Mahasiswa
3 minggu lalu · 186 view · 3 min baca · Budaya 85439_72139.jpg
lamanufacture

Berpolemik ala Ultras Codex

Kamus Oxford memberi arti etimologis kata Hooligan: pembuat rusuh dengan tindakan kekerasan. Sedang KBBI memberi arti terminologis: orang yang kasar (brutal); orang yang melakukan kekerasan (berasal dari nama seorang perusuh Irlandia, Patrick Hooligan).

Baik makna etimologis atau terminologis, keduanya mempunyai satu asal-usul sebuah lema donor berjenis proper nouns untuk nama keluarga atau family name dari fiksi Irlandia. Dialah Patrick Hooligan, seseorang yang kerap membuat kebisingan di sebuah gedung konser pada tahun 1890. 

Dari lema dasar kata Hooligan, berkembang menjadi sublema yang mengalami afiksasi dengan penambahan sufiks menjadi Hooliganisme atau kekerasan yang disebabkan oleh pendukung fanatik sepak bola. Sedang pelakunya disebut dengan Hooligan.

Hooliganisme berkembang sangat pesat hingga menginspirasi keluarnya etis moral yang dikenal dengan istilah Ultras Codex. Jangan salah sangka, kodeks ini merupakan etis moral tertinggi bagi dunia fanatisme yang jauh dari kata pengecut dan penakut. Etis moral ini sering dipakai oleh kelompok-kelompok Ultras di seluruh dunia.  

Saat terjadi duel, Ultras Codex mewajibkan jumlah petarung harus sama banyak (tidak keroyokan) atau dengan kisaran yang berimbang serta harus menggunakan tangan kosong. Ketika lawan sudah terpukul jatuh atau menyerah, pertarungan harus dan wajib berhenti.

Keagungan dan kemulian etis moral ini membawa Ultras Codex ke kancah yang lebih luas seperti mengambil sikap dalam isu-isu di luar sepak bola seperti isu tentang pengungsian, rasisme, tiranisme lewat tulisan dan sikap mereka yang patriotik dan gentleman.


Ultras Codex sangat cocok digunakan dalam berpolemik. Terutama dalam berwacana dan beropini di media sosial yang kini terlihat makin berkembang menjadi media komunikasi global. Kebebasan beropini sangat berimbang dan berseni jika diiring semangat Ultras Codex.

Media sosial telah menjadi wadah untuk menyalurkan aspirasi dan menyampaikan pendapat tentang berbagai macam tren dan kondisi sosial lainnya. Kedatangan era digital dan media sosial juga mengubah pola dan lanskap polemik ataupun diskursus. 

Perdebatan di surat kabar mulai tergantikan oleh ribuan perdebatan sengit di media sosial. Polemik yang tertulis di surat kabar rating-nya kalah jauh jika dibandingkan dengan polemik di twitter misalnya. 

Gaya khas polemik di media sosial salah satunya adalah lengkap dengan variasi bahasa yang digunakan. Mulai dari bahasa isi kebun binatang hingga istilah ilmiah ala bahasa laboratorium. Keduanya bisa berpadu dalam sebuah debat kusir yang tak bertitik.

Polemik dan diskursus di jurnal akademik juga semakin kehilangan pamornya jika dibandingkan dengan cuitan di twitter. Lanskap polemik dan diskursus telah mengalami migrasi ke habitat antarmuka digital yang berbasis pengguna.

Peralihan lanskap dari analog ke digital juga mempengaruhi peralihan bentuk, sifat dan etis moral yang digunakan. Seperti cara membalas kritik ataupun mengomentari sebuah polemik atau diskursus. Mulai dari cara daring yang kental akademis, ocehan sporadis yang tak berbobot hingga dilanjutkan ke arena baku hantam di dunia nyata. 

Pada kondisi ini sangatlah diperlukan Ultras Codex, yaitu melawan tulisan dengan tulisan yang berbobot sama dan seimbang. Baik dalam hal konten dan penyajiannya. Dengan Ultras Codex diharapkan polemik yang kita bangun akan semakin menemukan ruang pertarungan yang seimbang dan logis.  

Perlu diingat bahwa tradisi berpolemik melalui tulisan merupakan etis moral para intelektual dan para tokoh kebangsaan di era pergerakan nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Etis moral Ultras Codex sudah saatnya menjadi pembelajaran bagi pendewasaan semangat berpolemik dan berliterasi yang sehat. Lihat saja bagaimana Pramoedya Ananta Toer yang juga kerap berpolemik lewat tulisan berbobotnya. Beliau menjadi lawan polemik Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka yang seorang penulis juga. 

Melalui Harian Bintang Timur, dalam Lembaran Lentera yang diasuh oleh Pramoedya, karya-karya Hamka menjadi bahan kajian kritis. Tulisan lawan tulisan. Bukan tulisan lawan tindakan fisik represif ala rezim.  


Dengan Ultras Codex, kritik akan berimbang dan fokus serta akan terhindar dari gaya perundungan. Debat kusir yang sangat tidak bermanfaat baik dari sisi waktu dan etis moral juga dapat dihindari.  Pun begitu, tulisan yang berbeda aliran ataupun paham tidak akan berbalik menjadi tulisan yang saling menghina sesamanya. 

Beropini sekaligus berpolemik di media sosial memang mempermudah Anda untuk membagikan beragam pendapat. Namun perlu dingat bahwa pengguna media sosial itu adalah persona yang memiliki aktivitas lainnya selain memperhatikan media sosial. 

Jadi pakailah Ultras Codex untuk menghargai waktu orang lain. Ketika sudah terkapar ya sudahi saja. Tak perlu berjilid-jilid seperti demo yang satu itu. 

Posting konten yang terlalu panjang bertele-tele apalagi bermehek-mehek adalah bukan jiwa Ultras Codex. Ini bukan ruang jurnal akademis yang penuh catatan kaki. Pilihlah diskursus yang dapat menyajikan baku hantam opini singkat dan padat tanpa mengurangi esensi akademisnya. 

Logika lawan logika, tulisan lawan tulisan, pemikiran lawan pemikiran, pendapat lawan pendapat. Satu lagi, pengajian jangan lawan dengan cegat.

Hail Ultras Codex!

Artikel Terkait