakkan di dasar galian tanah, beberapa orang mulai sedikit bercakap sembari menunggu prosesi penimbunan tanah galian.

Entah mengapa saat prosesi penguburan aku ikut merasa sedih, walau begitu aku masih cemas membayangkan raut wajahku sendiri. Mungkin karena membayangkan isi pikiran anggota keluarga yang ditinggalkan, aku takut mereka muak melihat ekspresi wajahku, lagipula aku tidak dekat dengan keluarga mereka, jadi wajar kalau mereka curiga dengan ekspresiku yang bisa jadi hanya dibuat-buat.

Yang mengherankan adalah selang beberapa waktu aku sudah tidak merasa iba, bahkan saat penimbunan tanahnya belum selesai. “Setiap orang pada akhirnya mati, inilah kenyataan,” begitulah yang kupikirkan saat itu. Menyadari rasa iba telah menghilang, aku kembali menimbang; sikap apa yang harus kupilih? Dan akhirnya aku mencoba bersikap biasa dengan menampilkan ciri khasku yaitu diam.

Aku tidak mau mengacaukan momen tersebut, aku takut menyinggung anggota keluarga yang telah ditinggalkan. Jadi mau bagaimana lagi, aku harus memerankan peran petakziah sebagaimana mestinya, dan mungkin banyak orang lain berpikiran sama sepertiku. 

Aku percaya kelak akan terlihat mana yang tulus, mana yang tidak. Mana yang berniat baik, mana yang berniat buruk. Bangkai akan tetap berbau bangkai.