Salah satu hal yang saya syukuri hidup di era super digital ini adalah hadirnya Gus Baha' di berbagai saluran digital, baik di medsos maupun di kanal-kanal lainnya. Banyak sekali berseliweran video-video ngaji Gus Baha’ di ruang digital, mulai dari potongan video berdurasi sekian detik hingga video full dengan durasi ber jam-jam.

Kealiman beliau tidak diragukan. Hafalannya sangat kuat dan banyak. Beliau hafal Al-Qur'an 30 juz disertai Qiro'ahnya, serta memahami kandungan-kandungan Fiqh didalamnya. Sampai-sampai, Ustadz Adi Hidayat menyebut beliau sebagai manusia Qur'an.

Melansir dari situs Wikipedia, Gus Baha’ juga disebut hafal Shohih Muslim lengkap dengan matan, rowi, dan sanadnya. Beliau juga hafal isi kitab Fathul Mu'in, 'Imrithi, dan Alfiah Ibnu Malik. Tentu saja, beliau juga hafal dan faham kitab-kitab lainnya. Sebagaimana kita saksikan beliau ngaji selama ini, yang hampir tidak pernah absen menyebutkan referensi berbagai kitab.

Saking 'alimmya, beliau dinobatkan sebagai ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta bersama para Profesor, Doktor, dan pakar-pakar tafsir se-Indonesia. Beliau pun pernah ditawari gelar Doctor Honoris Causa dari UII sebagai wujud pengakuan akademis atas keilmuannya, tapi beliau menolaknya.

***

Konten ngajinya menyegarkan dan hampir tidak pernah luput dari sentuhan humor khas beliau. Gus Baha' menyampaikan pesan Islam dengan  menyajikan contoh-contoh ringan yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehinggga mudah sekali dipahami. Gus Baha' banyak mengingatkan kita untuk melihat sesuatu dari sisi yang berbeda. Melihat ajaran Islam dari sudut pandang yang luas. 

Antara lain yang akan saya tulis disin, yakni tentang pentingnya melatih diri agar menjadi orang yang hanya mau di dikte Allah SWT, bukan makhluk-Nya. Pesan ini mungkin lazim kita dengar. Tapi bagi saya, Gus Baha' menyajikannya dengan cara berbeda.

Ketika ngaji di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada bulan Juli 2020 lalu, beliau mengutip hadits Nabi SAW riwayat Imam At-Tirmidzi yang artinya, "Janganlah kalian menjadi orang yang tidak berpendirian (mudah terombang-ambing), yang mengatakan: 'jika orang-orang berbuat baik, kami juga berbuat baik, jika mereka berbuat zalim, kami juga berbuat zalim'. Tetapi, kuatkanlah pendirian kalian, jika orang-orang berbuat baik, berbuat baiklah, jika mereka berbuat zalim, jangan kalian berbuat zalim." (HR. At-Thirmidzi).

Lantas, Gus Baha' menceritakan kisah seorang ulama yang di bully oleh seorang pemuda yang juga merupakan tetangga ulama tersebut. Ulama itu disuruh datang ke rumah pemuda yang juga tetangganya tadi. Sesampainya di rumah si pemuda, sang ulama disuruh pulang tanpa ada maksud yang jelas dari si pemuda. Kemudian sang ulama diminta datang lagi oleh si pemuda, lalu disuruh pulang lagi, begitu seterusnya hingga tiga kali. Si pemuda pun bertanya, "mengapa engkau mau datang ke rumahku, walaupun aku mempermainkanmu?", sang ulama pun menjawab, "anak muda, saya datang ke rumahmu karena Allah SWT memerintahkan setiap manusia agar menghormati tetangganya. Kamu minta saya datang ya saya datang, kamu nyuruh saya pulang ya saya pulang. Bukankan Allah SWT memerintahkan setiap hamba-Nya agar senantiasa menghormati dan menyenangkan hati tetangganya? jadi tidak ada urusannya denganmu, nak". Si pemuda itu pun menangis dan minta maaf.

Kisah diatas mengingatkan saya pada curahan hati seorang kawan beberapa bulan yang lalu ketika berkonflik dengan rekan kerjanya, ia ucapkan dalam bahasa Jawa, terjemahan bebasnya begini, "aku itu simple, kalau orang itu baik sama aku, aku pasti baik sama dia, tapi kalau orang berniat jahat sama aku, suka ngerasani aku dibelakangku, ya aku bisa lebih jahat kepadanya."

Kita juga (mungkin) kerap kali mendengar kalimat yang hampir sama dari teman, saudara, dan lainnya. Kira-kira bunyinya begini, "aku hanya akan menghargai orang yang menghargaiku, kalau orang nggak menghargaiku, buat apa aku menghargai dia." 

Ya, kisah dari Gus Baha' diatas dengan curhatan seorang kawan dan kalimat yang saya contohkan diatas berbanding terbalik. Pointnya, betapa mudahnya kita ini mau di dikte oleh "sikap" orang lain.

Kebaikan seseorang pada yang lain seolah-olah transaksional. Orang berbuat baik hanya karena mengharap timbal balik berupa kebaikan itu sendiri. Padahal sudah sepantasnya kita berbuat baik kepada siapapun karena itulah perintah Allah  SWT. Sekalipun orang itu pernah berbuat zalim pada kita. Karena kalau hanya berbuat baik kepada orang yang baik pada kita, itu sudah biasa. Tapi, kalau berbuat baik kepada orang yang zalim pada kita, itu baru luar biasa.

Betapa mudahnya membenci orang lain hanya karena orang itu membenci kita. Betapa rajinnya kita mencibir dan mencaci orang lain cuma karena dia mencibir kita. Dan betapa konsistennya kita mendendam pada orang lain hanya karena orang itu pernah punya salah pada kita. Jadi, betapa mudahnya kita memilih ikut "diktean" makhluk Tuhan dari pada mengikuti diktean Tuhan itu sendiri.

Bagi hamba amatiran seperti saya, mengikuti diktean Tuhan itu bukan hal mudah untuk dipraktikkan. Makanya, perlu sering latihan dan mari saling jadi alarm bagi yang (merasa) masih sama-sama hamba amatiran. Minimal mulai dipraktikkan dalam keluarga masing-masing.

Misalnya saat mendapati istri marah. Marahnya bisa jadi karena kehabisan elpiji yang nggak segera kita isi. Atau karena ada tumpukan pakaian kotor di cantolan baju yang nggak segera kita pindah ke bak cucian. Lebih jauh, mungkin karna minimnya uang belanja sehingga dia nggak bisa beli skincare langganannya. Atau karena masalah apapun yang biasa terjadi dalam rumah tangga.

Maka, sebagai suami lebih baik diam, sabar, dan tidak perlu menimpalinya. Apalagi sampai terpancing lalu ikutan marah. Karena bila sampai ikutan marah, berarti kita di dikte oleh marahnya  si istri. Sedangkan Allah SWT menyuruh kita para suami untuk senantiasa menyayangi serta bersikap lembut kepada istri-istri kita. (Baca: QS. An-Nisa': 19)

Dengan diam, setidaknya, kita terhindar dari perbuatan dzolim. Karena bila menimpali, bisa saja keluar kalimat yang berpotensi menyakiti hati istri. Apalagi pas lagi emosi. Dengan diam pula, ada tambahan pahala “gratisan” buat kita. Mengapa? Karena di saat yang sama, kita taat pada Allah SWT dalam kesabaran. Mengapa saya sebut pahala gratisan? Karena untuk dapat pahala demi menyenangkan hati istri biasanya butuh biaya. Misalnya pergi ke rumah makan, mall, wisata, dll. Dari pada repot-repot ngabisin uang ke mall hanya untuk menyenangkan hatinya, 'kan mending dengerin "ceramahnya" di rumah. Hehe. 

Banyak sekali sisi positif jika kita tidak mudah terjebak mengikuti "diktean" manusia, serta konsisten mengikuti "diktean" Allah SWT dalam menjalani kehidupan sehari'hari. Dan Mudah-mudahan nggak cuma ngomong tok (khusus saya). Mudah-mudahan istiqomah berlatih dan terus berlatih. Amin.