Ada yang bilang, mereka yang bermain media sosial adalah orang-orang yang kengangguren. Tidak ada pekerjaan di dunia nyata, akhirnya mereka lari ke media sosial dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana.

Terutama media sosial yang berbentuk jejaring sosial seperti facebook, instagram, atau twitter. Hanya sekadar upload status tidak bermutu, scroll time line tak kenal jemu, dan balas-balasan komen yang hanya menghabiskan waktu.

Aha, saya tergelitik mendengar seloroh itu. Karena saya sendiri pemain aktif di media sosial dari 11 tahun yang lalu. Dan memang banyak nganggurnya di dunia nyata. Hahaha

Mungkin ada ratusan alasan orang bermain media sosial, dan juga ada ratusan alasan orang tidak bermain media sosial. Bagi bapak saya yang tinggal di kampung sebagai seorang pensiunan guru dan melakukan pekerjaan sampingan sebagai petani, media sosial bukanlah hal yang penting. 

Namun bagi para pebisnis, public figur, atau artis, media sosial menjadi sebuah alat yang wajib dimiliki di zaman ini. Karena media sosial sangat menguntungkan mereka, untuk memperlancar pundi-pundi yang masuk ke rekeningnya.

Bukan rahasia lagi jika banyak orang menjadi jutawan berkat media sosial. Entah mereka memanfaatkan media sosial untuk berdagang, membangun personal branding, atau membangun koneksi sehingga memperlancar bisnis atau keahlian mereka, dan lain sebagainya.

Lalu bagaimana nasib anda dan saya yang hanya sebagai netizen yang budiman? Apakah kita memang hanya menghabiskan waktu sia-sia dengan bermain media sosial, tahu-tahu kelak rambut sudah beruban semua? Apakah tidak ada pekerjaan lain yang barangkali lebih berfaedah dan membawa maslahah baik untuk diri sendiri, keluarga atau bahkan umat?

Belum lagi ada yang bilang bahwa media sosial hanya sebagai ajang untuk pamer. Pamer harta, pamer anak istri/suami, pamer gaya hidup, pamer ilmu, dan pamer-pamer lainnya. Tidakkah anda semakin merasa berdosa? Sudah menghabiskan waktu sia-sia ditambah suka pamer pula? Segeralah insaf saudara hehehe...

Bagi saya, media sosial ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi bisa memberikan manfaat bagi penggunanya. Di sisi lain juga bisa "membunuh" secara perlahan-lahan.

Banyak para netizen yang memanfaatkan media sosial untuk menjadi sarana merajut silaturahim. Ada juga yang mendapat peluang usaha, pekerjaan dan lain-lain lewat media sosial. Ada yang butuh ilmu, pengetahuan dan informasi, media sosial menyediakannya. Bahkan ada yang galau karena jomblo, akhirnya ketemu jodoh di media sosial. Atau kebanyakan netizen bermain media sosial hanya sekedar untuk hiburan saja.

Itu diantara sedikit manfaat yang mungkin dirasakan orang-orang yang bermain media sosial. Tentunya masih banyak manfaat lainnya. Jika media sosial tidak memberikan manfaat, pasti sudah gulung tikar. Paling tidak, media sosial bermanfaat untuk pamer itu tadi. Hehehe

Lalu bagaimana media sosial bisa membunuh secara perlahan-lahan? yaitu ketika apa yang terpampang di sana sangat memengaruhi emosi dan pikiran anda. Ada yang pamer mobil baru, anda panas. Ada yang pamer duitnya banyak, anda pusing. Ada yang pamer kemesraan dengan pasangan, anda sesak napas.

Apakah mereka benar-benar pamer? Belum tentu juga. Karena kadang yang bilang pamer itu karena syirik saja. Itu katanya lho ya. Meskipun ada juga barangkali yang betul-betul memang mau pamer. Namanya media sosial ya begitu itu. Kalau isinya ceramah, nasihat bijak, pengajian, tentu lain namanya.

Apalagi jika membahas soal isu politik. Jika tidak kuat mental, akan terbawa arus saling benci, saling hujat, yang berujung permusuhan bahkan bisa masuk penjara. Dan bukan hanya isu politik, perang opini tentang apa saja selalu ada di sana. Semakin ramai, semakin viral. Akhirnya banyak yang penyakitnya kambuh, darah tinggi, asam lambung, stres, dan lain sebagainya.

Belum lagi dampak negatif lainnya, seperti perselingkuhan, penipuan, bisnis ilegal, dan lain-lain. Itu beberapa contoh efek negatif bermedia sosial, yang jika tidak diwaspadai memang bisa "membunuh" perlahan-lahan.

Lalu, sebagai netizen yang budiman, apa yang perlu dilakukan agar dalam bermedia sosial tetap bisa menjaga kewarasan? Bagi saya sendiri, justru media sosial adalah alat untuk melatih kekuatan mental.

Saat saya dikritik, bagaimana menjaga untuk tidak terbawa emosi. Saat ada komentar yang membuat perasaan tertekan, bagaimana saya terlepas dari tekanan tersebut. Saat saya membaca dan melihat sesuatu yang bertentangan dengan pikiran dan hati saya, bagaimana agar tetap cool. Saat saya melihat orang-orang yang sedang "pamer", maka bagaimana saya justru turut merasakan kebahagiaan mereka.

Kenapa kita bisa emosi bahkan bisa stres saat bermedia sosial? Barangkali karena kita sesungguhnya sedang berhadapan dengan diri kita sendiri. Bukan tentang apa yang mereka sampaikan, tapi justru reaksi apa yang muncul dari pikiran dan emsoi kita?

Itulah sesungguhnya yang sedang kita hadapi. Jika kita mampu mengelolanya, maka media sosial bisa menjadi jalan untuk melatih mental kita untuk semakin kuat juga semakin mawas diri.

Saya lebih suka menamainya sebagai topo ing rame. Topo dalam keramaian. Jika biasanya topo itu dalam kesunyian, yaitu untuk melatih kejernihan batin. 

Tapi di era sekarang ini, topo dalam keramaian saya rasa justru lebih cepat memberikan dampak yang signifikan bagi diri kita. Dan media sosial adalah bentuk keramaian yang nyata yang langsung masuk ke dalam pikiran dan batin kita. Apakah batin kita akan larut dalam kegaduhan itu, atau justru bisa tetap tenang dan waspada?

Namun, jika media sosial sudah sampai mengganggu kebahagiaan kita, produktivitas kita, dan juga kualitas waktu bersama orang-orang terdekat kita, mungkin memang perlu dipikirkan ulang, perlukah bermedia sosial? 

Kita masing-masing yang tahu jawabannya. Karena tidak penting apa yang tengah terjadi di dunia maya atau apakah yang sedang trending di sana. Karena itu tidak akan ditanyakan di alam kubur. Jadi tidak perlu takut ketinggalan berita. Cukup hati kita yang semestinya tetap bahagia, dengan ataupun tanpa bermedia sosial.

Tetapi, jika anda kuat dalam bermedia sosial. Sebagaimana hampir semua orang modern saat ini, bermain media sosial. Dan anda tetap waras dan tidak terjadi komplikasi penyakit emosi dan mental. Maka, barangkali dari situlah mental anda sedang dikuatkan ketahanannya. Selamat melatih menguatkan mental, dengan cara bermain media sosial.