Membasuh mungka dan luka
Dahaga dan apa bersamanya
Di pagi buta menagih mimpi
Ku nanti hati dan selamat pagi mentari
Membakar embun jadi tiada
Cahaya ke tanah-tanah surga

Bersamaan hujan bulan Juni
Menitik turun men-jarum jatuh
Percik-nya tepat menyentuh tubuh
Di malam hari menunggu datang
Ku simpan niat dan kuatlah kau hati
Menahan rindu jadi tabah
Kasih pada kisah-kisah cinta

Lintau, 2020


Malam bersamanya

Barangkali mimpi janji nun indah
Bersamaan malam selipkan bulan atau bintang
Cinta menjelma dirimu

Bibir dan tangan sepakat tutup telinga
Hati dan mata sepakat cukupi rasa
Cinta menghapus jejak siang

Padang, 2020


Senja tepi pantai

Senja di tepi pantai
Ku puja, namun tetap fana
Ku jelma langit menerima
Mega mendung meski tidak hujan
Rona pelangi meski sedang rinai

Saat senja di tepi pantai
Rona, tapi tetap lenyap
Menjelma laut berdamai
Kapal karam meski tidak tenggelam
Indah pantai meski lagi sepi
Tembikar di langit barat
Membakar hati juga rindu

padang, 2020


Teh

Aku minum teh
Ia bukan kopi
Tapi berwarna senja

Aku minum teh
Kutelan semua teguk
Menjelma langit
Menerima mega perlahan menghitam

Lintau, 2020


Kemiskinan kita

Tiba-tiba lampu mati
Dimalam yang hampir mati
Aku nyalakan obor jadi hidup
Siasati makan bertahan hidup

Kutuangkan lagi kopi
Pahit, manis yang kunikmati
Untung-untung ada puntung
Hanyalah nasib kutabung untung

Lintau, 2020

Di desa mawar

Hiruk pikuk keramaian kumbang
Kiri kanan mawar yang kembang
Ganti berganti mencari sari
Berbilang sudih hilang dicuri

Di Desa Mawar
Sungai mengantar sampai
Turuni bukit jalan berliku
Lereng dan bukit jalur menuju

Kucuci mungka di pagi hari
Gemercik air jadi dingin; tetua telah mandi di hulu
Sampai bendungan muara
Arakan obor dan pentung betung
“Seorang pekerja PLN hilang tadi malam”
Aku berhenti bertanya, mengapa lampu kampung itu redup

Lintau, 2020


Pada Perempuan

Ada penipuan dalam baju berlengan panjang
Tidak tahu apa di dalamnya
Dibalik kain mewah dan indah
Kerudungnya menutupi dadanya

Tapi, dalam hening dan bising kata
Aku selalu takjub kepada mereka yang berkata:
Menangis tanpa suara itu perih

Dalam hidup, hulu ke muara
Mereka sulap menjadi kolam
Membendung kisah dengan kasih
Yang airnya di isi sendiri
Penghidupan kehidupan dalam hidup

Lintau, 2020


KKN-DR

Seketika HP saya melebihi macet pusat kota
Follower naik
Subscriber meningkat
Permintaan pertemanan menanjak
Serta singkatnya waktu
Saya menjelma dewa
Banyaknya datang permohonan
Melebihi kata maaf

Padang, 2020


Hujan membasuh Rian

Pagi ini hujan membasuh kulit jaket dan debu di motor kesayangannya
Kawan setia, pulang antar jemput si tuan putri dan tugas setiap Subuh
Menembus dalam kemejanya yang dirapikan habis Isya
Diingatkan alarm di telinganya

Hujan pagi ini
Aku percaya, Tuhan tengah menyuci kemelorotan celana dan jam karet dipakainya
Barangkali Rian tidak menemukan Tuhan di kamar tidur
Beringsut menemui-Nya pada butiran hujan jatuh
Seakan bersorak lupa:
Kuliah sebatas bukti pernah sekolah

Oalah
Ini semester baru, seperti dalam permainan bola :
Untuk menyerang haruslah menjemput bola ke bawah
Saat menyerang di patahkan pemain bertahan lawan, bukan berarti telah kalah
Apakah pemain sayap, Rian minta bola pantulan jauh playmaker?
Seperti Daban di koridor pertunjukan?

O ternyata:
Rian dan Daban adalah keseriusan menembus pertahanan lawan di Koridor Falsafah

Padang

Jangan takut anakku

Pukul 16.00 WIB takbir bergema
Aku tersenyum:
Membayangkan putraku bermain kelereng, kejar-kejaran, atau main kartu gambar. Putriku asyik main lompat tali atau petak umpet.
Aku bayangkan putra-putriku ke surau saat senja mengumandangkan Magrib
malam menggelek, rapatkan tikaman harimau haus darah
Langkah satu, gelek, dan balebek.

Tabir! Allahu akbar
Seketika lapangan ramai mendengar sorak pituah muda kaum
“Sudah saatnya kita bangkit!
Mengonyak rancu selama ini balada, kita angkat fulan bin fulan jadi nabi!
Membangkit batang terendam, padamkan bara kebohongan itu”
Takbir ! ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR

Jangan takut anakku! Keluar dari kamarmu!
Tidakku lihat ereng dan gendeng, kala dapati musuh baru
hanyalah pekik kesakitan ibu-ibu dan isak kepedihan anak mencari bapak dalam handphone genggamanmu
Kemudian kau kata “aku lebih suka bermain game ayah”.

Padang