Menyanggah pandangan Goenawan Mohamad (GM) tentang sains bukan lagi hal menarik buat saya karena sudah pernah saya lakukan dua dekade yang silam ketika menulis pengantar Kata-Waktu (2001). Tapi rupanya sanggahan tetap perlu diberikan karena GM, dengan kegigihannya yang menakjubkan, terus saja mengeluarkan pernyataan yang merepresentasikan sains dengan cara yang bisa mengundang komedi, dan akibat yang mungkin mengandung tragedi. 

Sudah ada yang membayangkan GM jadi corong paling bertenaga dari agenda-agenda yang tak berniat merawat, bahkan mungkin ingin menghambat, pertumbuhan pengetahuan ilmiah yang di negeri ini akarnya belum menghunjam kokoh tapi batangnya sudah dilingkari benalu. Meski demikian, dalam polemik sains yang masih berlangsung ini, tetap terasa hasrat GM untuk terus mencari percakapan yang asyik, yang bernas, di mana orang bisa sengit berdebat namun tetap hangat bersahabat.

Memang akan segera tampak teknik andalan GM yang gampang menyulut polemik, karena mudah membawa ke berbagai falasi, seperti appeal to authority dan cherry picking, yakni menghimpun berbagai kutipan dari nama-nama besar, yang dipilih menurut bias GM sendiri. GM misalnya kerap mengutip Martin Heidegger, tapi tak pernah mengutip lawan debat Heidegger yang wawasan filosofisnya tentang sains justru lebih luas, dan pernah menulis telaah tentang teori relativitas, matematika, dan mekanika kuantum: Ernst Cassirer.

Perdebatan dua filosof penting ini direkam misalnya oleh Peter Gordon dalam Continental Divide: Heidegger, Cassirer, Davos (2010). Alois A. Nugroho telah mengindonesiakan dengan bagus buku yang meringkas karya monumental Cassirer, Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia (1990).

Di balik aneka kutipan dari nama-nama mencorong, yang kebanyakan sudah jadi bagian dari abad yang silam itu, tampaklah teknik utama GM merepresentasikan sains, suatu teknik yang dalam dunia sastra dikenal sebagai majas synechdoche. Tepatnya pars pro toto, yakni mengambil sebagian unsur untuk menunjukkan keseluruhan objek. 

Jika digunakan dengan tepat, pars pro toto bisa mendesirkan sensasi kognitif yang sedap dan memperkaya pengertian. Jika tidak, ia malah bisa memiskinkan. Tanggapan kawan-kawan dalam polemik sains ini, khususnya AS Laksana, Taufiqurrahman, Hamid Basyaib, dan Lukas Luwarso, adalah upaya dari berbagai penjuru untuk membendung pemiskinan pengertian atas sains yang diusahakan GM.

Andai aneka penyataan tentang sains yang diumumkan GM itu diikat, maka ikatan itu mungkin terlihat seperti sebentuk jari, atau ujung tombak Don Quixote. Dan tombak itu menunjuk ke sebuah bulan, dan bulan itu adalah keadilan dan keindahan, yang tampak akan sirna ditelan gerhana pengetahuan ilmiah. Karena itu kentongan harus ditabuh, peringatan harus disebar. 

Bagi GM, juga Ulil Abshar Abdalla, Haidar Bagir, dan sebagian besar yang cemas pada kekuatan besar sains, sains yang ditopang berkembang sesuai dinamikanya sendiri akan menjadi ancaman buat keadilan karena akan menggusur jenis-jenis pengetahuan yang lain. Sambil mengutip Heidegger, GM mengingatkan bahwa sains yang diangkat menjadi jenis pengetahuan yang terbaik akan membuat orang abai pada seni dan puisi.

Mereka yang mencemaskan kekuatan sains ini datang dari latar yang beraneka, juga dari kalangan saintis sendiri. Salah satu ilmuwan yang dikutip GM dalam tulisannya untuk menanggapi saya adalah Ian Hutchinson, guru besar fisika nuklir, MIT, yang menulis sejumlah buku antara lain Monopolizing Knowledge (2011).

Saya belum baca buku Hutchinson yang disebut GM itu, tapi saya sudah menyimak video ceramahnya yang berjudul sama. Ia menilai, sains dengan metodenya sudah beroperasi seperti agama.

Eksplorasi sains dan pengukuhannya sebagai satu-satunya jenis pengetahuan yang valid memang mengancam iman yang ia peluk teguh. Antara lain untuk mencegah sains jadi "monopolizing knowledge" itulah sejumlah sarjana, seperti ditunjukkan oleh Fransisco Budi Hardiman dan Fitzerald Kennedy Sitorus, mencoba juga menegakkan garis demarkasi yang membatasi wilayah jelajah sains.

Keadilan Ilmiah

Metode sains yang asal-usulnya tidak istimewa dan tak turun dari langit itu memang meminjam sangat banyak dari khazanah agama, sastra, dan filsafat. Mereka yang paham sejarah metode ilmiah akan tahu bahwa metode ilmiah adalah reaksi sekaligus pelampauan atas metode-metode pencarian pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Sains pun kemudian menambahkan ke dalam dirinya hal-hal yang tak terdapat dalam tradisi agama dan filsafat. Yang paling jelas terlihat adalah instrumen observasi dan eksperimentasi yang kekuatannya kian dahsyat, jauh melampaui kemampuan alami manusia.

Metode ilmiah yang terus diperkaya dan dikoreksi itu boleh dikata adalah algoritme pemecah masalah dan pencari kebenaran yang paling hebat dalam sejarah. Dengan algoritme itu manusia menjelajah dan memperluas pemahamannya akan alam semesta, menemukan tepian-tepian terjauh yang mungkin belum dibayangkan manusia yang paling cerdas sekalipun seratus tahun sebelumnya.

Yang paling berharga dari metode ilmiah itu bukan hanya pada jangkauannya, tapi juga pada keterbukaannya untuk melibatkan semua orang siapa pun dan di mana pun, tanpa memedulikan keyakinan, warna kulit, dan berbagai latar belakangnya. Bahkan bisa dikatakan regulator terpenting dari pengetahuan ilmiah itu adalah objektivitas dan universalitasnya. Pengetahuan tersebut harus bisa diuji kapan pun dan di mana pun. Karena itu, clarity dan repeatability menjadi sangat penting.

Pengetahuan apa pun yang tak memiliki objektivitas dan universalitas, yang berlaku hanya untuk kaum tertentu dan tak bisa diuji di semua ruang dan waktu, memang tak dapat disebut sebagai pengetahuan ilmiah. Hukum Elektromagnetisme Maxwell, misalnya, tetap akan benar sekalipun orang tak memercayainya, dan mereka tetap bisa mengambil manfaat darinya sekalipun mereka tak pernah berterima kasih padanya.

Metode sains yang sadar kriteria dan sangat kritis serta terus-menerus mengembangkan diri itu jelas jauh meninggalkan metode religius dan filosofis. Sains bahkan jauh meninggalkan dirinya sendiri. Andaikan bisa dihadirkan dari masa silam, Galileo atau Darwin pasti akan terpana melihat perkembangan sains saat ini.

Karena itu, wajar dan adil jika dikatakan bahwa sains itu lebih bertenaga, lebih unggul, dari agama dan filsafat, dalam mencari kebenaran universal yang teruji, dalam memburu misteri dan membentuk kenyataan-kenyataan baru. Di mana ada misteri, ke sana sains akan bergerak, bagai air yang secara alamiah meluncur ke tempat-tempat yang lebih rendah. Makin dalam dan luas misteri itu, makin deras sains akan terjun ke sana.

Gerakan sains ini bukanlah kepongahan atau kesalahan intelektual yang mengerikan, bukan derap dari pengetahuan yang ingin memonopoli kebenaran. Ia hanyalah perpanjangan dari dorongan kodrati rasa ingin tahu manusia, dorongan yang telah melahirkan peradaban dan kebudayaan, kodrat untuk bertahan hidup dengan memperluas kawasan yang bisa diketahui dengan menerangi wilayah gelap yang mengancam.

Jika alam semesta yang demikian luas tak bertepi dan jagat kognisi yang pelik tak terperi itu bisa dengan leluasa dijelajahi oleh sains, maka tuntutan agar sains membatasi diri dan tak masuk teritori agama dan filsafat adalah tuntutan yang lemah, dan menampik kodrat umat manusia.

Eksplorasi akan sulit dibendung hanya dengan membangun tembok. Penegakan demarkasi yang kadang disertai cemoohan pada sains itu kerap berlatar keguncangan sebuah visi tentang dunia yang di dalamnya para pembangun demarkasi menjangkarkan orientasinya pada kehidupan. 

Meruntuhkan demarkasi dan membiarkan sains masuk lalu menginterogasi dan merombak tatanan pengertian yang dianggap sakral memang bisa berakibat kacaunya orientasi itu, dan orang merasa seperti kehilangan arah, kehilangan makna dan tujuan hidup. Tapi mereka yang jernih dan terbuka akan mungkin menerima guncangan itu sebagai bagian dari pertumbuhan.

Pembebasan Pengetahuan

Di zaman mutakhir ini, memang hanya sains, atau pengetahuan yang bersinergi dengan sains, yang paling mungkin jadi jalan lebar buat seseorang untuk ikut menerangi dan memperkaya khazanah dunia. Pengetahuan yang selama ini disebut tidak ilmiah dan pinggiran dapat membuka diri pada gerak sains dan menjadi lahan yang subur buat berkembangnya pengetahuan-pengetahuan baru.

Ada banyak contoh mengenai riset ilmiah di bidang mistisisme, misalnya, yang menguakkan pengetahuan baru. Contoh mutakhir antara lain tersaji di buku Kabbalah: A Neurocognitive Approach to Mystical Experiences (2015).

Moshe Idel, sarjana mistisisme dan pemikiran Yahudi, dan Shahar Arzy, neurologis sekaligus ahli neurokognitif, memadukan kekuatan mereka untuk mengeksplorasi misteri Kabbalah dari perspektif yang baru. Sebagai pengganti dari pendekatan teologis, sosiologis, dan psikoanalitik yang selama ini menguasai studi tentang pengalaman mistis ekstatik, keduanya menggunakan pendekatan neurokognitif dan berusaha memecahkan kode mekanisme otak yang mendasari fenomena misterius itu.

Studi yang dihasilkan menawarkan pemahaman ilmiah tentang bagaimana para pengamal Kabbalah mencapai pengalaman mistik mereka yang berharga. Studi ini lebih lanjut mendaskan betapa para Kabbalis telah bergulat meneliti diri manusia, jauh sebelum munculnya sains modern (dikutip dari situs Amazon).

Dari ranah akademik Indonesia, banyak juga kasus tentang kerja sama sains dengan pengetahuan lokal untuk menyingkap kekayaan khazanah dan membangun kekuatan pembebasan. Salah satunya tersaji dalam buku Ryan Sugiarto, Psikologi Raos, Saintifikasi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram (2015).

Kritik tentu bisa diajukan ke buku ini. Tapi dengan bantuan protokol penulisan karya ilmiah, penulisnya telah mencoba mengangkat pemikiran tokoh spiritual Jawa itu jadi pengetahuan yang runut dan mudah dimengerti. 

Penulis juga membuka sebuah pintu bagi dunia luar untuk masuk memahami salah satu mutiara renungan dari Indonesia. Dengan saintifikasi yang memuliakan sistematisasi dan pengujian bersama, pengetahuan yang dianggap lokal dan esoterik memang mungkin membebaskan diri dari kungkungan wilayah primordialnya dan jadi bagian dari khazanah ummat manusia.

Antara lain karena keampuhan metode ilmiah dan kekuatan sains yang menjanjikan itulah maka para perintis dan pendiri republik kita meletakkan ilmu pengetahuan di tempat yang utama. Kita ingat Madilog Tan Malaka yang mengajukan penalaran dan pengetahuan ilmiah sebagai prasyarat revolusi yang sejati.

Para pendiri bangsa yang lain melihat pengetahuan ilmiah, khususnya kesehatan, sebagai kekuatan untuk "Merawat Bangsa," sebagaimana ditulis Hans Pols dalam Nurturing Indonesia (2018). Kekuatan ilmu pengetahuan untuk "Memelihara Jiwa-Raga Bangsa" dipaparkan juga oleh Vivek Neelakantan dalam Science, Public Health and Nation Building in Soekarno-Era Indonesia (2017).

Ringkasnya, tak ada pemikiran kebangsaan dan kenegaraan yang bisa dianggap benar-benar serius dan bertanggung jawab, jika tak merengkuh kekuatan pengetahuan ilmiah dan teknologi ke dalam dirinya.

Para pendiri republik memang melihat kekuatan revolusioner yang membebaskan pada sains dan teknologi, tapi GM memilih berpikir lain. Dan seperti Don Quixote yang memacu Rocinante dengan penuh semangat untuk menyerbu kincir angin yang terlihat seperti monster, GM pun mengerahkan kepiawaiannya menulis untuk menyerang bayangan gelap yang akan menelan rembulan, bayangan yang dicerapnya sebagai sains bercampur saintisme.

Polemik memang jadi sulit dihindarkan karena bagi para pengkhidmat sains, sains yang sesungguhnya adalah matahari yang terus memancarkan pencerahan, dan kegelapan saintisme yang mengancam purnama itu adalah bayangan bumi dengan berbagai tingkah laku manusia di atasnya.

Buat para pengkhidmat sains, gerhana mungkin terjadi, mungkin juga tidak. Kalaupun terjadi, entah separuh atau penuh, gerhana itu hanya gejala sekunder dan akan berlalu.

Gerhana saintisme itu memang bukan disebabkan oleh terang benderangnya matahari pengetahuan ilmiah, tapi oleh gerak orbit bumi yang belum diintervensi. Gerhana saintisme adalah buah kecemasan dan tindakan sejumlah manusia di bumi yang menghalangi cahaya pengetahuan ke bulan.

Mereka yang menegakkan demarkasi dan membatasi gerak sains sama dengan mencoba membatasi gerak matahari. Dan mereka yang mencoba membentengi sistem pengetahuannya agar tetap tak berubah dan terkena goncangan mirip dengan upaya mempertahankan posisi bumi tetap tak bergerak antara matahari sains dan rembulan puisi.

GM yang membela rembulan dan menyerang gerhana saintisme itu memang jadi mirip Don Quixote, karakter fiksional yang dekat di hatinya dan mengilhami sejumlah karyanya. Tapi seperti yang dipaparkan oleh Vladimir Nabokov tentang Don Quixote yang mengalami penggandaan sosok, GM juga bisa dilihat sebagai separuh Devil's Advocate yang mengemukakan pendapat kontroversial untuk memancing perdebatan dan menguji kekuatan argumen pihak yang yang dihadapinya.

Dari penasihat bertanduk, yang digambar dengan apik oleh Ayu Utami, ini dapat dipetik sekian kesimpulan. Yang paling jelas, dan juga klise, adalah: tak apa jika GM tetap ingin mengarahkan tombak kepiawaian menulisnya ke gerhana yang mengancam bulan, bagai Don Quixote yang terus melawan siapa pun yang menampik Dulcinea de Toboso perempuan paling cantik sedunia, namun lawan-lawan debatnya memang perlu bekerja lebih keras mengarahkan kekuatan ke bumi untuk menggesernya dari orbitnya yang alami.

Menggeser orbit bumi itu artinya memperkuat penyebaran institusi ilmu dan teknologi, mendorong literasi sains masuk ke semua aspek kehidupan agar kian banyak orang yang bisa ambil bagian aktif membentuk kenyataan baru dunia. 

Memang betul bahwa sains menjunjung watak universal yang membuka diri pada semua pihak, namun kegiatan ilmiah belum menyebar rata ke seluruh penjuru. Masih banyak kelompok masyarakat yang belum terlibat dengan baik dalam kegiatan bersama ini.

Dan memang ada sejumlah pihak yang menggunakan sains sebagai alat untuk menggertak dan menindas. Tapi sains yang menindas sesungguhnya bukan sains lagi, dan hanya kaum yang tak memahami sains yang bisa ditindas dengan memedi saintisme.

Jika manusia sudah bisa belajar menggeser orbit bumi, artinya manusia juga sudah bisa menggeser orbit bulan bahkan matahari. Dan hantu saintisme itu akan selamanya masuk katalog impian kanak-kanak umat manusia.

Sains yang tak hanya menafsir tapi juga mengubah dunia jelas bisa membantu manusia menyebarluaskan apa yang juga sebenarnya diperjuangkan oleh Don Quixote, dan tentu juga GM. Nabokov yang panjang lebar menelaah kesatria majenun berparas murung itu akhirnya menyimpulkan: His blazon is pity, his banner is beauty. He stands for everything that is gentle, forlorn, pure, unselfish, and gallant.

Purwarupa Metode Ilmiah

Nabokov memang tajam mengkaji Don Quixote, tapi ia tak mereken Sancho Panza. Novel besar Cervantes itu tak akan kuat memancarkan ilham tanpa peran Sancho Panza, punakawan yang meski buta huruf dan bangga mengakuinya, namun arif membedakan yang maya dan yang nyata.

Dalam hal Sancho, GM lebih maju ketimbang Nabokov. Di buku sajaknya yang terbit dalam dua bahasa, Don Quixote (2013), GM mempersembahkan sejumlah puisi untuk Sancho yang setia dan penuh pengertian. Tapi tak ada puisi untuk Sancho yang kritis dan membumi, Sancho yang positivistik dan lebih suka mengajukan pertanyaan kecil tapi konkret ketimbang pertanyaan besar namun tak jelas, Sancho yang sanggup dengan kocak mengejek bahkan mengomeli kesintingan dan romatisisme sang bangsawan perwira yang yang fantastis itu. 

Tentang Sancho Panza, kita bisa simpulkan: His origin is humble, his earthy wisdom is vital. He stands for the built-in error-correcting machinery that partly makes Cervante's masterpiece, and scientific knowledge, works so well. He is a coarse prototype of scientific method, sifts the wheat from the chaff.

Kalimat tentang built-in error-correcting machinery dan keberhasilan sains itu saya pinjam dari Carl Sagan. Kritisisme dan solidaritas Sancho Panza yang tambun memendek ke arah pusat bumi, dipadu dengan imajinasi dahsyat Don Quixote yang sosoknya kurus seperti karet yang tertarik ke langit, adalah unsur dasar yang membentuk keistimewaan karya besar Cervantes itu.

Pengaruh dari pemula segala novel modern itu demikian kuat, membuat Miguel de Unamuno menyebut sebagai The Spanish Bible. Harold Bloom menganggapnya the greatest of all narratives. Karena kemampuannya melukiskan kondisi manusia dalam segenap kebenarannya yang kontradiktif dan menakjubkan, Mario Vargaz Llosa menjunjungnya sebagai novel immortal yang pantas untuk Abad 21.

Jika karya seorang sastrawan jenius yang terbit empat abad silam bisa punya dampak besar dan membuka era baru sastra dunia, dapat dibayangkan dampak dari karya jutaan jenius yang bekerja bersama di berbagai penjuru semesta. Sains yang masih terus tumbuh dan belum mencapai puncaknya itu memang bisa disebut sebagai karya terbesar umat manusia.

Jika Sancho Panza adalah pendahulu metode ilmiah, maka alam semesta seisinya ini adalah keajaiban yang jauh lebih fantastis dari impian paling gila yang mungkin dikhayalkan Don Quixote atau Cervantes. Sebagaimana Don Quixote dan Sancho Panza yang terus bercakap dan saling mengubah, metode ilmiah dan semesta raya seisinya itu juga akan saling memengaruhi, dan membawa manusia dan keturunannya memasuki era baru dan lompatan besar dalam perkembangan jagat raya.

Catatan tambahan:

1. Tentang "bisa mengundang komedi": menganggap bahwa menjunjung sains ke tempat yang tinggi akan membuat orang abai pada puisi dan seni. Justru sebaliknyalah yang dapat terjadi: menghayati dan menjunjung tinggi sains mungkin malah membuat orang makin mengapresiasi seni dan puisi.

Barangkali Heidegger tak bisa melihat kemungkinan ini, tapi Cassirer bisa, apalagi Steve Jobs, misalnya. Sains bukan saja membantu Jobs mengapresiasi seni dan puisi (ia bahkan menulis beberapa sajak), sains dan teknologi bahkan membantu Jobs menghasilkan sejumlah produk yang disain dan fungsinya begitu bagus dan memukau sehingga boleh dikata karyanya itu adalah puisi konkret. Jobs mungkin akan senyum-senyum saja mendengar pendapat yang memiskinkan sains, yang menganggap sains tak cukup kaya untuk bisa mendukung dan mendampingi seni dan puisi.

Yang pasti, komunitas sains yang matang akan cukup kaya untuk menampung dan memperlakukan adil para pemikir besar yang pendapatnya kontroversial. Isaac Newton juga punya banyak pendapat yang bisa jadi bahan komedi. Newton misalnya menulis resep untuk mengusir wabah:

The best is a toad suspended by the legs in a chimney for three days, which at last vomited up earth with various insects in it, on to a dish of yellow wax, and shortly after died. Combining powdered toad with the excretions and serum made into lozenges and worn about the affected area drove away the contagion and drew out the poison.

Tentu tak ada dokter mau mengikuti resep katak itu walaupun ditulis oleh orang sehebat Newton. Sains yang baik bisa menapis, dan memperlakukan warisan orang secara baik. Karena sumbangan Newton pada kalkulus, optika, dan mekanika memang besar, ia tetap pantas dikenang sebagai sosok kunci revolusi ilmiah dan Bapak Mekanika Klasik.

2. Tentang "mungkin mengandung tragedi": jika semua tulisan Mas Goen yang tak seimbang merepresentasikan sains itu dihimpun, ditambah dengan tulisan-tulisan lain yang mungkin muncul nanti, maka kumpulan tulisan itu bisa diberi judul macam-macam yang menarik. Selain "Sains dan Masalah-Masalahnya", calon judul yang mungkin diajukan adalah "Kerancuan Sains", atau Tahafut al-Ilmiyah.

Kita tentu ingat kitab yang judulnya mirip yang ditulis Al-Ghazali satu milenium yang silam, Tahafut al-Falasifah. Meskipun konon Al-Ghazali hanya mengkritik metafisika Yunani yang diserap oleh para filsuf muslim seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi, namun kitab itu dianggap ikut menghambat pertumbuhan pemikiran kritis di kalangan muslim dan memerosotkan peradaban Islam dari masa keemasannya.

Memang kemudian Ibnu Rusyd menyanggah Al-Ghazali dengan Tahafut at-Tahafut, tapi sanggahan itu terbit hampir seabad kemudian.