Globalisasi kepanikan akibat pandemi virus corona (covid-19) membuat kita terkurung di rumah dan kos masing-masing. Entah sampai kapan covid-19 berlalu, tidak ada yang tahu pasti. Baru sebatas ramalan, prediksi, antisipasi dan sugesti macam-macam di era keberlimpahan informasi ini.

Di tengah situasi ketidakpastian itu, semua rencana multi-sektor dan multi-level yang semula dirancang matang-matang kemudian dibatalkan. Bagi kandidat pasutri yang sudah menentukan tanggal pernikahan harus diundur jadwalnya. Resepsi pernikahan yang menciptakan keramaian pesta pora memang dibatasi, dilarang bahkan bisa dipidana saat ini.

Namun, akad nikah tetap diperbolehkan. Hanya saja yang boleh hadir maksimal sepuluh orang, yakni kedua mempelai beserta pasangan orang tua masing-masing mempelai, penghulu, wali dan saksi. Dari hasil patroli dan pantauan saya di media sosial, ternyata tak sedikit acara resepsi pernikahan ditunda gara-gara teror virus corona ini.

Suasana kebatinan menjadi lain bagi mereka yang telah berpasangan suami-istri. Malah, mengisolasi diri di zaman goro-goro menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga di rumah. Bahkan ada sebuah seloroh, reproduksi dan regenerasi dapat berjalan secara massif bagi mereka di era ‘work from home’.

Hal itu berbeda nasibnya dengan golongan yang menunda perkawinan, terlebih kaum jomblo. Seolah berada di persimpangan jalan. Jika dimaknai dari sudut pandang yang positif dan optimis, ini mungkin semacam blessing in disguise (berkah terselubung) bagi golongan ‘tuna pelukan’ itu. Saatnya bermuhasabah seraya berikhtiar menemukan cinta sejati.

Dengan ruang dan waktu yang kondusif ini, mungkin saja kita diberi kesempatan untuk menyusun “buku” sebagai mahar buat kekasih kelak. Atau menjahit bendera merah putih seperti Ray Rangkuti (mahar pernikahan kepada pasangannya berupa seperangkat alat shalat, cincin dan bendera merah putih, 2012) sebagai tanda “kesetiaan kepada bangsa dan negara sama seperti kesetiaan kepada keluarga”, kata pengamat politik itu. Wow!

Berkebun, Iqra, Khalwat

Di sebuah WhatsApp Group (WAG), saya melihat seorang kawan cum gurunda mengirim fotonya menggali tanah dan menabur bibit. Penanda ia sedang berkebun.

Sebut saja Muslimin, seorang pengamat politik yang cekatan mengangkat pacul, menanam jahe merah di halaman rumahnya, Depok. Sebuah sisi lain dari orang yang kerap serius di layar kaca tatkala mengomentari isu-isu politik nasional.

“Ayo berkebun, tetap produktif, jaga kesehatan dan jangan lupa berbagi”, tulisnya bernada seruan moral. 

Muslimin pun membagi buku-buku “berat” di WAG. Dari politik, biografi hingga filsafat. Tak lupa pula, direktur riset di sebuah Lembaga Konsultan Politik itu bersama anggota mendistribusikan bantuan di Jakarta, Bogor dan sekitarnya.

Kami juga didorong untuk mendata orang-orang di lingkungan sekitar kita yang membutuhkan uluran tangan di tengah cobaan berat ini. Inilah perwujudan nyata dari ekstrak budaya gotong royong, holopis kuntul baris, seperti kata Bung Karno.

Dari Subang pun ada cerita. Pergulatan spiritualnya diwartakan ke saya via phone. Kawan-kawan memanggilnya Dadang. Ia memamerkan buku lewat chat pribadi. Entah kenapa ia agak sungkan share di WAG yang sama tadi.

Mungkin saja khawatir dituduh sebagai kutu buku mengingat masa lalunya sebagai anggota grup band lokal. Padahal antara seniman dengan intelektual tak mesti didikotomikan. Lagi-lagi sikap rendah hatinya kebangetan.

 “Dari bab awal memang berat, saya sudah beli, tapi belum kelar. Harus dikhatam buku bagus nih”, curhatnya sambil mengirim foto buku karya Yuval Noah Harari “Homo Deus” yang bersisian dengan segelas kopi.

Ketika heboh isu kartel masker beberapa waktu lalu, ramuan alternatif penangkal corona seperti temulawak, kunyit, jahe merah tetiba mulai langka di pasar. Kalau pun ada, harganya melonjak tinggi. Mungkin saja stok terbatas, sementara nafsu konsumen sangat membahana. Begitulah gejala yang menyeruak di situasi darurat ini.

Berkebun bisa menjadi pilihan alternatif ramah lingkungan. Cukup fungsional untuk mengimbangi sengatan pemanasan global. Bukan hanya sekadar relaksasi jiwa-raga, tapi juga merayakan gaya hidup sehat.

Kegembiraan di alam bebas, gerak-gerik badan, menghirup aroma dedaunan, memijak tanah gembur dan edukasi bagi anak-anak berwawasan lingkungan, berpadu dalam satu kegiatan: berkebun. Plus baca buku.

Perintah pertama dalam wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Iqra: bacalah.

Ayat tersebut sejatinya mengandung perintah universal untuk membaca. Buku-buku bisa menjadi sahabat sunyi nan kontemplatif daripada ‘berkonvoi’ di medsos yang sarat kegaduhan.

Tentu saja membaca bermakna luas. Tidak sekadar membaca teks, tapi juga konteks fenomena sosial dan alam hingga membaca hakikat diri sebagai makhluk Tuhan. Darimana asal kita, siapa diri sesungguhnya, tujuan hidup dan akan kemana selanjutnya adalah pertanyaan-pertanyaan reflektif yang dapat dijawab dengan membaca.

Di tengah gempuran berita hoax di media sosial, krisis literasi dan robohnya nalar kritis, maka membaca bisa menjadi sumber cahaya yang memancarkan pengetahuan, mengedepankan tradisi berpikir rasional sesuai kaidah-kaidah sains.

Kemarin malam, seorang kawan berinisial Aldo yang ngekos di pojok Jakarta Selatan menelpon saya. Ceritanya, ia bertekad akan memperbanyak ngaji, dzikir dan merenung di era pandemi ini.

“Jangan keluyuran, tetap pakai masker kalau keluar rumah ee.. Perbanyak mengaji bung, cobaa ituu..”, ujarnya dengan logat Maluku yang kental.

Begitulah kami saling mengingatkan sebagai sesama perantau. Benar apa yang dikatakan oleh kawan yang ‘pembalap’ itu.

Mengaji di tengah musim isolasi selaras dengan ritual sufi yang dikenal dalam khazanah tasawuf sebagai khalwat (menyepi). Dalam ritual dzikir dan pikir terdapat semburan energi yang menyehatkan jiwa dan akal.

Khalwat berarti menyepi dari keramaian yang bising, memencil untuk sementara waktu. Hal itu sejurus dengan anjuran pemerintah untuk menjaga jarak fisik (physical distancing). Khalwat menyelamatkan kita dari godaan kontak fisik yang bersifat kerumunan.

Dalam situasi pandemi, khalwat adalah sebuah revolusi senyap untuk menyerap ion positif sekaligus membuang ion negatif. Khalwat sangat berfaedah untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Bukan berkhalwat dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Bukan pula berkhalwat sambil menyebar fake news di medsos.

Khalwat dapat diisi dengan berdialog secara transendental dengan Tuhan. Ritual khalwat juga dapat dilakukan dengan membaca. Sesekali berkebun, berdansa dengan semesta.

Mudah-mudahan apa yang saya ungkapkan ini menjadi inspirasi bagi para penempuh jalan sunyi di tengah musim corona ini. Berkebun, membaca dan berkhalwat adalah representasi dari aktivitas yang memadukan antara olahraga, olah otak, otak rasa dan olah hati. Selamat mencoba. Semoga badai corona segera berlalu.