“Jangan pernah melihatku seperti itu, stop !” Ini menyiksa. Tapi tak juga kalimat itu keluar dari mulutku. Karena faktanya, aku menikmati tatapan itu. Sementara. 

Ketika tatapan itu berlalu, aku selalu gelisah. Membuat malam-malamku terganggu. Bahkan ketika tatapan dan senyuman itu masih disampingku, gejalanya sudah dimulai. Jantungku berdetak tidak teratur. Anehnya, aku menikmati semua gejala diluar kewajaran itu. Bahkan, seperti candu, aku ingin merasakannya lagi dan lagi dan lagi.

Ketika suatu kali aku mengatakan bahwa tatap matanya itu bencana. Ia justru menjadikan hariku dipenuhi tragedi. Sepertinya ia memang tipe orang yang bahagia diatas penderitaan orang lain.  Ia selalu bahagia, jika aku tersiksa karenanya.

Alina. Jurusan bimbingan konseling. Asal Banyumanik, Semarang. Alamat tinggal sekarang, Dipo 35. Begitu ia mengisi data yang ada di meja panitia. Sekelebat, tetapi semua yang ia tulis jelas kuingat.

Tidak ingin menimbulkan kegaduhan. Apa yang kuingat itu kusimpan sendiri. Aku tahu apa yang akan terjadi ketika teman-temanku tahu bahwa aku sedang menaruh perhatian pada seseorang, dari sekian banyak mahasiswa baru itu.

"Alina."

Ia menyebutkan namanya ketika berdiri di depanku. Meski terpampang juga di kertas karton yang menggantung di dadanya. Sebuah prosesi yang harus dijalani setiap mahasiswa baru di hari terakhir Social Gathering fakultas. Wawancara.

Cara kami merekrut bibit-bibit potensial untuk menjadi kader senat mahasiswa. Meski tidak selamanya begitu. Selalu ada satu dua penyimpangan. Tetapi itu tidak akan pernah menjadi sebuah pelanggaran yang layak disangsi. Urusan hati dan rasa, memang merdeka. Meski kadang menghasilkan tiraninya sendiri.

Beberapa kali aku memprotes. Cara-cara ini usang. Mestinya ada cara yang lebih elegan untuk menyambut mahasiswa baru. Bukan perploncoan, sesuatu yang sulit menemukan korelasinya bagi inisiasi seseorang untuk memasuki garba ilmiah.  Namun faktanya, perubahan itu tidak mudah. Bahkan untuk lembaga yang memproklamirkan dirinya sebagai agent of change sekalipun.

Split, antara kenyamanan melanggengkan status quo, dengan gagasan-gagasan baru. Pemenangnya selalu, sesuatu yang sudah mentradisi. Zona nyaman. Faktanya aku juga menikmati. Wewenang absurd yang bernama senior. Membangun kuasa, meski tidak pernah dilembagakan tetapi realitasnya ada. Entah didasarkan pada aturan mana wewenang itu dilanggengkan.

Tanpa kuasa yang tidak pernah dikuasakan itu, barangkali ia adalah sosok yang tak terjangkau. Bukan menyanjung, tetapi demikian adanya. Ada benteng alam yang terbentang di sana. Terjal.

Aku selalu bisa melihat cahaya pagi di tatap matanya. Teduh tetapi menyilaukan. Menyiratkan harapan, tetapi sekaligus memaksaku bergegas. Pada saat aku sedang merasakan nikmatnya bermalasan. Begitulah awalnya aku mengenal Alina.

….

Aku lupa, sejak kapan aku mulai mengakrabi telpon koin yang terpajang di lapangan gang V. Dekat kontrakanku. Kadang harus berbaris diantara para pembantu, yang akan ber-say hello dengan pembantu tetangganya. Tetapi yang kutahu, sejak 108 memberitahuku kombinasi 6 angka yang membuat hatiku sulit sejahtera itu.

Logam 100 rupiah, menjadi koin paling berharga. Aku tidak ragu untuk mengkoleksinya. Memintanya untuk menjadi uang kembalian, yang hari-hari sebelumnya kutolak. Brisik. Bahkan, seandainya tidak ada, kutukarkan beberapa lembar ribuan kertas untuk mendapatkannya. Karena itu modal penting bagiku. Sesuatu yang membuat hatiku bergejolak nikmat.   

Krecek, bleg. Koin seratus perak gambar wayang jatuhnya mantap. Diantara koin-koin lainnya, tidak menggerincing ringan dan kembali ke pemiliknya. Artinya, tombol-tombol ini sudah bisa berfungsi, menuju ke nomer yang akan segera membuat hatiku berdesir nyeri.

"Alina...! Telpon !" terdengar di seberang sana suara kencang memanggil.

"Hi..., belum tidur ?" sapaan standar, basi. Tapi tidak ada kata-kata lain yang lebih mengesankan ketimbang perhatian basa basi ini.

Tidak ada jawaban.

Oh, ternyata mungkin aku ke-pede-an jika gagang telpon sudah ada di ditelinganya. Padahal bisa saja itu masih ada tangannya, atau belum dia ambil, atau jangan-jangan bukan Alina yang memegangnya. Teman kos, ibu kos, atau siapa saja. Lantas Cuma mau kasih jawaban, "Alina tidak ada."

"Hi, siapa ya?"

Akhirnya, suara itu. Ada jawaban juga dari seberang sana. Di sela suara motor yang baru saja lewat tepat di sampingku.

"Aku, Joel."

"Hi, mas. Ada apa ya?"

"Pengin ngobrol aja, boleh?"

"Boleh," suaranya melambat.

Sepertinya berat, aku mulai membangun prasangka.

Semakin berat,  karena juga sedang  berusaha cuek membiarkan dua orang mengantri di belakangku. Padahal modalku cukup untuk berlama-lama. Tadi sengaja kutukarkan pada kenek angkot yang kutumpangi sepulang dari kampus. Tetapi tatapan para pengantri telpon umum ini mulai tidak bersahabat. Apalagi melihat setiap kali aku tertawa. Mereka menyeringai. Kasuk-kusuk dengan volume suara yang semakin nyaring, barangkali juga menembus masuk ke telinga Alina.

Kusudahi, meski aku ingin lebih lama. Tetapi mungkin ini yang diharapkan Alina juga. Aku belum memulai, tetapi kegundahan sudah buru-buru meletup-letup dari dadaku. Seperti biasanya pula, ketika aku mencoba  memulai berani mengikuti kata hati.   Beban itu tiba-tiba mengikuti, menempel di punggung, kaki bahkan kadang terasa menghimpit dada.

Berkali kali aku mengusap mataku. Kantuk tidak juga menyerang. Malam ini, aku sengaja mengambil waktu untuk tidak ikut diskusi teman-teman di sekretariat. Tempat kami biasa berkumpul. Bergabung dengan lebih banyak aktifis pro demokrasi yang bergerak di luar organisasi resmi kampus. Teman-teman yang ogah dengan keribetan birokrasi, termasuk birokrasi kampus.

Malam ini, aku ingin mengurusi hati. Memberinya gizi. Tetapi aku tidak menyangka, dampaknya rumit. Meski hanya mendengar suaranya, ternyata mengganggu fungsi hormon melatonin dalam tubuhku. Gejalanya mirip dengan meminum secangkir kopi pahit. Apa jadinya, jika aku ada di hadapannya. Melihat senyumnya. Bisa kejang.

…..

Pernah dengar hentakan tameng PHH bersamaan? Pasukan yang memang selalu siaga menghadang rombongan mahasiswa sepertiku. Para demonstran. Tidak pernah membuat kecil nyaliku. Meski bunyi brakkknya menggetarkan. Tetapi Alina, justru dia yang seringkali membuatku kehilangan nyali. Bahkan hanya dari satu kata, beberapa detik tatapan mata dan sekilas senyuman. Ini sudah menjadi paket komplit yang memiliki banyak rasa.

Sebagai gadis keturunan, Alina tidak sipit, tetapi darah yang mengalir di tubuhnya, tidak mungkin diingkari. Dan memang sama sekali tidak perlu diingkari. Jika belakangan isu-isu rasial mulai terdengar, menjadi fakta yang mencemaskan.

Aku hanya diam, tetapi pikiranku menerawang. Alina masih menatapku. Kali ini tatapannya tak tampak lucu. Benar-benar menindas.

Kala ia tak lagi menatapku. Aku lega, karena  aku punya kesempatan menatapnya. Mengagumi setiap pesona yang terpancar dari wajah cantiknya. Jika aku bersamanya, aku pastikan ini sebagai anugerah terindah yang Tuhan beri. Namun aku tidak tahu bagaimana akhirnya kelak, itu urusan Tuhan. Bagianku adalah menikmati apa yang Tuhan sudah anugerahkan saat ini, mensyukuri setiap detiknya bersama dengan Alina. Meski sebenarnya aku masih harus bersahabat dengan tanda tanya.