Pernahkah anda berada dalam situasi kerja yang tidak nyaman, tapi anda terpaksa menjalaninya? Seorang teman menasehati saya ketika saya mengalami situasi seperti itu di kantor. "Hidup itu adalah pilihan, take it or leave it", begitu katanya.  Wait......situasi yang saya alami saat itu tidak semudah yang dikatakannya, saya ada dalam posisi tidak bisa memilih.  Bila saya menolak tugas baru yang diberikan, konsekuensinya akan sangat besar bagi karir saya ke depan. Lagipula menolak dengan tetap bertahan pada posisi sebelumnya juga sangat tidak mungkin, karena berbagai perubahan dalam lingkup organisasi yang terjadi di instansi saya. Jadi mau tak mau saya terpaksa harus menjalaninya, dan siap bersahabat dengan ketidaknyamanan.

Pada dasarnya setiap manusia akan merasa nyaman bila kebutuhan dasar yang bersifat individual terpenuhi.  Dan ukuran kenyamanan di tempat kerja, tergantung persepsi dari masing-masing individu terhadap pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Ada orang yang merasa nyaman hanya karena statusnya bekerja di suatu institusi tertentu. Rasa bangga terhadap institusinya membuatnya dapat menikmati kondisi apapun yang dijalaninya di tempat kerja. Tidak mempermasalahkan fasilitas maupun besarnya kompensasi, kebanggaan saja sudah cukup membuatnya merasa nyaman.

Ada orang yang merasa nyaman ketika menerima fasilitas kerja yang baik. Kenyamanan diperoleh dari kepuasan terhadap kondisi ruang kerja, gaji/upah, insentif, jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, hak cuti dan berbagai fasilitas lainnya. Ada juga orang yang merasa nyaman dengan passion dan eksistensi diri di tempat kerja. Kenyamanan diperoleh dari  kesempatan mengembangkan diri, kebebasan berekspresi, kebebasan menuangkan ide dan kreativitas. Tapi ada juga orang yang merasa nyaman bekerja hanya karena dorongan hati. Walaupun tidak mendapat fasilitas dan kompensasi apapun, mereka tetap merasa nyaman. Terkadang mereka malah berkorban materi hingga keselamatan jiwa, seperti yang dijalani para pekerja sosial atau relawan.

Persepsi saya terhadap tugas baru yang akan saya jalani sejak awal memang negatif. Saya harus memulai semuanya dari nol lagi, karena bidang tugas yang benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya. Saya harus belajar dengan cepat untuk mengejar ketinggalan dan memenuhi tuntutan perubahan. Saya juga mendapat informasi banyaknya permasalahan yang akan saya hadapi di bidang tugas tersebut. Banyak kasus lama yang belum terselesaikan, dan nantinya pasti akan muncul kasus-kasus baru, mengingat bidang tugas tersebut berhubungan dengan kemaslahatan orang banyak. Ibaratnya saya harus bersih-bersih rumah yang kotor, sekaligus merenovasinya karena banyak kerusakan.

Belum lagi tantangan perjalanan menuju kantor di ibukota yang identik dengan kemacetan. Sudah terbayang berapa lama waktu yang akan habis terbuang di jalan setiap hari. Sudah terbayang bagaimana saya harus berkejaran dengan bus antar kota untuk sarana transportasi pulang pergi. Challenge yang demikian besar di usia saya yang tidak lagi muda membuat saya sungguh tidak nyaman. Tapi ada keluarga dan teman-teman yang selalu menguatkan saya. Mereka mendukung saya sepenuhnya dan yakin ada hikmah terbaik yang bisa saya dapatkan suatu hari nanti.

Jujur saja, awal masuk di lingkungan kerja baru, saya merasa seperti masuk ke hutan belantara. Suasana kerja terasa begitu suram, kaku dan dingin. Entah itu perasaan saya sendiri atau memang demikian adanya, saya lihat orang-orang di lingkungan baru saya itu sangat individual dan "susah tersenyum". Astaga....... tiba-tiba saya merasa kuatir, jangan-jangan saya pun akan berubah seperti mereka. Rutinitas dan berbagai permasalahan sepertinya telah membunuh kebahagiaan mereka dalam bekerja, dan itu berdampak pada kinerja mereka yang menjadi tidak optimal. Atau jangan-jangan memang itulah “zona nyaman” mereka selama bertahun-tahun. Di mata saya, mereka seperti sekumpulan orang yang apatis.  Sungguh berbeda dengan lingkungan kerja saya sebelumnya, yang selalu ceria dan penuh semangat dalam suasana kekeluargaan.

Mengawali masuk di lingkungan kerja baru, saya mencoba berpikir positif dan optimis. Saya mulai memetakan masalah, melakukan observasi dan pendekatan secara personal untuk menggali berbagai informasi.  Setelah berhasil merumuskan masalah, saya mencoba mencari solusi masalah dengan upaya trial error, karena saya juga belum tahu pasti penyelesaian terbaik dari bertumpuknya masalah yang saya hadapi. Pe-er yang cukup besar bagi saya adalah membuat perubahan, bagaimana merubah pemikiran mereka yang apatis menjadi optimis dan penuh semangat. Saya ingin mereka bekerja dengan bahagia, karena saya yakin individu yang bahagia akan bekerja dengan lebih baik dan pastinya lebih produktif.

Saya terus melakukan komunikasi efektif dengan mereka untuk membangun trust, mensosialisasikan gagasan-gagasan dan  program kerja saya.  Jangan ditanya seberapa besar hambatannya, karena sebenarnya banyak yang resisten dengan perubahan yang saya lakukan. Berbagai hambatan yang saya temui kadang membuat saya merasa ingin menyerah. Tapi saya tidak berputus asa, saya yakin upaya perubahan ini akan membawa hasil dan keadaan akan menjadi lebih baik.

Selanjutnya saya mulai belajar mencintai. Saya mencoba menikmati kemacetan di perjalanan setiap hari, mencoba menyukai bidang tugas saya yang baru, mencoba berlapang dada dengan fasilitas kerja seadanya dan mencoba merangkul teman-teman yang bersikap resisten. Saya belajar mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang bisa saya rasakan. Menjadikan kasus-kasus yang saya hadapi menjadi bagian hidup saya dan melakukan koordinasi intens dengan tim setiap saat. Pelan-pelan mereka mulai bisa memahami saya, perubahan yang saya inginkan mulai menunjukkan hasilnya.

Dan begitulah, akhirnya saya dapatkan kenyamanan dari dorongan hati saya untuk memperbaiki keadaan. Ada rasa puas melihat mereka sedikit demi sedikit mulai berubah. Senyum mulai terlihat setiap hari,  kinerja mereka semakin meningkat, tanggung jawab mereka terhadap tugas pun semakin baik, kerja sama juga mulai terlihat satu sama lain. Kamipun akhirnya bisa menjadi tim yang solid dan kompak, menghadapi berbagai permasalahan dalam kebersamaan.

Meskipun demikian saya tidak pernah berpikir bahwa saya selamanya akan ada disana. Paling tidak, bila saya pergi dari lingkungan tersebut karena perpindahan tugas lagi, saya sudah berupaya meninggalkan kebaikan.  Semua hal yang terjadi mengajarkan saya untuk ikhlas, tidak ada yang abadi di dunia ini, semua yang ada awalnya pasti akan ada akhirnya. Dan saya merasa sangat beruntung, karena dukungan keluarga dan teman-teman, saya dapat melewati masa-masa sulit dan tetap tegar berdiri hingga saat ini. (IkS)