Jika ditanya, “Apa pandangan mengenai individu (dibaca: perempuan) yang berpakaian tetapi telanjang (kurang bahan) dengan dalil kebebasan individu?” Penulis tentu akan menjawab dengan sangat keras bahwa individu tersebut tidak punya nalar yang cukup (rendah nalar) tentang kebebasan berpakaian tersebut!

Kebebasan berpakaian bukan sikap spiritual. Juga bukan soal keyakinan seperti keyakinan kepada Tuhan. Kebebasan berpakain adalah sesuatu yang harus diuji dalam rasionalitas. Lantas bagaimana rasionalitas kebebasan berpakaian?

Pembahasan tentang kebebasan individu bukan menjadi hal baru. Demikian juga pembahasan tentang kebebasan tidak pernah usai dalam peradaban manusia. Hal ini sebagai konsekuensi dari sifat kebebasan itu sendiri. Kebebasan akan selalu dimiliki sebagai hak dasar setiap individu. Artinya selama manusia atau individu masih ada maka kebebasan itu tetap ada.

Sebagai hak dasar setiap individu, Kebebasan menjadi instrumen penting yang menjamin peran individu (laki-laki dan perempuan) dalam setiap aspek politik, ekonomi, sosial dan segala aspek kehidupan yang lain. Meskipun demikian kebebasan tidak serta tanpa cacat atau problem dalam pelaksaannya (penggunaan kebebasan).

Penggunaan kebebasan sering kali menyentuh hal-hal yang paling radikal. Dalam artian kebebasan dijadikan sebagai instrumen untuk membenarkan beberapa pilihan atau pun tindakan. Misalnya kebebasan dalam berpakaian. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebebasan berpakaian adalah konsekuensi dari sebuah kebebasan individu.

Berpakain memang menjadi hak, tetapi “model” berpakaian adalah kebebesan (menurut klaim kelompok tertentu). Seringkali dalam beberapa kasus, dengan dalil kebebasan, beberapa individu (baca: perempuan) memilih mengenakan pakaian yang “kurang bahan”. Tak tanggung-tanggung bagian tubuh yang bersifat privat pun ditampilkan begitu saja. Kelompok ini berpandangan bahwa “berpakain” adalah bentuk kebebasan individu.

Penolakan pun muncul atas cara pandang seperti di atas. Pertentangan ini muncul dari kelompok yang sangat memperhatikan moral dan budaya serta kultur. Bagi kelompok ini, kebebasan berpakain seperti di atas tidak sesuai dengan nilai kesopanan dan kesantunan. Sedangkan kelompok yang sangat memperhatikan budaya dan kultur setempat menolak pandangan di atas lantas cara berpakain seperti di atas tidak sesuai dengan budaya dan kulture setempat.

Ketika suatu moral dihadapkan pada kondisi seperti ini maka muncul pemikiran subyektivitas dan relativisme. Bagi kelompok subyektivitas, tentang moral adalah sesuatu yang tidak bisa diuniversalkan. Dalam artian kondisi moral tidak bisa disamakan antar kelompok masyarakat atau individu. Moral juga sesuatu yang tidak dapat dibuktikan buruk atau baik seperti pembuktian dalam matematika.

Sedangkan kelompok relativisme mengklaim bahwa kondisi moral sangat ditentukan pada budaya dan kultur suatu masyarakat. Kondisi moral pun sangat ditentukan pada penerimaan kelompok masyarakat yang ada. Misalnya, suatu tindakan A dapat dikatakan tidak bermoral oleh kelompok X tetapi belum tentu hal yang sama berlaku pada kelompok Y.

Padahal Subyektivitas dan relativisme moral sebenarnya dua hal yang telah terbantahkan oleh rasionalitas moral. Menurut Gordon Graham (2018: 18), moralitas tidak seperti yang diperlihatkan pada subyektivitas dan relativisme di atas tetapi melibatkan nalar atau indra rasinonal dan perasaan manusia. Ini artinya moral dapat dinalar (berpikir logis) tentang baik dan buruk suatu tindakan atau pilihan.

Meskipun rasionalitas suatu tindakan atau pilihan berbeda tergantung dengan konteks atau aspek yang sedang dibahas tetapi tujuan yang hendak dicapai adalah sama, menyangkut apakah tindakan atau pilihan tersebut baik atau buruk, bermoral atau tidak. Lantas bagaimana rasionalitasnya kebebasan berpakain sebagaimana pertanyaan awal di atas?

Dalam konteks kebebasan berpakaian di atas tadi, rasionalitas akan kebebasan berpakaian tidak cukup dengan menjadikan kebebasan sebagai pijakan dalam berargumen bahwa kebebasan berpakaian adalah bentuk kebebasan, hak dasar manusia. Sehingga tidak cukup dengan mengklaim bahwa bahwa berpakaain sebebas-bebasnya itu baik (dibaca: biasa-biasa saja).

Selain itu kebebasan “dipandang” dari akibat yang ditimbulkan. Kebebasan dipandang “sah-sah saja” selama tidak merugikan. Misalnya dalam berpakaian yang “miskin bahan” dipandang sebagai kebebasan yang “sah-sah saja” karena tidak merugikan sedangkan membunuh dan mencuri tidak bisa dibenarkan sebagai kebebasan karena dampak buruk (kerugian) yang ditimbulkan pada individu lain.

Banyak individu sering kali berdalil bahwa kebebasan berpakaian tetapi telanjang (kurang bahan) itu tidak merugikan orang lain. Hal ini sebenarnya sangat mudah sekali untuk dibantah. Dalil yang sama pun dapat digunakan beberapa individu yang terlibat dalam pornografi; bahwa tindakan tersebut tidak merugikan, baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Padahal pornografi adalah bentuk penurunan derajat manusia ke arah yang lebih rendah dari binatang lain dan benda tak hidup.

Sampai di sini kita mendapatkan kesimpulan bahwa kebebasan dan pandangan merugikan atau tidak, tidak cukup untuk dijadikan landasan sebuah kebebasan berpakaian. Lantas bagaimana seharusnya?

Kebebasan berpakaian harus dipandang dalam moralitas. Dimana persoalan moral tidak dipandang Sebagaimana halnya dalam subyektivitas dan relativisme di atas. Tetapi moralitas adalah sesuatu yang dapat dirasionalitaskan (dinalarkan). Untuk itu ketika berhadapan dengan kebebasan berpakaian harus ada cukup penalaran moral di dalamnya.

Menurut penulis, berpakain tetapi telanjang (kurang bahan) adalah sesuatu yang tidak bermoral. Selain tidak memenuhi kecukupan argumen dalam moralitas, berpakaian “kurang bahan” tidak memenuhi prinsip moral. Prinsip moral bukan merupakan suatu yang tidak faktual tetapi sangat erat kaitannya eksistensi manusia. Prinsip moral menunjukan keberadaan manusia yang membedakannya dari binatang lain dan benda tak hidup dimana manusia mampu merefleksikan dan merasionalitaskan semua tindakan atau pilihannya.

Oleh karena itu sekali lagi menurut Penulis, individu (dibaca: perempuan) yang mengenakan pakaian yang “miskin bahan” dengan dalil kebebasan individu belum mempunyai nalar yang cukup tentang kebebasan berpakaian tersebut!