Apakah dengan pembangunan yang digenjot sedemikian rupa, juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Jika iya, maka masyarakat yang mana?

Melihat Kabupaten Sinjai dari Sisi Lain

Kampung Boja merupakan salah satu daerah yang ada di Kabupaten Sinjai. Lebih tepatnya di Dusun Safaere, Desa Puncak, Kecamatan Sinjai Selatan, Kabupaten Sinjai. Jika dari pusat kota Kabupaten Sinjai, butuh waktu kurang lebih 1 Jam untuk bisa sampai di sana.

Untuk masuk ke Kampung Boja, bersiaplah berhadapan dengan licinnya jalan. Jangan bayangkan jika musim penghujan telah tiba, akan sangat susah jika dilalui dengan berkendara. Maka salah satu cara untuk masuk dengan aman adalah menitipkan motor di rumah warga kemudian berjalan kaki selama 30-45 menit.

Perdana ke Kampung Boja pada Januari 2018, saat kegiatan HIMARA Goes to School yang dilaksanakan HIMARA STISIP Muhammadiyah Sinjai. Karena mendengar kabar bahwa di sana pula terdapat Kelas Jauh SD Negeri 45 Lempangan. Sekolah bagi anak-anak Kampung Boja mengenyam pendidikan. Tempat 19 siswa menumbuhkan harapan dan cita-citanya untuk masa depan yang lebih cerah.

Pun seperti Sirman, salah satu siswa kelas 6 yang tatkala kutanya perihal cita-citanya, ia sangat ingin menjadi guru lalu kembali mengabdikan dirinya di Kampung. Sungguh cita-cita mulia yang Sirman sudah tanamkan dalam dada.

Kelas Jauh SD Negeri 45 Lempangan yang terletak di Kampung Boja, berbanding terbalik dengan sekolah-sekolah yang ada pada umumnya. Tak ada pembagian kelas, semua siswa mulai dari kelas 1-6 duduk berdampingan untuk menerima pelajaran. Belum lagi tanah yang masih menjadi alas, seng bekas yang masih menjadi dinding penghias serta kadang kala hujan juga masuk dari atap yang sudah mulai bocor.

Di sekolah itu hanya ada satu sosok guru yang mengajarkan semua mata pelajaran di semua kelas. Namanya Pak Wahid.

Selain guru di sekolah, ia juga merangkap menjadi guru mengaji kala sore hari. Sosok yang sabar dan tak henti-hentinya menebarkan ilmu kepada siswa-siswanya yang dengan penuh semangat datang ke sekolah.

Jika malam telah tiba, maka pelita akan menghiasi meja belajar agar anak-anak Kampung Boja tetap bisa belajar.

Anak-anak kampung Boja adalah anak-anak tangguh. Mereka dididik oleh serumit masalah yang ada di Kampungnya, kaki-kaki tangguh yang terus berjalan menuju sekolah untuk masa depan yang cerah, tangan-tangan tangguh yang membantu orang tua untuk keberlangsungan hidup, dan hati tangguh yang terus tegar meghadapi segala urusan hidup yang dihadapi. Cepatlah tumbuh.

Kabar baiknya, akhir-akhir ini sudah banyak kalangan (Organisasi Mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat, dll) yang silih berganti mengunjungi Kampung Boja dan dengan segala perubahan yang dilakukan untuk Kampung Boja yang lebih baik.

Surga di Kampung Boja

Mayoritas masyarakat Kampung Boja adalah petani. Mereka sangat bergantung pada hasil alam, seperti gula aren, lada atau jagung. Tapi bisa ditebak, akses jalan masih menjadi kendala pendistribusian hasil-hasil alam.

Iwan adalah salah satu pemuda di Kampung Boja menuturkan bahwa ia hanya akan mendistribusikan gula aren apabila stok sudah banyak. Selain karena akses jalan yang begitu sulit untuk dilalui, juga untuk menghemat biaya operasional.

Hasil pertanian yang melimpah ruah tak didukung oleh pemerintah melalui pembangunan infrastruktur yang memadai. Jikalau saja pemerintah lebih memperhatikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, maka bukan tidak mungkin akan dibarengi pula dengan meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Dan pergantian tahun pun kulalui di sini. Bersama tiga orang kawan dan masyarakat Kampung Boja sembari bercerita banyak tentang kampung Boja ke depan. Juga tentang janji untuk perbaikan jalan dan akses jaringan listrik akan masuk pada Januari 2020, namun dengan sedikit guyonan, “Paling janji yang sudah ditebar beberapa kali apalagi saat musim pilkada atau pileg telah tiba.”

Di perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang ibu bersama anaknya yang baru saja kembali dari kebun sambil membawa beberapa sisir pisang. Senyum lebar masih mereka lempar ke arah kami. Seolah tak ada rasa mengeluh dalam dada menghadapi jalanan yang licin nan berbatu yang tak kunjung tersentuh pembangunan oleh pemerintah.

Dari sini aku sadar dan terhenti pada satu titik kesimpulan, bahwa Kampung Boja bukanlah daerah tertinggal, tapi daerah yang ditinggalkan.

Salam hangat dan rindu untuk Kampung Boja dan segala keramahan masyarakatnya. Aku akan kembali.

Walau makan susah, walau hidup susah, walau tuk senyum pun susah. Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan. ~ Sherina-Kubahagia