Siang ini, saya menemani anak saya mendatangi rumah kakeknya. Sebuah kepergian yang harus saya lakukan sebab sebelumnya saya telah berjanji pada mereka.

Di waktu yang terik itu, saya harus mendatangi rumah orang tua saya untuk membayar janji saya pada mereka, yakni bermain layang-layang.

Dan sebenarnya, saya sendiri kurang berminat untuk memenuhi ajakannya. Sebab, seingat saya, saya tidak punya punya keahlian dan minat untuk menerbangkan layang-layang.

Namun, mau tidak mau saya harus tetap memenuhi janji itu sebagai bentuk pelaksanaan atas ucapan yang terlanjur meluncur dari mulut saya pada tempo hari. Dan akhirnya, pada siang ini, sehabis zuhur, saya mengantar mereka ke rumah kakeknya.

***

Kami menyiapkan peralatan untuk menerbangkan layang-layang. Layang-layangnya sudah ada. Kami tinggal mengambilnya dari salah satu barang dagangan yang dijual oleh simbah putri mereka.

Sekarang kami tinggal menyiapkan benang. Dan rupanya, benangnya pun telah tersedia. Kami mengambilnya dari sisa-sisa tali senar yang dipakai oleh bapak saya untuk menakut-nakuti burung di sawah. Tali senar itu telah bapak berikan pada cucunya, bahkan sebelum sempat mereka memintanya.

Kami mengikat ujung tali senar pada tutup kaleng bekas rokok Gudang Garam yang isinya 50 batang itu. Kami menggulungnya hingga kira-kira sepanjang sekitar 20 meter. Kemudian, kami mengikat ujung satunya pada badan layang-layang.

Begitu persiapan dirasa telah cukup, kami bergegas pergi ke sawah, mumpung cuaca pada siang ini sedang cerah-cerahnya. Salah seorang tetangga yang kami temui di depan rumah menyarankan kami untuk lekas pergi ke sawah, mumpung angin pada saat itu sedang bertiup kencang.

Saya menjadi semakin tertarik dan penasaran. Sebab, sejujurnya saya tidak begitu memiliki banyak pengalaman untuk menerbangkan layang-layang ini. Kecuali, hanya memegangi tali senarnya saat layang-layang itu telah mengudara. Dan itu berarti saya belum terbukti pernah berhasil untuk menerbangkannya sendiri.

Baca Juga: Layang-Layang

Saya pun menjadi makin penasaran, apakah kira-kira saya nanti bisa menerbangkannya? Dalam batin saya sudah bersiap, betapa kecewanya anak-anak saya manakala ternyata bapaknya ini tidak becus untuk menerbangkannya. Saya sudah menyiapkan kata permohonan maaf untuk mereka sebagai antisipasi sewaktu-waktu hal ini terjadi.

Modal saya menerbangkan layang-layang hanya dua. Yakni  modal nekat dan yang penting yakin. Entah kenapa, dalam batin saya, tiba-tiba saya meyakini bahwa saya akan berhasil menerbangkan layang-layang ini. Dan untuk menambah keyakinan itu, saya mengiringinya dengan bismillah.

Sesampainya kami di area persawahan, kami mencari daerah yang agak tengah sekiranya kami akan menemukan angin yang bertiup kencang. Dan benar saja, ketika kami sudah mulai berada di titik agak tengah dari area persawahan itu, tiupan angin sudah mulai datang menggoda. Ia menyambar-nyambar layangan seperti hendak membawanya terbang.

Saya mencoba mengikuti rayuan angin yang menyambar layangan itu sambil mengatur panjang pendeknya senar yang harus saya lepaskan. Dan pada akhirnya, senar itu pun dapat tertarik semuanya. Layangan telah terbang dengan setinggi-tingginnya. Setinggi panjang senar yang menempel di tubuhnya.

Saya merasa kegirangan atas keberhasilan ini. Saya membagi kebahagiaan ini bersama anak-anak saya dengan cara memberikan kendali layangan pada kedua anak saya. Mereka pun kegirangan, tertulari kebahagiaan saya. Seolah-olah mereka lah yang berhasil menerbangkannya.

Sekitar sepuluh menit layangan itu berhasil mengudara. Dan beberapa saat kemudian ia kembali tersungkur ke tanah seiring lenyapnya angin yang menerbangkannya. Tali senarnya pun menjadi kusut akibat saling menempel satu sama lain.

Saya mencoba mengurai dan merapikan tali senar agar ia siap digunakan untuk menerbangkan kembali layangan. Saya kembali menggulungnya sedikit demi sedikit pada kaleng rokok Gudang Garam itu.

Setelah semuanya tergulung dengan rapi, saya pun kembali menunggu angin yang cukup kencang untuk menghempaskan tubuh layang-layang. Saat yang ditunggu-tunggu itu telah datang. Angin telah menghampiri layangan dan hendak membawanya terbang menuju awan.

Setelah kami puas bermain layang-layang, kami pun segera pulang. Bapak saya mengevaluasi kondisi kenapa layangan ini tidak mampu lama terbang. Ternyata, kondisi rangkanya tidak seimbang sebab ada kerangka yang sedikit terlepas. Hal inilah yang menyebabkan kondisi layang-layang menjadi tidak stabil saat terbang di udara. Dan kami pun berniat untuk memperbaikinya sesampai di rumah nanti.

Berdasarkan pengalaman bermain layang-layang yang saya nikmati pada hari ini, saya pun dapat menyimpulkan bahwa ternyata bermain layang-layang ini ternyata cukup mudah dan mengasyikkan. Dan selain itu, saya akhirnya menyadari bahwa seharusnya pemain layang-layang ini memiliki beberapa keterampilan dasar sebelum mereka menerbangkannya.

Pertama, keterampilan mengudar benang kusut. Meski  keterampilan ini seakan tidak berkaitan secara langsung dengan dengan kegiatan penerbangan, namun keahlian ini tetap berperan penting untuk menghadapi situasi pelik kusutnya benang layangan. Dan tanpa berbekal keahlian ini, maka kusutnya benang layangan ibarat game over dalam permainan mereka.

Usut punya usut, ternyata keahlian ini ternyata berpotensi untuk melatih kesabaran dan ketelitian siapa saja yang mengudarnya. Apalagi, jika kusutnya sangat panjang, maka butuh ekstra sabar untuk bisa mengurai dan menggulung semuanya seperti sedia kala.

Kedua, kemampuan membaca arah angin. Pada saat angin bertiup kencang, maka itulah saat yang tepat untuk lekas menerbangkan layangan. Kemampuan membaca arah ingin ini menurut saya adalah simbol bahwa hendaknya siapa saja dapat membaca peluang dengan baik supaya mereka dapat menggapai kesuksesan.

Ketiga, kemampuan mengendalikan layang-layang. Ini berkaitan dengan waktu dan tindakan bagi para pemainnya, kapan ia harus menarik benang dan kapan ia harus melepaskannya, agar layang-layang tetap mampu terbang mengudara.

Pesan yang tersiratkan pada skill yang ketiga ini adalah hendaknya siapa saja mampu bermain tarik ulur pada saat menyelesaikan masalah pada momen-momen tertentu. Dengan adanya fleksibilitas yang mereka miliki ini, maka akan berpotensi untuk menjaga keseimbangan keadaan hingga semuanya kembali pada keadaan yang new normal.

Keempat, kreatifitas. Bagi para pemain layang-layang yang sudah masuk tahap kelas lanjut atau advance. Maka mereka dapat lebih mengeksplorasi kemampuan mereka dengan cara membentuk kreasi-kreasi layangan yang lain daripada yang lain.

Sehingga, dengan adanya kreatifitas ini, maka akan memunculkan langkah inovatif bagi siapa saja untuk membedakan kreasi mereka dengan layangan-layangan standard yang telah ada pada masa sebelumnya.

Saya benar-benar tidak menyangka, ternyata dari permainan layangan yang mengasyikkan ini ternyata memiliki pelajaran keahlian yang sangat baik untuk membentuk karakter para pemainnya.