Saya adalah seorang remaja berseragam putih abu-abu saat pertama kali mendengar suara Didi Kempot. Stasiun Balapan adalah lagu yang cukup menggerus hati. 

Oke, saya memang masih remaja saat itu. Belum paham benar bagaimana rasanya patah hati dan kehilangan. Tapi saya belajar satu hal: bahwasanya luka bisa diolah menjadi sangat indah. Dan juga membuat saya jadi ingin sekali mendatangi stasiun Balapan yang konon jadi saksi kunci di lagu itu.

Saya masih remaja saat pertama kali mendengar Sewu Kuto; tentang pencarian cinta. Saya juga sedang getol-getolnya belajar bahasa Jawa saat itu. Dengan semangat membara, saya berani mengobarkan bendera 'Saya Cinta Campur Sari'.

Selera saya ini pernah diejek habis-habisan oleh beberapa teman. Mereka bilang saya ndeso, kampungan.

Orang hidup di zaman modern kok doyannya denger campur sari? Jago casciscus ngomong bahasa inggris kok malah nyanyi lagu bahasa jawa? Ngefans sama Metalicca kok malah nangis mbrebes mili di hadapan seorang lelaki tua berbeskap yang nyanyi lagu patah hati ambyar?

Saya tak peduli. Saya tetap mendeklarasikan diri sebagai penggemar beliau di garda terdepan. Saya mengenalkan beliau dan lagu-lagunya pada anak-anak di rumah. Dan merasa bahagia sekali saat anak saya menyanyikan lagu beliau sambil berjoget dengan gembira. Bukankah memang untuk itu sebuah lagu diciptakan?

Sebelum beliau mendapatkan gelar 'The God Father of Broken Heart' dari para netizen, sebelum para kaum muda bisa menerima eksistensi beliau dengan ciri khas campur sari dan beskap lengkapnya, saya sudah jatuh hati. Saat kariernya meredup, bagi saya tidak demikian adanya. Beliau tetap ada. 

Dan akhirnya beliau muncul kembali dengan merangkul kawula muda yang mungkin bahkan beberapa di antaranya tidak paham bahasa Jawa, saya sangat terharu. Betapa kuatnya keajaiban nada dan irama yang dipandu oleh semangat beliau.

Ambyar, Pamer Bojo, Cidro menjadi theme song patah hati di tahun terakhir ini. Bagaimanapun bentuk sakit hatinya, lagu Lord Didi-lah lagunya!

Di Jakarta tahun lalu, saat beliau menggelar konsernya, saya hadir. Sempat terkejut karena mayoritas yang datang adalah anak-anak muda yang umurnya jauh di bawah saya. Mereka datang bersemangat, ikut bernyanyi sepanjang konser berlangsung, bahkan banyak yang menangis. 

Mungkin karena dirasa lagu yang sedang dinyanyikan oleh beliau pas dan mengena di hati. Saya pun menangis. Selain karena memang cengeng dan nangisan, saya terharu karena beliau justru mampu bersinar di waktu yang tepat.

Beliau hadir (kembali) di waktu kekuatan media sosial sedang sangat berjaya, saat mengabarkan sesuatu (termasuk berita patah hati) menjadi begitu mudah dan cepatnya. Lagu-lagu beliau disukai, dicintai. Penggemarnya mendirikan skuad Sobat Ambyar, mendapat julukan Bapak Patah Hati Indonesia, tapi beliau pergi.

Kepergian yang mendadak, beliau seperti dicuri dari kita. Saya merasa pagi hari ini mungkin malaikat maut sedang cosplay jadi copet yang terlatih seperti di pasar Tanah Abang. Tanpa ada tanda, tanda isyarat, diambilnya nyawa Lord Didi. Begitu saja. Sesederhana itu. Secepat itu.

Namun efeknya tidak secepat dan sesederhana itu. Kami patah. Kami sakit hati. Kami merasa dikhianati. Kami ditinggalkan. Kami egois, kami ingin beliau tetap ada di sini menghibur kami. Kami mengutuk 2020 yang penuh dengan duka ini.

Lalu pelan-pelan, walaupun sulit, saya mencoba memahami. Mungkin di surga, Tuhan dan para malaikat sedang butuh hiburan. 

Sebuah kalimat yang entah siapa pencetusnya berbunyi: "Orang baik pasti akan dipanggil terlebih dulu oleh-Nya" membuat saya yakin bahwa Lord Didi adalah sebenar-benarnya orang baik. Tuhan tak ingin beliau berada terlalu lama di dunia yang makin membusuk ini. Eman-eman, mungkin begitu pikir Tuhan.

Selamat jalan, Didi Kempot.
Kami akan rindu, sangat rindu.
Bernyanyilah terus di surga-Nya.
Kenalkan campur sari pada mereka yang ada di sana.

Yakinkan mereka seperti kau meyakinkan kami, bahwa patah hati tak harus dilagukan dengan menye-menye dan cengeng. Patah hati bisa dinyanyikan dengan sebuah kegembiraan.

Sampaikan salam saya untuk kakakmu, Om Mamik. Saya juga rindu guyonan beliau. Saya tetaplah penggemarmu, seperti puluhan tahun yang lalu.