Apa sih literasi itu? Untuk apa sih kita berliterasi? Apa pentingnya berliterasi? Bagaimana orientasi literasi itu sendiri? Dan sebagainya. 

Begitu pertanyaan sebagian dari teman-teman di Menara Literasi. Mereka adalah sekumpulan komunitas "literasi" di desa Lapeo, kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Berangkat dari  kegelisahan mereka yang sebagian besar adalah mahasiswa  semester dua sampai delapan yang kini tidak berkuliah yang tidak bertatap muka langsung dengan dosennya karena korona. 

Mereka pun ingin menciptakan kembali atmosfir pemikiran "akademik" di kalangan mereka. Mereka kemudian berinisiatif untuk membentuk sebuah wadah belajar bersama, Menara Literasi sebagai ajang silaturahmi, berdiskusi dan atau berdialog, membedah buku, membuat tulisan, membaca barzanji, bersih-bersih kampung, dan sebagainya.

Kamal sebagai ketua di sini mengajakku untuk berdiskusi dengan teman-temannya di komunitas ini. Ia juga ingin ada semacam pembelajaran khususnya penulisan sekaligus membangun semangat baca, kajian dan menulis di kalangan teman-temannya. 

Aku yang dianggapnya  pegiat literasi karena memiliki banyak tulisan, dan karya buku, buah dari berliterasi. Akhirnya, aku pun diundang mereka untuk berbagi ilmu dan memberikan sedikit pencerahan tentang literasi pada mereka. Dengan mengusung tema; pentingnya semangat (ber)literasi di tengah-tengah keacuhan menggali pengetahuan. 

Acara ini dilaksanakan pada malam Rabu, pukul 20.00 Wita sampai selesai. Tanggal, 09 Februari 2021 di sekretariat Menara Literasi, depan SMAN 1 Campalagian. Tepatnya di desa Lapeo, kecamatan Campalagian, kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Untuk Apa?

Di awal pertemuan, aku mencoba menggali pemahaman mereka tentang literasi. Di sana sudah disediakan papan tulis dan spidol. Aku membuat mind mapping dengan menulis kata "Literasi" sebagai kata inti malam itu. 

Literasi menurut mereka adalah;  kemampuan untuk membaca dan menulis, sebuah wadah untuk belajar sekaligus mengembangkan diri, tradisi menulis dengan membuat buku, sesuatu yang berhubungan dengan pemikiran, dan lain sebagainya.

Literasi dalam bahasa Inggris adalah literacy yang berarti melek huruf dan diharapkan kita akan melek pada apapun. Yah, literasi lebih dari itu. 

Aku ambil satu poin yang penting dari sini. Ketika kita mengatakan bahwa literasi berhubungan dengan pemikiran maka dengan literasi diharapkan kita akan mampu untuk berpikir secara kritis. 

Mika, mahasiswi S2 Jogja yang hadir di acara ini menimpali bahwa literasi atau berliterasi adalah sadar atau berkesadaran. Ketika kita sadar, kita pun menjadi berbudaya, berkebudayaan. 

Sehingga, yang diharapkan dari wadah Menara Literasi ini adalah sebagai ruang berkesadaran bagi semua anggota. Yang diinginkan adalah kesadaran kolektif karena jika hanya "sadar sendiri" tidak banyak memberikan "pengaruh" apa-apa.

Kesadaran itu menjadi acuan dalam berbuat sesuatu. Misalnya; untuk apa kita membaca buku jika kita tidak tahu buku apa yang kita baca? Untuk apa kita menulis jika kita tidak mengerti akan menulis apa? Untuk apa kita belajar selama ini di sekolah atau di kampus? Untuk apa kita hadir di dunia ini? dan lain sebagainya. 

Sampai pada hal-hal yang sering atau selalu kita lakukan, untuk apa kita menulis status di media sosial? (Ini termasuk aku yang suka sharing banyak hal di dunia maya). Yah, untuk apa? 

Manusia yang Berkesadaran adalah Manusia yang Berbudaya

Literasi adalah suatu kata yang viral hari ini. Aku yang biasa menulis sendiri pun tidak mengerti, apakah aku telah "berliterasi"? Yang kutahu, aku suka menulis. Tulisan-tulisanku itu bermula dari; buku diari yang kemudian menjadi cerpen atau novel, tugas paper di kampus yang kemudian menjadi jurnal, tesis yang kemudian menjadi buku. 

Tulisan-tulisan itu hadir dari berpikir kritis, kemudian aku berkesadaran, harus ada yang bisa kusampaikan dari apa-apa yang kutulis. Misalnya; aku menulis Kuliwa sebuah tradisi baca-baca atau syukuran pada kapal yang akan berangkat ke laut. 

Atau konsep Siwaliparri sebuah konsep budaya yang berarti kerja sama suami-istri di Mandar, tapi yanf terjadi adalah kerja keras yang lebih banyak dilakukan istri (perempuan).

Kemudian ketika aku menulis novelku yang berjudul; Siluman kupu-kupu itu karena ekspresi kegalauanku ketika patah hati dengan seseorang. 

Semuanya membuatku menjadi manusia yang berbudaya. Aku "membaca" apa yang terjadi di sekitarku. Aku "mendengar" apa yang terjadi di sekitarku. Aku manusia yang seutuhnya yang memanfaatkan panca inderaku; mata, telinga, hidung, lidah, dan kulit. 

Aku menggunakan otak atau akal untuk berfikir. Aku merasakan rasaku melalui hati, intuisi. Lalu, aku menulis, apa yang bisa aku ungkapkan melalui tulisanku dari hal-hal di sekelilingku.

Dari berliterasiku, atau berkesadaranku. Contohnya, ketika aku berpikir, bagaimana aku menjadi (orang) Lapeo, sebagai kampung halamanku. Bagaimana aku menjadi (orang) Mandar, sebagai suku bangsaku. Sampai bagaimana aku menjadi (orang) Indonesia sebagai tumpah-darahku. 

 Apa yang Kita Harapkan dari Berliterasi Hari ini? 

Di akhir kegiatan ini, aku ingin mengetahui arah penulisan mereka. Apakah mereka akan menulis esai, cerpen atau novel, bahkan puisi. Aku meminta mereka mendeskripsikan gambar dengan satu paragraf dari sebuah sampul buku antologi yang kubawa. Buku ini merupakan buku bunga rampai 24 penulis dongeng dan cernak nusantara.

Buku ini bergambar ondel-ondel Betawi dan beberapa anak-anak yang melihatnya. Warnanya sangat ceria dan ramai. Didominasi oleh kuning, merah, dan hijau. 

Mereka, anggota Menara Literasi ini rata-rata dapat menulis esai, hal itu tergambar dari paragraf mereka yang tidak mendetailkan gambar namun memberikan banyak pandangan atau perspektif pada gambar seperti kata persatuan dan kesatuan berbangsa dan bertanah air, Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, dan sebagainya.

Sebagian kecil ada yang bisa menulis cerpen atau novel karena bisa menjelaskan gambar sampul pada buku. Dan hanya beberapa yang puitis, bisa membuat kata-kata yang indah dari gambar tadi dengan mengatakan, "walau kuning, ia tetap putih".

Akhir kata, terima kasih teman-teman Menara Literasi yang telah mengundang kami untuk saling mengenal, untuk saling belajar berdiskusi, berdialog dan berpengharapan agar literasi di Mandar akan semakin tumbuh, dan berkembang. Tumbuh dan berkembangnya karena adanya kesadaran berbudaya menjadi manusia sesungguhnya.

Jadi teman-teman, kapan kita kembali berkesadaran?