Tak sedikit dari kita yang hidup di masa sekarang ini benar-benar bisa terlepas dari serangan bermacam informasi. Tak satu pun. Dengan sifatnya yang menular dan secara masif, sebuah informasi mudah tersebar lewat berbagai perangkat media di setiap waktunya.

Kita saat ini benar-benar disuguhi oleh beragam bentuk informasi pemberitaan tanpa henti. Sebuah berita atau informasi masuk ke dalam perangkat elektronik yang kita bisa konsumsi kapan saja dan di mana pun tanpa batas. Bersamanya kabar baik dan buruk kualitasnya bersatu padu tak terpisahkan. Menilai suatu kabar benar dan salah (hoaks) pun terkadang kita sendiri tidak bisa mengurainya, karena kebenaran telah menjadi sebuah enigma manusia sejak lama.

Kemampuan untuk mengurai enigma kebenaran dan keakuratan sebuah berita dinilai benar dan salah penting untuk dilakukan. Terlebih pada saat sekarang ini, di mana segala sesuatunya sudah tanpa batas, definisi, dan identitas.

Konsekuensi logisnya, ketika jiwa sudah dipenuhi oleh hasrat negatif akibat realitas kehidupan yang serba paradoksal, maka ia dapat mengarah pada hasrat akan sebuah kebenaran. Hanya pada kebenaran manusia bergantung, kepada kebenaranlah manusia berlindung dari segala macam pemberitaan media yang terus merundung.

Apa yang kita alami saat ini adalah sebuah kenyataan. Manusia berada pada kondisi yang dilematis. Situasi dilema itu bisa kita lihat atau bisa dialami kita bersama, meyakini bahwa sesuatu (kabar atau informasi) itu benar bisa salah dan menyalahkan suatu hal juga dianggap tidak benar, semuanya relatif. Prinsip relativitas itu tampaknya masih bisa dijadikan sebuah acuan logis meski terkadang bertentangan dan berpretensi pada timbulnya ketegangan sosial.

Ketegangan bisa saja terjadi manakala kita tidak lagi bisa menerima pendapat orang lain dan meyakini hanya pendapatannya saja yang paling benar. Meskipun ada jalan tengah di antara keduanya, yaitu dengan sikap tenggang rasa antar sesama untuk bersama-sama saling merendahkan egosentrisme.

Sifat paradoksal merupakan sunnatullah. Karena dalam prinsip dasar penciptaan alam semesta, Tuhan telah menciptakan dua hal saling berpasang-pasangan. "Dan segala sesuatunya kami ciptakan serba berpasang-pasangan" (QS.51:49).

Kata "zawjain" dalam ayat di atas menurut Rasyid al Din Mayahbudi yang dikutip oleh Sachiko Murata dalam The Tao of Islam mengartikan secara luas tidak hanya pada pengertian pasangan antara pria dan wanita, melainkan pada aspek yang lebih luas seperti adanya siang dan malam, panas dan dingin, langit dan bumi, serta baik dan buruk sekalipun.

Inilah teka-teki besar umat manusia dalam kehidupannya. Sebuah realitas yang dalam pendekatannya telah banyak menimbulkan korban jiwa akibat jalan yang ditempuh tidak berimbang atau tidak selaras dan tanpa pertimbangan.

Keadilan merupakan inti di setiap kali menempatkan kebenaran dan kesalahan sebagai realitas yang harus diputuskan. Menjadi adil tentu bukan perkara mudah. Oleh sebabnya, kita harus banyak belajar dan mawas diri dalam bersikap supaya dapat menentukan segala sesuatunya secara objektif.

Menafikan kesalahan dalam diri manusia tidak dapat dibenarkan. Bagaimanapun, kesalahan tidak bisa dihapuskan dalam kehidupan manusia karena itu ada (melekat) di tengah kita selaku makhluknya sejak pertama kali diturunkan di atas planet bumi. Mengindahkan dunia tanpa cela sedikitpun sukar kita capai bersama, jika kita menolaknya pun juga tidak akan bisa, karena Tuhan telah menciptakan segala sesuatu sesuai kadarnya.

Pun halnya dengan apa yang terjadi belakangan ini, suara gegap gempita pasukan jubah putih yang suka turun aksi. Gema takbir dan selawat menggema demi janji suci, menegakkan syariat dan sunah nabi daripada melakukan introspeksi dan me-reinterpretasi kitab suci. Berpikirlah sebelum berpacu dalam emosi.

Beberapa hari lalu, Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) melaporkan Ganjar Pranowo selaku calon gubernur Jawa Tengah (Jateng) atas tuduhan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan) dan penistaan agama terkait puisi yang dibawakan Ganjar dalam acara Rosi, Talk Show Kandidat Pilkada Jawa Tengah di Kompas TV (detik.com).

Namun, pelaporan tersebut ditangguhkan setelah mengetahui bahwa puisi yang dibawakan oleh Ganjar merupakan karya Musthofa Bisri alias Gus Mus, tokoh senior Nahdlatul Ulama. Konyolnya, FUIB harus menjilat ludah sendiri karena dangkalnya pengetahuan mereka tentang sebuah karya sastra.

Lain Ganjar Lain Pula Sukmawati

Puisi Sukmawati mendadak viral di banyak media. Puisi Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap menista agama akibat membanding-rendahkan agama Islam dituntut untuk segara disidangkan.

Ada banyak kelompok yang melaporkan Sukmawati ke polisi atas puisi “Ibu Indonesia” dalam acara 29 tahun Anne Avantie. Dari sekian pelapor, yang paling getol berasal dari para alumni Aksi Bela Islam 212.

Atas puisi Sukmawati, muncul reaksi massa oleh para Alumni 212 di beberapa tempat, seperti terjadi di Pamekasan Madura dan Poso Sulawesi tTngah. Dalam aksi, mereka meminta aparat penegak hukum untuk mengadili Sukmawati di atas meja hijau.

Meski Sukmawati sudah melayangkan permohonan maaf secara terbuka dan menyampaikan pula secara langsung kepada ketua MUI, K.H. Ma'ruf Amin, tetapi tetap saja mereka tidak puas hati lantaran emosi sudah membuncah di dalam dada.

Sebegitu dalamkah luka yang menggores hati (kalau ada) umat Muslim Indonesia sehingga tidak mau memaafkan sesamanya?

Sikap kritis dan waspada masyarakat dalam jalannya Pilkada dan lain sebagainya agar terhindar dari unsur SARA patut diapresiasi. Akan tetapi, masalahnya adalah sikap sebagai pengawas sekaligus pengkritik harus bisa mengedepankan aspek rasionalitas tinimbang egoisme golongan.

Tujuannya supaya terhindar dari aksi yang muncul dari sebuah informasi hasil produksi media. Frame media lewat pemberitaan dan informasi telah membentuk banyak karakter manusia untuk turun aksi tanpa mediasi terlebih dahulu.

Apa yang pernah disampaikan oleh Karlina Supelli (2016) tentang “Berpikir dan Bertindak Masuk Akal” dapat menuntun kita untuk sekadar berpikir cermat dalam menyampaikan pendapat. Tidak mudah tentunya berpendapat tanpa dibarengi pengetahuan yang luas dan secara terbuka menerima penilaian dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Selama ini kita masih berdebat panjang perihal putusan dari sebuah pemahaman. Ujung pangkal sebuah putusan pemahaman berasal dari informasi yang terlalu cepat diinterpretasikan lalu kemudian diputuskan secara sepihak, bahwa si A baik dan si B kebalikannya, seolah memandang dunia secara hitam dan putih.

Masa lalu cukuplah menjadi pelajaran untuk perbaikan ke depan. Peristiwa Ahok pada tahun 2017 lalu kiranya dapat menjadi pelajaran supaya kita tidak lagi banyak menguras energi dan agama tidak lagi dijadikan sebagai alat oleh pihak tertentu demi kepentingan politik.

Bersyukur isu agama seperti belakangan ini terjadi sebelum kontestasi Pilpres (Pemilihan Presiden), sebab masyarakat Indonesia dapat belajar dan dapat membuka wawasan politiknya, kecuali mereka yang bebal dan memiliki akal yang dangkal.