Ada yang menarik dari wacana berkebaya nasional. Muncul klaim dan dugaan bahwa Hari Berkebaya adalah bagian dari agenda pemurtadan nasional. Sebuah dugaan yang tidak jelas dasarnya. Ini berpotensi menimbulkan ketidakharmonisan hubungan antarmasyarakat, baik offline maupun online.

Sebagai muslimah yang senang melihat ibu-ibu atau bapak-bapak memakai kebaya, jarik, dan outfit sejenisnya diperlakukan demikian, saya mendadak gerah.

Ketika membaca rilis berita dari beberapa media mainstream mengenai wacana berkebaya hingga rencana untuk diusulkan ke Kemendikbud ada hari memakai batik, pakaian adat, atau kebaya pada skala nasional, tentunya saya merasa senang.

Tetapi, untuk wacana yang satu ini, ada yang kemudian perlu dikritisi: kalau bukan agenda demi apa (dan kalau versi teman-teman yang suka politik mereka akan bilang: ada agenda, ada duit). Kedua, kalaupun batik, wacana ini sepertinya berlaku untuk Jawa-Sumatra di mana batik mudah sekali diperoleh.

Lantas, bagaimana dengan nasib teman-teman di luar Jawa yang pakaian adat itu masih dianggap suci dan tidak bisa dipakai kapan saja, dibeli kapan saja—seperti di Jawa Tengah tempat saya berdomisili, batik bisa diperoleh hanya dengan 50.000 rupiah? Sudah pasti pemerintah akan banyak diprotes karena bikin kebijakan kok Java-sentris banget.

Di lain sisi, ketika beberapa sekolah dan instansi mulai menggulirkan penyeragaman batik atau pakaian adat, muncul satu akun Instagram dengan postingannya yang bikin saya resah dan tidak habis pikir. Akun itu memuat grafis berisikan kalimat: Selasa Berkebaya, Awas Murtad; dilanjut dengan narasi di bawahnya:

“Kampanye Selasa Berkebaya adalah gerakan pemurtadan terselubung. Karena di samping sebagai kampanye menampakkan aurat muslimah, ia juga menghembuskan kebencian terhadap busana Islam yang sesuai syariat.”

Kok bisa, ya? Kalaupun menelusur Google, ada satu artikel yang dimuat juga dalam situs pusat satu ormas kenamaan di Indonesia yang menyebutkan bahwa “ada hidden agenda yang menyerang muslimah berjilbab” dalam wacana yang digulirkan itu.

Murtad berpindah agama maksudnya?

Terlepas dari perdebatan ala-ala konspirasi yang buat saya njelimet dan tidak mudah dimengerti itu, ada poin-poin penting yang tidak kalah lebih mendasar kenapa berkebaya itu tidak menjadikan kita murtad. Ya tentunya atas pemikiran yang sedari kecil saya pelajari bahwa beragama tidak hanya mencakup dimensi pribadi, melainkan juga melibatkan dimensi sosial.

101 Berkebaya dan Berpakaian

1. Berkebaya yang Niat Ingsun demi Doi

Ketika semester lalu diharuskan mengambil mata kuliah Hadis, satu topik utama yang masuk chapter paling mula di kelas adalah hadis tentang niat.

Beberapa kawan yang pakar juga tahu, hadis tentang niat ini masuk bab pertama kitab Shahih Bukhori. Bunyinya: Innamal a’amalu binniyat; bahwa amal itu tergantung pada niat, dan seseorang akan mendapatkan sesuai apa yang diniatkan.

Kalau niat berpakaian apa pun (batik, kebaya, kemeja) demi Allah dan Rasulnya, ya niat kita sampai untuk Allah dan Rasulnya dong. Kalau niatnya untuk menghormati aturan yang telah disepakati (konsensus masyarakat/komunitas), ya sampai juga untuk itu.

Tetapi kalau berpakaian niat cari perhatian demi doi yang di sana, supaya kalau update story pakaiannya di-notice, ya wallahu’alam bish showab.

2. Berkebaya tapi Menyusahkan Diri

Sebelum jauh membahas batasan aurat, yang terdapat banyak perbedaan dari tafsirnya, prinsip dari akhlak berpakaian adalah tampil sesederhana mungkin.

Ketika wacana berkebaya ini digulirkan, dan kampus saya sedang melaksanakan program mengajar di salah satu SMA Negeri di Jawa Tengah, kami sangat dianjurkan untuk memakai kebaya atau pakaian adat pada hari tertentu.

Kemudian, ada beberapa kawan mahasiswa perantauan yang tidak menyimpan kebaya dan tidak bisa langsung membeli kebaya karena mahal. Solusi lain: dengan tetap menghormati kebijakan sekolah, mereka memakai batik. Alhasil, toh baik-baik saja.

Menjadikan Rasul sebagai teladan dalam setiap aspek kehidupan, tak hanya ibadah dan muamalah, artinya kita siap untuk tampil minimalis dan tidak berlebih-lebihan. Ukurannya adalah batas kewajaran dari yang biasanya. 

Ukuran wajar tiap pribadi pasti berbeda. Jangan bandingkan kesemuanya.

3. Berkebaya Bukan Berarti Membenci Mereka yang Tidak Berkebaya

Asumsi dari postingan Instagram yang mengeklaim bahwa agenda ini merupakan bagian dari pemurtadan adalah “dihembuskannya kebencian terhadap muslimah yang berjilbab”.

Beberapa dari kita paham betul, tren pakaian syar’i sedang menghantui beranda media sosial dan WA status kita, berikut promosi diskon dan foto-foto modelnya.

Hingga kemudian ada clash of masyarakat online yang merasa paling “benar” setelah berhijrah fisik kepada yang lebih menutup, termasuk bagaimana layaknya berpakaian dari ujung kepala hingga kaki.

Terlepas dari kerasnya bisnis yang “bisnis ya bisnis” dan fenomena hijrah itu, ada baiknya mereka yang pro dengan wacana berkebaya dan pakaian adat ini tidak mencela mereka yang berseberangan pendapat. Begitu pula sebaliknya.

Dalam kenyataan lapangan, tak hanya fenomena hijrah anak muda, atau beberapa dari kawan kita yang berprinsip “badan-badan gue, gak usah sok ngatur” yang patut diperhatikan dalam kajian ini.

Sebagaimana saya pernah tertarik dengan fenomena beberapa saudara dekat saya yang menjadi alumus Hubungan Internasional kampus ternama kemudian lulusnya memakai cadar, atau yang pernah bersekolah di Universitas Katolik ternama kemudian hingga hari ini berkerudung besar, serta lebih tertutup (dibanding saya yang bersekolah di perguruan tinggi Islam, misalnya, bila ukuran lebar menjadi perhatian).

Dan ya, yang demikian terjadi juga, menjadi bukti bahwa dinamika hidup seseorang tidak pernah bisa ditebak. Hidup adalah misteri.

4. Berkebaya, Lebih dari Sekadar Memperkenalkan Identitas Budaya

"Berpakaian adalah juga menjadi syiar Islam," kata sebagian orang. Tentu begitu, apalagi berpakaian rapi, wangi, ditambah tutur katanya baik serta tidak suka menggunjing.

Meski di belahan dunia lain, ketika ada orang yang menggunakan batik dan kebaya di negeri orang dan mereka orang-orang luar tidak mengerti kalau itu bagian dari khazanah budaya Indonesia, maka yang perlu dilakukan adalah tetap selow menanggapi kerasnya pertarungan dan kompetisi antarnegara di jagat bumi ini, tetapi tetap mengupayakan sebaik-baik usaha.

Sambil berharap, lain kali, kita akan meributkan hal-hal yang lebih substansial dan berdampak nyata untuk perbaikan masyarakat serta bangsa dibanding nyinyir dan ikut merespons postingan IG seseorang yang nyatanya tidak perlu diberi komentar (tagar: note to my self).

Seperti, misalnya, kelangkaan air yang mulai merambah beberapa wilayah sekitar kita atau wacana penggunaan air bekas wudu yang kalau diolah kembali bisa menjadi air layak pakai dan tidak terbuang begitu saja. Kayy, Gass! 

Terjebak pada perdebatan identitas dan simbol memang menghabiskan tenaga, waktu, dan pikiran. Jadi kesimpulannya, berkebaya itu bisa menjadikan kita murtad? Ya tidak. Mana bisa? 

Atau menyiapkan jawaban dalam hati sambil menahan jengkel: Kalau murtad nanti syahadat lagi, boleh?