89424_59625.jpg
goodreads.com
Buku · 6 menit baca

Bersama Rakyat, TNI Kuat: Menengok Pikiran Pram di Banten Selatan Tahun 1958

Bagi pembaca yang menyukai karya sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya disebut Pram) tentu bukan nama yang asing lagi. Kali ini, saya akan meresensi salah satu karya novelnya yang berjudul: Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Novel tersebut ditulis Pram dari hasil “reportase” singkatnya di daerah Banten Selatan. Oleh Pram, Banten Selatan kala itu (ditulis pada tahun 1958) digambarkan sebagai daerah yang subur namun rentan penjarahan dan pembunuhan. Pram juga menambahkan kondisi masyarakatnya yang miskin juga kerdil. Kala itu juga, sedang terjadi pemberontakan oleh Darul Islam (selanjutnya disebut DI)

Menyarikan isi cerita dari novel karya Pram bukanlah pekerjaan mudah. Alih-alih ingin membentangkan satu garis lurus dan meletakkan satu per satu kisah demi kisah pada garis tersebut, karya-karya Pram lebih tepat apabila digambarkan sebagai sebuah himpunan kisah yang tidak selalu berupa garis lurus. Pun, usaha untuk menceritakan segala sesuatu dalam novel Pram akan membuat resensi ini menjadi berlembar-lembar. Oleh karenanya, tulisan ini akan membatasi diri pada pembahasan tentang hubungan rakyat dengan tentara dalam kaitannya dengan usaha bersama mencapai keamanan dan kemakmuran desa dalam novel.

Sebelum berbicara lebih jauh terkait alasan pemilihan fokus pembahasan ini dan apa saja yang sekiranya dibahas, perlu kiranya menceritakan sedikit tentang isi novel. 

Dalam novel ini, Pram menceritakan seorang tokoh utama bernama Ranta yang hidupnya miskin lagi malang di daerah Banten Selatan. Ia dihadapkan pada kondisi desanya yang penuh kekacauan akibat ulah DI. Ia juga dihadapkan pada Juragan Musa, seorang tuan tanah yang kaya raya namun picik lagi keji. 

Oleh Juragan Musa, Ia dipaksa mencuri bibit karet dari Ondermening (perkebunan besar dengan alat-alat canggih). Ia dijanjikan akan diberi upah dan apabila menolak, dia diancam ini itu. Akhirnya Ranta terpaksa melakukannya dan setelah menyerahkan bibit karet pada Juragan Musa, malah dipukulnya Ia. Disuruhlah Ranta untuk pulang dan diancam akan dilaporkan telah mencuri bibit dari Juragan Musa jika tak segera pergi.

Kisah-kisah semacam ini tak terjadi hanya pada diri Ranta, orang-orang lain pun pernah mengalami. Hal ini diketahui Ranta setelah pertemuannya dengan Tokoh “Yang Pertama” dan “Yang Kedua” di rumahnya secara tak sengaja. Pada pertemuan ini, makin teguh pula keyakinan Ranta tentang memperbaiki keadaan. 

Kisah punya kisah, muncul celetukan dari “Yang Kedua” bahwa Ranta harus jadi Lurah. Ranta bukan politisi yang bersikap malu-malu mau ketika ditanya wartawan atau diminta oleh politisi lain untuk mencalonkan diri. Ranta mengatakan bahwa jika memang dikehendaki dan dipilih, majulah ia. Bukan untuk dirinya, tapi untuk “memperbaiki keadaan” diri dan kampungnya itu. Begitu kira-kira dalam pikiran Ranta.

Ranta pada satu kisah digambarkan dengan gagah berani melawan perintah juragan Musa untuk menghadap padanya. Dengan yakin, ia tatap juragan Musa dan menunjukkan bahwa ia sekalipun punya kuasa (atas dirinya). 

Juragan Musa yang kebetulan seorang diri, ketakutan dan melarikan diri. Tertinggallah tas dan tongkat miliknya. Tas tersebut berisi surat-surat DI, yang kemudian menjadi bukti bahwa Juragan Musa adalah pembesar DI. Sebuah jawaban kenapa DI bisa mengobrak-abrik pasar, membakar truk dan rumah, tapi tak pernah mengusik juragan kaya itu.

Hari berjalan cepat dan tibalah pada ujung pertama dari novel ini. Berkat laporan Ranta pada komandan tentara daerah setempat, Juragan Musa dan komplotan DI lain dapat ditumpas. Usut punya usut, Lurah desa tersebut ternyata juga seorang anggota DI. Sehingga, oleh komandan tentara setempat, diangkatlah Ranta sebagai Lurah sementara.

Jadilah Ranta sebagai Lurah sementara. Yang kemudian pada satu kisah, diceritakan bahwa DI akan menyerang dan mengobrak-abrik desa itu lagi. Pak Komandan yang bingung meminta bantuan Ranta selaku Lurah sementara. 

Ranta lalu mengusulkan untuk membuat pertahanan rakyat sebagai upaya untuk membantu tentara dan OKD (Operasi Keamanan Daerah). Baginya, penyatuan rakyat dan tentara adalah hal penting untuk menghadapi DI. Pak Komandan setuju dan dimulailah persiapan pertahanan rakyat. Ternyata benar, tidak berselang  lama, DI benar-benar menyerang. Pertarungan beberapa jam kemudian dimenangkan oleh warga dan tentara. Kisah tersebut adalah ujung yang kedua dari novel ini.

Cerita selanjutnya berlangsung antiklimaks, namun memiliki poin maha penting dari pesan yang hendak Pram sampaikan. Diceritakan bahwa tidak ada lagi ancaman penyerangan dari pemberontak. Warga desa berfokus pada pembangunan desa yang tidak pernah terlaksana dan terpikirkan sebelum Ranta menjadi Lurah. Pembangunan tersebut tercapai berkat kerja bersama (gotong royong) dari seluruh warga desa, termasuk para tentara di daerah tersebut. 

Kondisi seperti itulah yang oleh Ranta dipikirkan dan diyakininya sebelum dan selama menjadi Lurah. Sebuah jawaban dari pertanyaan Ireng, Istrinya, yang bertanya “Kapan keadaan jadi baik?” yang oleh Ranta dijawab: “Kapan? Itu tergantung pada kapan kita sendiri mulai mengusahakan.” 

Mereka berhasil membangun Sekolah, Waduk, dan banyak fasilitas desa lain yang menunjang pendidikan dan ekonomi. Kisah berakhir dengan warga dan tentara yang semakin bersemangat untuk gotong royong sambil menyanyikan lagu gotong royong.

Novel ini meletakkan Ranta sebagai tokoh sentral. Setidaknya ada dua hal yang membuatnya menjadi tokoh sentral, pertama karena keyakinannya dan kedua karena pemikirannya. Ranta memang berasal dari kelas miskin namun sungguh-sungguh memiliki keyakinan bahwa mereka (kaum miskin itu) harus bangkit dan memperbaiki keadaan. Dia juga orang yang memiliki pemikiran bahwa kesejahteraan dapat diusahakan dari persatuan melalui usaha gotong royong. 

Gotong royong versi Ranta adalah menggabungkan seluruh kekuatan potensial yang ada untuk kepentingan pembangunan rakyat seluas-luasnya. Maka, diusulkannya pertahanan rakyat, yang oleh komandan tentara setempat disetujui untuk menghadang DI. Juga bersatulah rakyat dan tentara dalam pembangunan fasilitas-fasilitas desa seperti waduk dan sekolah.

Novel ini juga meletakkan Pak Komandan, seorang pimpinan tentara di daerah tersebut, sebagai tokoh sentral lain yang turut andil dalam bergeraknya cerita. Pak Komandan bukanlah tentara yang bergelimang harta. Ia hanyalah seorang pemimpin tentara di daerah kecil yang sedang berhadapan dengan ancaman pemberontak DI. Anak buahnya tak banyak, perlengkapan dan persenjataannya pun tak banyak. 

Pak Komandan memiliki satu hal yang harusnya dimiliki semua tentara di Indonesia, yaitu keberpihakannya pada rakyat. Ia mempercayai Ranta, seorang miskin yang datang padanya membawa bukti keterlibatan juragan Musa dengan DI. Dia orang yang dengan rendah hati meminta saran Ranta ketika ada ancaman datangnya DI, dan ia pula tentara yang ikut gotong royong bersama rakyat untuk membangun desa.

Kemunculan tentara dan bagaimana Pram menggambarkan mereka, tentu satu hal tersendiri yang menarik. Kenapa? Karena tentara pulalah yang pada kehidupan Pram telah merenggut hari-hari mudanya. Ia banyak dikecewakan oleh negara, yang tentu saja menggunakan tentara sebagai instrumennya untuk menghabisi dan menutupi kebesaran seorang Pram. 

Pram tetaplah Pram. Ia sastrawan yang membuat karya dari realita dengan keberpihakannya pada keadilan dan kebenaran. Dalam novel ini, tentara bukanlah pihak yang jahat, tentara adalah salah satu instrumen keadilan yang dimunculkan oleh Pram.

Melalui “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”, Pram pada tahun 50-an  menggambarkan kondisi penyatuan tentara-rakyat yang sungguh ideal. Kira-kira, beginilah seharusnya jargon TNI yang berbunyi “Bersama Rakyat, TNI Kuat” diaplikasikan. Tentara yang turut dalam pembangunan desa bersama rakyat, tentara yang menjatuhkan keberpihakannya pada rakyat, tentara yang rela hidup setara dan hidup bersama ditengah-tengah rakyat. Bukan sebaliknya, yaitu tentara yang ikut serta menggusur tanah rakyat, tentara yang meneror hak hidup rakyat, tentara yang bergelimang harta dengan segala macam proyek pengamanan lain-lainnya.

Jika hari ini TNI sungguh-sungguh ingin kuat bersama rakyat, rasa-rasanya mereka semua harus kembali (atau mulai –karena belum pernah-) membaca karya Pram yang satu ini. Dengan membaca dan menghayati karya ini, rasanya jargon tersebut bisa bermakna lebih dari sekadar jargon yang tertulis di pinggir jalan-jalan kota.

Tentu, jika karya ini dilahirkan hari ini, di tengah-tengah begitu banyaknya perusakan dan perampasan hak hidup rakyat (tanah, rumah, sawah, dan segala kebudayaan yang ada di dalamnya), dan di dalamnya terdapat tentara sebagai instrumen represif, karya ini akan nampak seperti sebuah karya yang melayang-layang di langit-langit ide. Namun, alangkah indahnya, jika suatu ketika, tentara dapat benar-benar bebas menggunakan nuraninya, dan berani mengatakan tidak, ketika ditugaskan untuk menjadi instrumen represif oleh penguasa yang hendak merampas hak hidup rakyat.

Pram lewat karya ini telah mengabadikan pikirannya tentang penyatuan rakyat-tentara yang ideal baginya. Memang benar, bahwa Sekali Peristiwa di Banten Selatan bukanlah karya agung Pram seperti Bumi Manusia, tapi karya ini penting sebagai refleksi bagaimana kiranya dan bagaimana jadinya jika tentara benar-benar seperti dalam kisah Pram. Tentu, negara (juga kapitalis) akan kehilangan instrumen represif terandalnya. Kenapa? Karena tentara hanya memihak pada kebenaran dan keadilan.

Judul: Sekali Peristiwa di Banten Selatan | Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara | Tebal: 128 halaman | Cetakan II, Juni 2006