Perdana ke Negeri Serambi Madinah atau Gorontalo pada November 2019. Aku tidak sendiri, aku bersama Kasman alias Paus, juniorku di Mapala PTM Sinjai. Oh ya, selanjutnya akan ada banyak nama-nama aneh yang akan kalian jumpai dalam tulisan ini. Maklumlah, anggota Mapala biasanya diberi nama-nama hewan atau tumbuhan sebagai nama lapangan.

Kala itu ada kegiatan Sprint Celebes 1942 Jilid IV Lomba Orienteering Tingkat Nasional yang dilaksanakan Mapala Alaska FT Universitas Negeri Gorontalo. Aku dan Paus diutus untuk mewakili Mapala PTM Sinjai.

Untuk yang belum tahu, orienteering merupakan salah satu cabang olahraga alam bebas yang membutuhkan kemampuan dan keterampilan navigasi menggunakan peta dan kompas untuk menyelesaikan suatu lintasan dari titik kontrol satu ke titik kontrol lain dalam waktu sesingkat mungkin. Sementara pelaku atau peserta orienteering disebut orienteer.

Kalau masih bingung dengan penjelasan ini, silakan cari sendiri video tentang orienteering di YouTube.

Awalnya sempat ragu untuk ikut. Pertama, aku dan Paus bukanlah seorang atlet orienteering. Bukan apa-apa, aku takut mengecewakan kawan-kawan yang telah memberi kepercayaan untuk mewakili organisasi.

Yang kedua, lomba tersebut berskala nasional dan solo putra kategori umum. Benar saja, setelah melihat list peserta yang dikirim panitia, orienteer-orienteer ternama pun juga ambil bagian dalam lomba tersebut.

Sontak tiba-tiba ada perasaan kalah sebelum bertanding. Bayangkan saja, aku dan Paus yang baru pertama kali ikut lomba orienteering harus melawan orienteer yang sudah beberapa kali berpartisipasi dalam lomba orienteering skala nasional dan internasional.

Tapi akhirnya kuputuskan untuk berangkat. Setidaknya ada alasan kuat yang mendorongku untuk melangkah dan mencoba. Bukankah keraguan bisa menjadi penyebab utama dari sebuah kegagalan? Melangkah dan melakukan hal baru tentu menjadi sesuatu yang luar biasa daripada berdiam diri tanpa ada keberanian untuk melangkah sama sekali.

Jumat, 08 November 2019, acara pelepasan dihelat di Kampus Universitas Muhammadiyah Sinjai. Setelah berdoa dan segala macam ritual seperti foto-foto dan salam-salam dilaksanakan, mobil travel akhirnya membawa aku dan Paus menuju Gorontalo.

Di perjalanan menuju Gorontalo kebanyakan kuhabiskan dengan tidur, mimpi, dan makan kalau mobil travel singgah di warung. Akhirnya tidak ada cerita mengenai perjalanan yang bisa aku bagikan kepada para pembaca yang budiman.

Minggu, 10 November 2019, kami sampai di Sekretariat Mapala Mohuyula Universitas Muhammadiyah Gorontalo dan disambut oleh kawan-kawan di sana. Meskipun penyambutannya tidak dengan karpet merah, iringan musik atau tari-tarian karena memang yang datang bukan siapa-siapa.

Aku dan Paus menginap di sekretariat Mapala Mohuyula sembari latihan fisik bersama Jaguar yang juga akan mengikuti lomba mewakili Mapala Mohuyula

-ooo-

Lomba sendiri akan dilaksanakan pada 13-14 November 2019 di Puncak Dulamayo, Kabupaten Gorontalo.

Lomba terdiri dari 2 etape. Etape pertama menggunakan tipe Score Orienteering di mana peserta akan mengumpulkan poin sebanyak mungkin dalam waktu yang telah ditentukan. Kemudian di Etape kedua menggunakan tipe Cross Country Orienteering. Tipe ini di mana peserta harus mengunjungi titik-titik kontrol sesuai dengan urutan yang telah ditentukan dalam waktu secepat mungkin.

Di etape pertama aku hanya bisa menempati posisi 17 dari 40 peserta. Sementara di etape kedua dinyatakan Did Not Finish karena tidak mengunjung semua titik kontrol di medan sebenarnya. Sementara Paus menempati posisi 22 di etape pertama dan di etape kedua juga dinyatakan Did Not Finish.

Meskipun gagal dan tidak bisa meraih hasil yang diinginkan, tetapi itu sudah cukup sebagai bekal pengalaman untuk lomba berikutnya. Setidaknya aku telah memaksimalkan segala daya upaya untuk bisa menjadi yang terbaik. Namun, mungkin bukan hari ini.

Rasa bersalah tentu saja ada karena belum bisa memberikan yang terbaik untuk organisasi.

Tapi sekalipun diratapi dan disesali sejadi-jadinya, semua tak akan mengubah apa-apa. Ibaratnya tidak perlu menyesali kenapa bisa menjadi bubur, tapi sisa mencari cara bagaimana agar bubur itu menjadi nikmat.

Karena belum merencanakan waktu untuk pulang ke Sinjai, aku dan Paus akhirnya menginap di Sekretariat Mapala Mohuyula untuk beberapa hari ke depan. Juga ada Mameng dari Mapala Justitia Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang kebetulan jadwal pulangnya juga belum pasti.

Alhasil, malam-malam berikutnya diisi dengan jamuan ala anak muda. Setiap malam duduk melingkar sembari minum cap tikus dan bernyanyi sepuasnya dan sekeras-kerasnya.

Hal seperti inilah yang memunculkan rasa yang begitu erat dan kuat di antara kami sekalipun berbeda warna namun disatukan oleh Kode Etik Pencinta Alam Indonesia.

Tertawa lepas dan berbicara tentang apa saja hingga fajar tiba membuatku merasa perlu untuk mengenang kisah itu dan menjadikannya bahan cerita di usia kelak. Maka benarlah kata orang-orang, “Muda berkelana, tua bercerita.”