Dalam tulisan pendeknya yang antara lain tertuju kepada saya, Nirwan Arsuka membela sains dengan mengajukan pertanyaan retoris: apakah sains “pongah dan mengagulkan diri”? Beberapa kalimat kemudian: “…katakanlah sains memang pongah dan gemar mengagulkan diri. Terus kenapa?”

Pertanyaan itu agak aneh, (artinya, saya tak sanggup menjawabnya), tapi saya tak akan mempersoalkannya. Pertama, karena saya tak pernah dengar ada yang menuduh sains demikian. Kedua, dengan memakai metafor “pongah” dan “mengagulkan diri”, saya takut membawa diskusi ini ke dalam pembahasan budi pekerti.

Saya lebih baik di sini bicara soal “scientism”, yakni sikap (ada yang menganggapnya ideologi) yang menjunjung sains tinggi banget, katakanlah, setinggi 10 x Monas.

Kata “scientism” (saya terjemahkan sebagai “saintisme”) memang sudah jadi pejoratif, dan makin sedikit orang yang menyatakan diri sebagai pengusung saintisme. Tapi semangatnya masih berlanjut — terutama di kalangan pengagum Richard Dawkins dan “Ateisme Baru”.

Sebenarnya tak pasti benar apakah sesungguhnya Dawkins dan teman-temannya termasuk golongan orang-orang yang berada di jalan saintisme. Tapi seperti mereka yang sepaham dengan saintisme, Dawkins, pengagum dan epigonnya, pada percaya, bahwa ilmu pengetahuan empiris merupakan satu-satunya dasar bagi pengetahuan sejati; mereka juga “evidensialis”: beranggapan bahwa pengetahuan harus bisa dibuktikan.

*

Dalam tanggapan saya buat tulisan AS Laksana beberapa hari yang lalu — yang juga saya pasang di sini — saya kutip Karl Popper yang mengatakan bahwa saintisme “secara dogmatis menekankan otoritas pengetahuan ilmiah”.

Karena saya anggap dalam hal ini Popper kurang terang dan tajam, akan saya pinjam penjelasan Ian Hutchinson, seorang fisikawan yang mengajar sains nuklir di MIT.

Saintisme, kata Hutchinson dalam “Monopolizing Knowledge” (2011), menganggap sains — artinya ilmu-ilmu alam modern, pewaris revolusi ilmu yang bermula sejak abad ke-16 — sebagai satu-satunya sumber “pengetahuan yang sebenarnya”. Kata kunci: “satu-satunya”.

Dengan batasan itu, Hutchinson menganggap saintisme sebagai “a ghastly intellectual mistake”, kesalahan intelektual yang mengerikan. Para penganut saintisme misalnya menganggap keyakinan agama, karena tak “ilmiah”, berarti tak rasional dan tak dapat dibenarkan. Padahal, kata Hutchinson, “banyak keyakinan penting, baik yang sekuler maupun yang religius…bisa dibenarkan (justified) dan rasional, tapi tidak ilmiah”.

Dengan kata lain, jika “tidak ilmiah”, itu artinya tidak mengikuti prosedur ilmu-ilmu alam modern dengan kekuatan kuantifikasinya — yang menurut Husserl dimulai Galileo di abad ke-7 — tak berarti itu pengetahuan yang keliru, kuno, dan dianggap sudah (pantas) mati. Atau hanya pandangan berdasarkan suka dan tak suka secara pribadi.

Beberapa saintis memang cenderung memonopoli pengetahuan dan kebenaran. Di tahun 1995, Peter Atkins, kimiawan Inggris yang banyak menulis itu, membuat satu esai, “Science as Truth”. Ia menegaskan “kompetensi universal sains”, “universal competence of science”. Yang ia maksudkan, ia anggap sains punya kompetensi untuk menjelaskan segala hal, kapan saja, di mana saja.

Lebih tegas lagi kita temukan dalam pembukaan buku “The Grand Design” yang tersohor yang disusun Stephen Hawking dan Leonard Mlodinow. Di situ dikatakan “filsafat sudah mati” dan pertanyaan dasar seperti tentang “kodrat realitas” sudah diambil alih untuk dijawab sains, terutama ilmu fisika.

Ini bisa dianggap kepongahan Hawking. Tapi karena saya tak ingin membahas budi pekerti, lebih baik saya katakan pernyataan itu tak menyelesaikan pertanyaan yang lebih dasar.

Ada pertanyaan Einstein yang menggaungkan satu paradoks yang dalam: “The most incomprehensible thing about the universe is that it is comprehensible.” Hawking and Mlodinow mengutip ini dan menjawab: “The universe is comprehensible because it is governed by scientific laws; that is to say, its behavior can be modeled.”

Yang tak ditanyakan lagi oleh dua orang piawai itu: mengapa alam semesta kita kok diatur oleh hukum-hukum sains, “ governed by scientific laws.” Itu pertanyaan Einstein yang tersirat dalam paradoks yang dikemukakannya. Itu pertanyaan filsafat yang belum mati.

Walhasil, kemajuan sains memang dahsyat. Karya Hawking mengagumkan. Maka saya tak meragukan apa yang didapat manusia dari sains. Yang saya ingin tunjukkan: sains, sebagaimana yang dipikul saintisme, tak menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang penting, sementara ia diletakkan dalam posisi palsu: “memonopoli pengetahuan.” [*]