Selama satu minggu terakhir di bulan Juni 2022, kualitas udara Jakarta berada dikategori tidak sehat. Bahkan, per tanggal 5 Juli 2022, kualitas udara Jakarta masih berada di kategori yang sama dengan indeks angka 153. Angka ini 15 kali lebih tinggi dari ketetapan aman WHO.

Persoalan ini menempatkan Jakarta, sebagai kota paling tercemar di bumi selama beberapa hari. Faktanya permasalahan ini bukan disebabkan oleh transportasi semata. Berdasarkan penelitian CREA, salah satu kontributor pencemaran di ruang udara Jakarta adalah pembangkit listrik tenaga uap yang berbakar batu bara.

Seperti yang diketahui, sejak Presiden Soeharto menetapkan batu bara sebagai penopang energi listrik Indonesia, komoditas batu bara menjadi incaran mesin penghasil cuan para konglomerat dan negara Indonesia sendiri. Di rentang tahun 2000-2020, produksi batu bara Indonesia meningkat sangat pesat dan membuat Indonesia menjadi konsumen dan produsen utama batu bara.

Dalam sebuah laporan, BP Global Company menunjukkan produksi batu bara pada tahun 2020 mencapai 562,5 juta ton. Jumlah ini naik 7,3 kali lipat dalam 20 tahun sebelumnya. Bahkan, Kementerian ESDM menyebutkan, sekitar 70%-80% PNBP pada sektor minerba didapatkan dari ekspor batu bara. Berdasarkan data terkini, PNBP Indonesia di empat bulan pertama tahun 2022 dari sektor minerba telah mencapai Rp 40,42 triliun.

Selain untuk ekspor, konsumsi batu bara dalam negeri dipicu oleh penyediaan tenaga listrik. Mengutip Ember Climate, sekitar 60% energi listrik Indonesia dihasilkan dari batu bara.

Dalam pemenuhan ekspor dan konsumsi batu bara nasional, berbagai ekspansi dan eksploitasi terus dilakukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan. Wilayah Sumatera dan Kalimantan yang kaya akan minerba menjadi sasaran empuk dalam menggali harta. Nantinya, bongkahan batu bara yang telah didapatkan akan diangkut oleh kapal dan didistribusikan ke Jawa, yang notabene wilayah konsumsi batu bara terbesar di Indonesia.

Melalui Pelabuhan Marunda, pelabuhan di Cilincing Jakarta Utara, bongkahan batu bara dari Sumatera dan Kalimantan berlabuh menjadi satu. Belasan ribu jiwa yang berada di pesisir wilayah Marunda turut berada diancaman bara debu aktivitas bongkar muat batu bara yang tertiup angin dan menerjang pemukiman.

Tak sedikit warga telah mengalami langsung dampaknya, mulai dari infeksi saluran pernafasan, gangguan mata, dan iritasi kulit. Dinas Lingkungan Hidup setempat telah memberikan sanksi terhadap salah satu operator bongkar muat batu bara di Pelabuhan Marunda, PT Karya Citra Nusantara (KCN), terkait pelanggaran aturan dan pencemaran debu batu bara.

Akan tetapi, pasca dijatuhi sanksi, nyatanya pencemaran debu batu bara oleh perusahaan tersebut masih mengintai warga. Berdasarkan data yang diperoleh, pemerintah sendiri memiliki saham yang cukup besar pada perusahaan ini.

Sejak proses 2004, semua telah proper. Tidak mungkin kita dapat izin pembangunan dan tidak mungkin juga perusahaan membayar PNBP setiap bulan, dan juga PBB. Jika dihitung, itu saat ini telah mencapai 160 miliar lebih” ujar Direktur Utama PT KCN, Widodo Setiadi, dalam sebuah wawancara.

Sembilan puluh hari pasca penjatuhan sanksi, tepatnya di tanggal 20 Juni 2022, izin operasional PT KCN dicabut karena dinilai tidak taat kewajiban pengelolaan lingkungan hidup.

Dari tahun ke tahun, pemerintah terus berupaya mendirikan sejumlah PLTU berbakar batu bara. Setidaknya, 15 PLTU akan didirikan di wilayah Banten dan Jawa Barat.  Akan tetapi di kondisi sekarang, PLN telah mengalami over supply listrik yang luar biasa, khususnya di Pulau Jawa.

Tak bisa dibayangkan, berapa harga mahal yang harus dibayarkan akibat hal tersebut. Pencemaran air, udara, dan habitat menjadi rusak. Dampak tersebut berantai dari hulu ke hilir. Dengan upaya pembangunan PLTU yang lebih banyak, mendorong produksi batu bara besar besaran, dan ekspansi wilayah, secara tidak langsung Indonesia terdorong ke dalam lubang kerusakan.

Ketika acara UN Climate Change Conference (COP26) di Glasgow, Presiden Jokowi menyatakan bahwa Indonesia berjanji untuk pensiunkan pembangkit batu bara, biang utama pemanasan global dan polusi udara, di tahun 2056. Hal ini sejalan dengan waktu di mana negara-negara mulai memandang batu bara sebagai musuh utama mereka.

Dengan gambaran ini, secara tidak langsung, batu bara membuat Indonesia bergantung kepadanya. Batu bara kini menjadi sumber pendanaan nasional. Celaka lagi, adanya perang Rusia-Ukraina membuat batu bara Indonesia digemari oleh negara-negara lain. 

Tak disangka, potret lingkungan hidup memiliki dampak yang kian kompleks, dari kesehatan hingga merembet ke ekonomi politik. Pun solusi dalam mengatasi persoalan lingkungan kian rumit. Lalu bagaimana jika persoalan-persoalan seperti ini tak ditanggapi secara serius?.

Satu hal yang pasti, menghirup udara bebas yang tak terukur harganya merupakan hak setiap manusia. Jangan sampai kita baru sadar ketika bara debu memangkas tiga hingga empat tahun harapan hidup. Segala perjuangan tak ada artinya bila untuk bernafas tak lagi leluasa.

Baca Juga: Polusi Cahaya