“Sekarang saya taat mengikuti protokol kesehatan. Saya memakai masker, menjaga jarak, dan yang paling rajin adalah cuci tangan. Habis pegang uang, saya cuci tangan. Setelah pegang benda di tempat umum, saya cuci tangan. Kemarin ada pertandingan sepak bola Chelsea lawan Manchester United, saya pegang Chelsea. Habis pertandingan saya juga cuci tangan.”

Begitu kira-kira lelucon yang disampaikan oleh Cak Lontong dalam sebuah penampilannya yang saya tonton dalam platform youtube. Gaya komedi verbal semacam ini kita kenal dengan istilah standup comedy.

Bulan Januari yang lalu saya berkesempatan mengikuti sebuah webinar online yang diselenggarakan oleh sebuah institusi. Institut Humor Indonesia Kini atau IHIK untuk singkatnya adalah sebuah komunitas yang berfokus untuk meneliti tentang humor. Wow.. ini hal baru untuk saya.

IHIK sendiri sebenarnya sudah berdiri cukup lama. Mereka mendedikasikan diri mereka untuk meneliti segala sesuatu tentang humor. Mengenai sejarah humor di Indonesia, industrinya, sampai peran humor dalam kehidupan sehari-hari. Dalam beberapa kesempatan IHIK juga membuka semacam kelas tentang praktek humor baik itu dalam pekerjaan, ruang kelas, atau dalam kehidupan sehari-hari.

Seminar yang saya ikuti mengusung judul “Menggila ala komika, bagaimana cara melatih perspektif humor ala komika supaya lebih kreatif” dengan fasilitator Ulwan Fakhri seorang komika, peneliti, dan penulis humor. Selain paparan materi ada beberapa games yang akan dilakukan saat kegiatan nanti yang bagi saya cukup lucu.

Saat seminar dimulai games yang pertama kami lakukan adalah games lempar batu, jadi sepatu. Karena seminar ini dilakukan secara online jadi saya penasaran bagaimana praktek games ini. Di sini setiap peserta akan saling melempar barang imajiner yang unik ke peserta lain. Si peserta yang dilempari harus menangkap benda itu dan menyebutnya dengan jenis benda unik lainnya.

Ulwan mencontohkan dengan melemparkan barang imajinernya sambil berkata. “Mas Yaser, ini saya lempari pulpen ya.” Lalu yang dilempari menimpali. “Eh.. apaan nih kok saya dilempari timun bengkok? Ini saya lempar ke Novri aja deh.” Semua peserta dengan santai menyebutkan apa saja objek imajiner yang dilemparkan ke mereka. Dan hasilnya tentu saja kreatif dan lucu.

Setelah games selesai dan peserta sudah lebih akrab dan santai. Ulwan memulai materinya dengan menjelaskan bahwa ada ikatan yang erat antara humor dan kretatifitas.

Menurut Arthur Koestler wilayah dari kreatifitas itu ada tiga, yaitu : Ilmu pengetahuan, seni, dan humor. Menurutnya wilayah itu memiliki proses kognitif yang kurang lebih sama, hanya outputnya saja yang berbeda. Jika dengan ilmu pengetahuan dapat membuat kita tercerahkan. Seni membuat kita merasakan emosi-emosi tertentu. Sedangkan humor mampu membuat kita tertawa.

Selanjutnya Ulwan menjelaskan ada 3 aspek dalam kehidupan kita yang dapat dipengaruhi oleh humor yaitu : aspek kognitif, emosional, dan motivasional.

Humor membantu proses kognitif kita untuk berpikir kreatif. Dalam sebuah meeting misalkan. Saat sebuah permasalahan tidak kunjung selesai dengan solusi umum. Sedikit bercanda dengan solusi yang tidak wajar akan memberikan alternatif jalan yang lebih banyak pastinya. Bahkan dibeberapa penelitian humor bisa dijadikan tolok ukur tingkat kreatifitas seseorang.

Dalam aspek emosional, humor mampu meredakan tingkat stress seseorang. Menghadapi rutinitas pekerjaan yang terkadang membuat penat, dengan humor ketegangan tersebut bisa diredakan.

Dan dalam aspek motivasi humor mampu memperbaiki situasi internal seseorang agar lebih bersemangat lagi dalam bekerja ataupun belajar. Di kantor atau di sekolah mungkin kita tidak mampu merubah sistem kerja yang sesuai ideal kita. Tapi humor mampu membuat suasana lebih cair dan setidaknya mampu membuat kita lebih nyaman dengan diri sendiri.

Paparan selanjutnya Ulwan menunjukkan wawancaranya dengan seorang juara dalam kompetisi standup comedy SUCI 7 yaitu Ridwan Remin. Dia menjelaskan bahwa proses kreatif dalam membuat sebuah humor dimulai dengan langkah observasi. Cari tahu lebih dalam tentang apapun yang ada disekitar. Dan saat semua itu terkumpul barulah semua informasi itu diubah menjadi humor dengan cara melihatnya dari sudut pandang yang lain.

Point terakhir ini sangat menarik. Seorang komika harus memiliki kemampuan empati yang baik untuk berkreasi dengan humornya. Ulwan melanjutkan dengan membedah beberapa jokes untuk menunjukkan bahwa banyak materi dari komedian yang menggunakan sudut pandang lain.

“Banyak orang bilang mereka benci dengan pengedar narkoba. Pengedar narkoba maksa kita buat beli narkoba. Kalian salah, pengedar narkoba itu bukan sales door to door. Gak ada pengedar narkoba ngeluh, kok stok barang saya masih banyak ya? Barang sudah numpuk di rumah anak-anak saya gak bisa tidur, sampai kecoa-kecoa aja pada ngungsi.”

Potongan lelucon dari Chris Rock tersebut mengambil sudut pandang dari pengedar narkoba. Dia membayangkan bagaimana seorang pengedar narkoba yang mengeluh barang jualannya gak laku-laku sampai numpuk di rumah. Dia juga mengambil sudut pandang kecoa yang sudah tidak betah dengan sarangnya dan harus mengungsi mencari sarang baru.

Cukup menarik kalau kita lihat. Mampu berempati dengan keadaan sekitar merupakan modal untuk bisa berkreasi dengan informasi yang kita punya. Saya yang awalnya mengira membuat lelucon itu hanya sekedar asal aneh seketika berubah. Kreatifitas dalam humor membutuhkan kemampuan empati yang tidak main-main.

Game terakhir kami mainkan sebelum seminar ini benar-benar berakhir. Game yang satu ini menarik sekali untuk saya. Disini kami diminta memberikan sebuah narasi dari ilustrasi yang tersedia. Tentu saja dengan narasi-narasi humor. Dan hasilnya kadang membingungkan tapi sering-sering membuat tertawa.

Salah satunya kami ditunjukkan sebuah ilustrasi yang menggambarkan superman sedang duduk di ruang praktek dokter penyakit dalam. Nah, kurang menggelitik apa lagi ilustrasi superman yang gagah perkasa mesti konsultasi ke dokter penyakit dalam. Cerita apa yang kira-kira sesuai dengan gambar tersebut?

Humor memang dekat sekali dengan kreatifitas. Melatih diri lebih mampu melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain. Dengan solusi-solusi lain yang tidak umum. Dan tentu saja menghasilkan tawa yang membuat badan tetap sehat.