Banyak orang berpendapat bahwa belajar filsafat itu rumit, tidak jelas dan tidak pasti. Namun siapa sangka, belajar filsafat bukan hanya untuk mereka yang kuliah di fakultas filsafat saja, namun setiap orang dapat belajar filsafat dengan mudah. Setiap orang pada dasarnya ialah berfilsafat. Karena manusia berpikir, berpikir dan selalu berpikir.

Oleh sebab itu filsafat disebut ilmu tentang berpikir. Manusia yang selalu berpikir maka ia akan mendapatkan buah-buahnya yaitu buah kebenaran dan kebijaksanaan. Karena bagaimanapun juga, manusia adalah pemikir dan belajar filsafat akan menguntungkan baginya, sebab manusia akan mengetahui pemahaman-pemahaman yang mendalam tentang hakikat berpikir. 

Hal ini sesuai dengan arti filsafat itu sendiri yang menunjukkan bahwa seseorang cinta akan kebijaksanaan. Perlu diketahui bahwa dalam ilmu filsafat terdapat sifat-sifat dasar dalam berfilsafat, salah satunya kritis. Bagi penulis, sifat kritis ini masih relevan hingga saat ini. Sifat kritis ini akan memengaruhi seseorang dalam menanggapi sesuatu.

Sering kali manusia bertanya-tanya mengenai arti hidup, tujuan hidup, tanggung jawab dan kewajiban sebagai manusia. Pertanyaan-pertanyaan praksis inilah yang membuat manusia menjadi kebingungan. 

Manusia menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti ini dinilai sangat penting supaya dapat ditangani secara bijak sehingga masalah tersebut dapat terselesaikan. Dengan inilah filsafat berusaha untuk memecahkan masalah-masalah ataupun pertanyaan-pertanyaan yang dihadapi, salah satunya dengan berpikir kritis.

Berpikir kritis dianalogikan seperti tanaman, karena berpikir kritis akan sampai ke akar-akarnya. Hal itu dikarenakan karena berpikir kritis tentu akan mencari jawaban hingga benar-benar memuaskan atau dengan kata lain berpikir kritis tidak akan pernah habis. Hal ini menguntungkan bagi manusia, sebab berpikir kritis mendukung untuk mendalamnya permenungan mengenai realitas kehidupan ini.

Sebagai lulusan Fakultas Filsafat tentu sudah dibekali dengan berbagai macam mata kuliah yang semuanya menggunakan pikiran kritis. Belajar dari tokoh-tokoh filsafat yang berpikir secara kritis untuk visioner. Dan pemikiran-pemikiran mereka masih relevan hingga saat ini. Tentu ini membawa angin segar bagi tatanan dunia saat ini disaat menjamurnya teknologi informasi.

Saat ini teknologi informasi semakin marak, hal ini disebabkan karena kebutuhan zaman yang semakin maju pula. Tentu teknologi informasi ini tak boleh sampai ketinggalan zaman. Tiap tahun selalu ada pembaruan dalam teknologi ini. Hal ini akan membawa keuntungan tersendiri, karena masyarakat dunia juga semakin peka dan tanggap akan teknologi informasi ini.

Di tengah revolusi teknologi informasi, banyak berita-berita yang bermunculan. Kita dapat membaca berita dari luar negeri dan begitu pula sebaliknya. Patut diwaspadai, ternyata revolusi teknologi informasi ini bukan hanya memunculkan berita faktual saja, namun juga tentang berita hoax

Para produsen hoax memanfaatkan waktu yang tepat ini untuk memproduksi berita-berita yang tidak ada kebenarannya. Dengan mudahnya mereka memutar balikkan fakta yang ada. Media sosial dimanfaatkan sebagai ladang untuk menyebarluaskan berita hoax. Tentu ini sangat meresahkan masyarakat.

Di tengah maraknya berita hoax, ternyata masih ada saja masyarakat yang mempercayai berita hoax tersebut. Dan parahnya lagi, sudah termakan hoax lalu menyebarkannya pula. Secara cepat berita tersebut sudah menyebar kemana-mana dan menjadi trending topic. Dan apabila tertangkap basah oleh pihak kepolisian, pasti saling melempar mengenai siapa penyebar berita tersebut.

Di Indonesia sendiri hingga saat ini masih banyak berita hoax bertebaran. Seperti yang termuat dalam koran Jawa Pos. Setiap hari, koran Jawa Pos selalu menampilkan kabar hoax dalam rubrik ‘Hoax atau Bukan’. 

Dilihat dari yang termuat di rubrik tersebut, banyak masyarakat yang menyebarluaskan dan juga mempercayainya sebagai berita asli. Ini merupakan suatu keadaan yang sebenarnya tidak bijak.

Lulusan Fakultas Filsafat tentu sangat familiar dengan fenomena hoax. Fenomena ini menjadi musuh besar dari filsafat sebab berbanding terbalik dengan definisi filsafat yang cinta akan kebijaksanaan. Membasmi ialah langkah tepat untuk mengurangi bahkan menghilangkan kabar hoax. Sebagai seorang lulusan filsafat, kita harus mampu membedakan mana kabar hoax dan mana kabar asli.

Dengan berpikir kritis, tentu sangat membantu dalam mengolahnya. Berpikir kritis berarti mengolah dahulu sebelum bertindak. Dalam kaitan ini, sebagai lulusan filsafat, kita bekerja di balik layar. Maksudnya ada berita yang banyak diberitakan dan diperbincangkan banyak orang tidak langsung ditanggapi begitu saja atau malahan membuat kegaduhan. 

Tetapi dikritisi terlebih dahulu, mengumpulkan banyak sumber yang memberitakan kabar tersebut lalu dianalisis dan yang terpenting ialah tidak ikut terbawa arus berita tersebut, intinya kembali pada diri sendiri dan mempunyai prinsip. Langkah berikutnya adalah apakah berita tersebut layak untuk dibagikan atau diklarifikasi atau dikomentari.

Lulusan filsafat bekerja di balik layar bukan berarti hanya diam-diam saja, malahan ini menjadi tanggung jawab yang sangat besar untuk mengolah berita tersebut, agar masyarakat tidak termakan hoax

Lulusan filsafat dengan ilmu yang sudah ia miliki dan kuasai akan membentuk sikap kritis karena sudah terlatih semenjak awal kuliah. Karena berpikir kritis akan selalalu ada. Bahkan dalam menanggapi revolusi teknologi informasi yang semakin memakan korban yang tidak mengolahnya dulu.

Menggunakan pisau bedah filsafat, berpikir kritis merupakan suatu keharusan bagi lulusan filsafat, dalam hal ini penulis khususnya untuk semakin siap dengan perkembangan teknologi informasi. Tanpa adanya berpikir kritis, tatanan dunia akan hancur. Bisa jadi lulusan filsafat menjadi garis terdepan dalam mengkal hoax

Memang dalam menangkal hoax semua orang bisa menjalaninya, namun lulusan filsafat dapat dikatan lebih mendalam, sebab dipengaruhi oleh adanya tokoh-tokoh filsuf yang masih relevan hngga saat ini.