Berbagai macam tradisi lebaran di Indonesia, baik yang berasal dari daerah tertentu maupun yang sudah menetap di masyarakat, pastinya memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan. Salah satunya ialah tradisi bermaaf-maafan.

Bermaaf-maafan di Indonesia disebut dengan ‘halalbihalal’. Ini merupakan tradisi unik yang dijalani oleh umat Islam di Indonesia setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan. Tradisi ini merupakan simbol ketika lebaran, karena hanya dilakukan saat lebaran.

Dalam tradisi halalbihalal, sorotan yang paling utama ialah bermaaf-maafan. Hal ini dilakukan untuk saling memaafkan perbuatan dan kesalahan kepada orang tua, adik dan kakak, kakek dan nenek, sanak saudara, kerabat, dan juga tetangga.

Bermaaf-maafan dalam Alquran dan Hadis

Hakikat bermaaf-maafan ialah seseorang meminta maaf secara tulus atas perbuatan terdahulu, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Di sisi lain, seseorang memaafkan kesalahan orang tersebut dengan tulus, ikhlas, menerima, dan memakluminya karena sebagai manusia pasti tak luput dari kesalahan.

Halalbihalal berarti saling meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama. Halalbihalal biasanya dilakukan di suatu tempat, seperti di lapangan atau di auditorium, kemudian saling berjabat tangan untuk bermaaf-maafan. Halalbihalal juga dilihat sebagai suatu tradisi untuk mempererat silaturahmi.

Allah menjelaskan dalam Surat An-Nur ayat 22 tentang sikap memafkan: “…. Dan hendaklah mereka memberi maaf dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin Allah mengampuni kalian? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allah menegaskan dalam surat tersebut bahwa manusia harus bersikap saling memaafkan agar hati menjadi lapang dan juga mendapat ampunan Allah. Manusia memang tak luput dari kesalahan, agar dalam menjalani hidup kita selalu bisa berlapang dada maka kita harus memiliki sikap pemaaf.

Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tamunya, dan barang siapa yan beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi, ….” (HR. Bukhori dan Muslim)

Melalui hadis tersebut dapat dipahami bahwa silaturahmi merupakan sesuatu yang harus dijaga dengan baik dan janganlah dari kita memutus tali silaturahmi. Selain sebagai suatu bentuk permohonan maaf kepada sesama, halalbihalal juga merupakan wujud untuk mempererat silaturahmi.

'Mohon maaf lahir dan batin' di kehidupan sehari-hari

Dalam lebaran, ungkapan 'mohon maaf lahir dan batin' sangat sering diutarakan. Ungkapan tersebut berarti sebuah permohonan maaf secara tulus atas perbuatan terdahulu, dan seseorang yang menerima permohonan maaf harus memaafkannya dengan lapang dada dan hati yang ikhlas.

Pada hakikatnya, permintaan maaf seharusnya tidak hanya diungkapkan ketika lebaran saja atau sekadar mengikuti tradisi, namun setelah itu kembali lagi pada perselisihan. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari juga harus sesegera mungkin mengutarakannya apabila berbuat kesalahan.

Mungkin hal ini terlihat sangat sederhana. Namun dalam kenyataannya, banyak orang-orang yang menganggap sulit untuk dilakukan. Entah karena ada perasaan malu atau hal lain sehingga sulit untuk mengucapkan kata 'maaf'.

Lalu, untuk memberikan maaf sebaiknya juga tidak hanya dilakukan ketika lebaran saja. Namun apabila seseorang telah meminta maaf, maka kita harus memaafkannya. Karena perbuatan memaafkan merupakan salah satu tanda bahwa diri seseorang berhati lapang dan ikhlas.

Bahkan, tanpa seseorang meminta maaf terlebih dahulu, seharusnya kita telah memaafkan orang tersebut. Sehingga tidak menyimpan dendam yang akan memperburuk suasana hati. Hal tersebut dipandang mulia oleh Allah.

Keutamaan maaf-memaafkan

Memiliki sikap pemaaf tentunya menjadi kelebihan tersendiri, karena tak semua orang pandai memaafkan. Sebaliknya, orang yang meminta maaf pastinya memiliki keberanian sehingga mampu untuk mengungkapkan kesalahannya. Sikap saling memaafkan atau memberi maaf tentunya memiliki keutamaan.

1. Mendapat ketenangan batin

Dengan memaafkan seseorang jadi lebih tenang, tidak ada dendam yang ada dalam dirinya. Begitu pula dengan orang yang meminta maaf, dirinya tidak lagi dihantui dengan kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat.

Dari proses saling memaafkan tersebut, manusia menjadi lebih berhati-hati dalam hidup. Selalu menjaga perasaan orang lain agar tidak ada perkataan atau perbuatan yang membuat orang lain sakit hati, sehingga ia dapat memperoleh ketenangan dalam dirinya.

2. Mendapatkan pahala

Pahala akan didapatkan dari perbuatan saling memaafkan. Dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 40 Allah berfirman, bahwa: “Maka barang siapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.”

Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwa sikap saling memaafkan merupakan kebajikan yang akan mendapat pahala dari Allah. Oleh sebab itu, manusia harus memiliki sikap saling memaafkan satu sama lain.

3. Lebih dicintai oleh Allah

Maaf-memaafkan merupakan sikap yang mulia. Dengan memaafkan, seseorang mengikhlaskan kesalahan orang lain yang telah diperbuatnya dulu. Pada dasarnya, Allah mencintai hambanya yang berbuat kemuliaan. Maka dengan saling memaafkan, maka seseorang akan lebih dicintai oleh Allah.

Dan dalam Surat Ali-Imran ayat 134 Allah berfirman: “(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

4. Diangkat Derajatnya

Seseorang yang memaafkan kesalahan orang lain akan diangkat derajatnya oleh Allah. Hal ini merupakan cermin dari sikap Rasulullah yang selalu memaafkan kesalahan orang yang berbuat jahat kepadanya. Sikap Rasulullah tersebut patut dijadikan cerminan diri untuk kita saling memaafkan.

Rasulullah bersabda: “Sedekah itu tidak mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidak ada orang yag merendahkan diri karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim)

Bermaaf-maafan jangan hanya dilakukan pada saat lebaran saja. Namun harus terus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang salah dari perbuatan tersebut, melainkan suatu kemuliaan. Oleh sebab itu, latihlah diri kita menjadi orang yang pemaaf dan berani untuk meminta maaf.

Orang yang mengakui kesalahannya kemudian ia meminta maaf, maka dia adalah orang yang pemberani. Orang yang dengan tulus hatinya memaafkan kesalahan orang lain, maka dialah seorang pemenang.