Suatu hari dua teman kuliah saya selepas kuliah berjanji akan bertemu lagi. "Singoh ta merumpok lom", demikian kata teman yang berasal dari Aceh Utara. Terjemahan bebasnya, "besok kita bertemu lagi ya". Demikian yang dipahami penutur dan dijawab ya oleh temannya tersebut. Keesokan harinya penutur tadi datang ke tempat di mana ia mengucapkan kalimat tadi.

Siang datang, teman yang dinantinya tak kunjung tiba. Hingga sore jelang magrib, ia akhirnya pulang dengan rasa kecewa bercampur amarah. Sehari setelah itu mereka bertemu di kantin kampus. Mahdani (18), tampak protes karena temannya tak datang padahal ia lelah menanti. Tapi amarahnya segera reda setelah temannya yang berasal dari Aceh Barat menjelaskan mengapa ia tidak datang.

Sebab konflik cerita di atas hanya dikarenakan satu kata "singoh". Bagi kawasan timur Aceh, kata tersebut bermakna "besok" sementara kawasan barat Aceh bermakna "kapan-kapan". Ternyata sebuah kata yang sama dengan pemaknaan yang berbeda dapat menyebabkan konflik. Dan itu pula yang terjadi di negara ini. Kita kerap berdebat hingga aksi kekerasan karena sebuah kata yang ditafsirkan atau dimaknai berbeda.

Konflik di atas barangkali bukan contoh yang tepat, karena penutur kurang pengetahuan. Namun demikian subtansi dari konflik di Indonesia belakangan ini sama. Kita memaksakan makna sebuah kata harus sesuai dengan yang kita pahami.

Penutur dalam cerita di atas bisa saja menggunakan kekerasan karena merasa telah ditipu. Namun setelah dijelaskan terdapat perbedaan makna kata, ia paham dan tetap melanjutkan persahabatan hingga saat ini. Bahkan setelah peristiwa itu mereka lebih sering sharing kata yang sama dengan makna yang berbeda.

Pasangan suami-istri awalnya bersatu karena pemahaman mereka soal cinta sama. Namun setelah beberapa tahun mereka sering bertengkar, sebabnya mereka tak lagi memiliki pemahaman yang sama soal cinta. Bahkan ada yang berakhir dengan perceraian.

Lihatlah bagaimana kita sebagai sebuah negara berdebat soal kata kafir dan non-muslim. Sebelumnya kita juga berdebat soal Al-Maidah:51 yang berujung pada demo dan dipenjaranya Ahok. Teranyar, kita berdebat soal anak perusahaan BUMN dan pejabat negara.

Saya juga teringat ketika gencata senjata GAM-RI gagal pada tahun 2002. Sebabnya, pemahaman yang berbeda mengenai gencata senjata. Soal bendera Aceh juga hingga kini belum selesai dan menurut saya penyebab utamanya perbedaan dalam memahami butir-butir MoU.

Hal yang sama juga terjadi dalam ranah beragama. Selain kata 'kafir', soal Islam Nusantara, Wahabi, Islam Liberal juga terjadi konflik. Seringnya pemaksaan atas pemahaman sebuah diksi merupakan akar persoalan. 

Konflik yang didasari relativitas linguistik kerap berakhir dengan kekerasan. Anehnya negara entah kemana ketika hal itu terjadi. Bahkan pemerintah belakangan ini mendominasi makna sebuah kata. Pemerintah seolah paling berhak benar memaknai sebuah kata.

Para cendekiawan bahkan pemuka agama juga cenderung memaksakan pemahamannya paling benar. Tentu saja semangat itu tidak sesuai dengan keragaman yang menjadi modal bangsa ini. Semangat ilmiah yang membolehkan keraguan atas sesuatu yang dianggap mapan.

Pemahaman yang sudah mampan seolah terganggu dengan pemahaman baru. Padahal apa yang dipahami hari ini juga merupakan pemahaman baru dari pemahaman lama sebelumnya. Menyadari hal itu maka reinterprestasi sebuah kata jangan langsung dianggap sesat dan sejenisnya. 

Bagi saya gejala otoriter dalam memaknai sebuah kata semakin mengerikan. Mendengar kata "merdeka" kebanyakan kita akan cenderung menuduh makar, apalagi yang bertutur orang Aceh atau Papua. 

Mendengar kata "liberal", pikiran akan sampai pada kelompok yang bebas sebebasnya tanpa menghiraukan hak orang lain. Apalagi bila ditambah kata "Islam" di depannya menjadi Islam liberal. Langsung sampai pada vonis halal darah hingga fatwa menakutkan lainnya.

Padahal semangat Islam menjunjung kebebasan berpendapat, termasuk dalam memahami sebuah perkara. Mazhab-mazhab yang ada merupakan bukti indahnya perbedaan dalam menerjemahkan sebuah perkara. 

Barangkali mereka tidak memvonis sesat terhadap mazhab yang berbeda karena keilmuan mereka. Dengan demikian patut dipertanyakan keilmuan kita bila masih senang memvonis. Padahal dialog itu memperkaya ilmu menambah kesabaran dan sekaligus teman.

Konflik intra maupun inter-agama yang didasari hegemoni pemaknaan kata hingga kini belum reda. Di ranah politik barangkali paling banyak kasus tersebut. Namun di bidang lain tak kalah banyak. Sayangnya perbedaan dalam memaknai dan memahami sebuah kata terkadang berujung pada kekerasan.

Sejarah bangsa ini mengatakan kita bangsa yang open-minded. Hal itu terbukti dengan berkembangnya Islam tanpa proses kekerasan. Kita sebenarnya bangsa yang ramah sampai sedikit ilmu yang kita miliki mempengaruhi ego dan merasa paling benar.

Kerasukan ego paling benar akan menjajah hati nurani dan akal sehat bahkan ilmu kehilangan berkahnya. Apabila hal itu terjadi maka hilanglah nilai-nilai kemanusiaan karena kekerasan menjadi andalan. 

Perbedaan memaknai sebuah kata sebenarnya anugerah yang patut disyukuri. Kita akan bertambah bijak bila mampu memaknai sebuah kata dengan beragam makna. Jika kita mampu melakukannya maka damailah hati damai pula bangsa ini.

Kiranya kita perlu menyimak kembali yang dikatakan Derrida, pentingnya dekonstruksi pemikiran termasuk pemaknaan diksi-diksi yang sering didebatkan.

Mengapa kita sering bertengkar hanya karena sebuah kata? karena kita sedang dijajah diri sendiri.