Beberapa tahun belakangan, saya memberi perhatian pada budaya Kpop, terutama pada grup BTS. Hal ini saya lakukan karena Maysa, teman kecil saya, menggemari grup tersebut. Biasanya saya mengobrol panjang-lebar dengannya saat berkunjung ke angkringan yang dikelola oleh orang tuanya.

Saya mengenal Maysa sejak ia duduk di kelas empat SD, saat ini ia kelas dua SMP. Hampir setiap minggu saya berjumpa dengannya, paling tidak satu kali. Saya tahu ia seperti remaja belasan tahun lainnya, yang mulai mengenal budaya populer dan mengidolakan beberapa pesohor.

Saya takut membebani anak-anak ketika bertanya, “Ada PR atau gak?”, “Nilaimu berapa?”, “Ujiannya bisa apa gak?”, atau berbasa-basi dengan memintanya belajar, “Kok kamu malah main? Sana belajar!” Karena kekhawatiran ini, saya mencari cara agar anak-anak merasa nyaman berbicara dengan saya tentang apa saja.

Setelah Maysa diberikan ponsel oleh orang tuanya, saya sering mendapatinya menonton video-video BTS di YouTube, juga story WhatsApp-nya yang berisi gambar-gambar BTS. Hal itu justru membuatnya dirundung oleh orang-orang di sekitarnya.

Orang tuanya sering menyinggung saat berbicara dengan saya di depannya, katanya ia sering menonton Korea. Kakaknya mengatakan kalau menggemari Korea itu memalukan. 

Ia juga pernah cerita bahwa teman sekolahnya juga mengejeknya karena ia penggemar Kpop. Mungkin karena ia tidak banyak diterima oleh orang-orang di sekelilingnya bahwa ia menyukai Kpop, saya bisa menjadi teman untuk ngobrol tentang Kpop dan BTS.

Banyak kegiatan yang sudah kita lakukan bersama. Lebih sering ia meminta saya menemaninya mengerjakan PR atau bertanya tentang pelajaran sekolah yang belum ia pahami. Terkadang ia mengajak saya melukis atau bersama anak-anak yang lain berenang.

Dalam beberapa kegiatan ini, kita selalu punya waktu untuk berdiskusi tentang banyak hal. Ia sering bertanya sesuatu yang lain kepada saya saat mengerjakan PR. Tidak jarang kita melakukan eksperimen kecil-kecilan dari sebuah pertanyaan tersebut di kemudian hari.

Melalui Kpop dan BTS, saya bisa menjadi teman bagi Maysa. Bukan sekadar teman mengerjakan PR, tetapi teman bermain yang bisa membicarakan topik yang sama. Saya bisa memulai pembicaraan dengan topik yang berkaitan dengan BTS. Walaupun sebelumnya saya juga mempunyai banyak diskusi dengannya, bedanya saat itu saya kesulitan mengawali pembicaraan.

Saya mengamati para pesohor yang memiliki banyak pengikut biasanya membawa pesan sosial dan kemanusiaan kepada penggemarnya. Mengapa demikian? Tentu saja makin banyak penggemar, kontrol sosial-moral terhadap diri mereka makin besar; kesalahan sekecil apa pun akan dikritik oleh penggemar. 

Selain itu, biasanya ada lembaga yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan meminta mereka untuk menggerakkan penggemarnya berbuat sesuatu yang lebih baik. Oleh karena itu, saya tidak khawatir apabila anak-anak menggemari BTS yang memiliki banyak penggemar.

BTS pernah memberikan pidato di sidang PBB dengan menyampaikan pesan tentang kemanusiaan kepada generasi muda. Mereka juga memberikan pesan untuk mencintai diri sendiri sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan mental. 

Hal itu menunjukkan bahwa BTS menjadi sebuah grup yang memiliki pesan positif kepada penggemarnya. Sehingga sebenarnya orang tua tidak perlu khawatir apabila anaknya menggemari bintang Kpop seperti BTS.

Seperti yang kita ketahui bahwa Kpop tidak bisa lepas dari kontroversi. Beberapa waktu yang lalu Tokopedia sempat diboikot oleh beberapa pihak karena menggandeng BTS sebagai artis yang mempromosikannya. Hal itu dikarenakan BTS dianggap mendukung gerakan LGBT. Seperti yang kita ketahui pula bahwa sebagian masyarakat di Indonesia menolak LGBT.

Saat kita mengobrol tentang rencana penampilan BTS di Late Late Show-nya James Corden, saya menyinggung sedikit tentang kontroversi tersebut dengan Maysa. Bukan pertama kali saya berdiskusi dengannya tentang tema-tema yang biasanya dibicarakan orang dewasa.

Sebelumnya Maysa bertanya tentang mengapa Trump membunuh Solemani, juga tentang mengapa Greta Thunberg memiliki pengikut yang banyak di seluruh dunia. Dulu, ia bersama teman-temannya pernah bertanya bagaimana seorang bayi bisa berada di rahim ibu. Mereka pernah bertanya juga apakah surga dan neraka itu ada.

Tidak semua pertanyaan anak-anak bisa saya jawab. Saya berusaha jujur dengan pengetahuan yang saya miliki. Jika saya belum tahu jawaban yang diminta mereka, saya akan bilang tidak tahu, namun di lain kesempatan saya akan menjelaskan kepada mereka setelah saya mencari tahu jawabannya. Tekadang saya meluangkan waktu untuk membuat kemasan dari jawaban tersebut agar mudah dicerna oleh anak-anak.

Senja sedang memasuki warna ranumnya saat kita berdiskusi tentang kontroversi tersebut. Secangkir kopi yang disuguhkan oleh ayahnya Masya menambah kehangatan di antara kami. Sesaat setelah ayahnya beranjak, saya melanjutkan diskusi dengan Maysa, "Terus apa kamu masih suka sama BTS? Kan mereka mendukung LGBT?"

"Aku sih masih suka," jawabnya. Tetapi ia tidak memberikan dukungan ataupun menolak terhadap gerakan LGBT seperti yang dilakukan oleh BTS. Ia malah bertanya balik kepada saya, "Apa sih LGBT iu? lagi bete ya?"

Sebenarnya ia tahu apa itu LGBT. Ia hanya ingin memberikan sedikit lelucon agar bisa bertanya lebih dalam kepada saya mengapa BTS mendukung LGBT.

Saat itu giliran saya yang jadi bingung bagaimana harus menjelaskan jawaban dari pertanyaan tersebut ke Maysa. Yang sebenarnya saya khawatirkan apakah ia memiliki sikap kritis terhadap jawaban yang akan saya berikan. 

Karena jika ia menerima jawaban itu begitu saja, saya yakin kelak ia akan bermasalah saat bersinggungan dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya. Seperti yang sudah disebut di atas bahwa pembicaraan ini sarat kontroversi, dibutuhkan sikap kritis untuk menguji kebenaran faktanya.

Saya memulai dengan bertanya siapa yang menolak BTS karena dianggap mendukung LBGT. Kita menemukan jawaban bahwa rata-rata yang melakukannya adalah orang-orang yang cenderung konservatif. 

Sementara seseorang bisa mendukung LGBT biasanya karena dua hal: pertama, karena mendukung kebebasan individu; kedua, karena meyakini ilmu pengetahuan yang mengungkap bagaimana orientasi seksual seseorang terbentuk.

Berbicara tentang ilmu pengetahuan, sudah banyak penelitian di bidang genetika, evolusi, psikologi, sosiologi, sampai antropologi yang menyelidiki fenomena homoseksualitas. Seseorang yang sudah terlahir di dunia tidak bisa memilih orientasi seksualnya karena hal itu adalah sifat genetis. 

Homoseksualitas seseorang bisa terbentuk karena sifat (ekspresi genetis) yang ditampilkan dari kumpulan gen (alel) yang dibawanya. Tentu saja ada faktor lain seperti hormon dan kondisi lingkungan yang memunculkan sifat tersebut.

Saya memberikan contoh kepada Maysa bagaimana orang yang terlahir dengan rambut keriting seperti saya tidak pernah meminta gen keriting. Kulit gelap yang dimiliki Maysa juga bukan keinginannya. 

Untuk sifat gen yang tidak terlihat secara fisik pun demikian. Seperti mengapa ia lebih suka makanan yang manis saya tidak, ia lebih suka musik Kpop kakaknya suka musik jazz, saya dan kakaknya tidak suka tempat ramai sementara Maysa tidak masalah dengan keramaian.

Hal itu karena kita semua memiliki sifat gen tertentu yang berbeda-beda. Demikian pula dengan orientasi seksual seseorang. Sebenarnya homoseksual tidak hanya terjadi di manusia, tetapi juga organisme lain, dari cacing sampai primata. Ya, kita semua makhluk yang dibentuk oleh banyak sifat genetis dengan proses yang cukup rumit.

Setidaknya homoseksualitas memberikan pandangan baru tentang seleksi alam yang diperkenalkan oleh Charles Darwin. Bagaimana mungkin homoseksual bisa muncul di tiap generasi padahal mereka tidak bisa bereproduksi? 

Salah satu penyebabnya adalah beberapa gen yang menyebabkan kecenderungan homoseksual bisa dibawa oleh orang yang heteroseksual. Sehingga ada kemungkinan perkawinan heteroseksual bisa menghasilkan keturunan homoseksual, jadi pasangan ini seperti menyelesaikan sebuah puzzle.

Penjelasan lebih detail tentang hal ini bisa dibaca pada artikel yang berjuldul "The evolutionary puzzle of homosexuality" yang ditulis oleh WIlliam Kremer di BBC, 18 Februari 2014. Atau bisa melihat video penjelasan Richard Dawkins yang berjudul "How Does Evolution Explain Homosexuality" di saluran YouTube Richard Dawkins for Reason & Science yang diunggah pada 24 Maret 2015.

Tidak terasa langit sudah gelap. Kita melewatkan langit merah-jingga di ufuk barat untuk diabadikan seperti biasanya. Rencana untuk meng-cover lagu Black Swan-nya BTS juga batal. Namun senja yang panjang ini terasa hangat seperti mengobati keterlewatan ini.

Seperti biasanya pula, saya memberitahu Maysa bahwa ia boleh protes kepada saya karena apa yang saya sampaikan bisa saja salah. Bahwa saya lebih tua dari dirinya bukan berarti tidak boleh diprotes. 

Saya juga memintanya agar bertanya ke orang lain akan hal ini dan membaca buku tentang ilmu pengetahuan jika ia suka. Ada kalanya di hari lain saya yang akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang belum saya ketahui.

Bagi saya, berpikir kritis bisa membawa kita mencari informasi yang selama ini simpang siur di masyarakat. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kita mengemas informasi tersebut agar bisa diterima oleh banyak kalangan. Tentu ini tidak mudah. Atau setidaknya kita tidak gampang merendahkan orang lain yang berbeda pengetahuan informasinya.

Apa yang terjadi jika berpikir kritis sudah dimiliki sejak dini? Apakah kelak terjadi kekacauan? Atau justru saling menghormati? Yang jelas, nanti jika Maysa rebel terhadap orang tuanya, mungkin saya orang yang pertama kali bisa disalahkan. Waduh, gawat.