“Kau tak harus ke dokter, Hans. Berdoalah.” Itu pesan Papa saat mengetahui saya sedang sakit. Saya hanya diam.

Detik itu juga, saya menyesal telah menelponnya. Ia, seperti biasa, pasti akan memberi nasihat, bahwa Tuhan adalah penyembuh. Semua upaya penyembuhan yang diupayakan manusia, merupakan pekerjaan setan.

“Hans? Sudah dengar?”

“Sudah Pa. Saya harus istirahat.”

“Jangan lupa doa Bapa Kami. Setelah itu baru istirahat.”

Kutarik nafas panjang, sebelum memutus sambungan telepon. Berharap, dengan tarikan nafas itu, ia akan mengerti ketidaksetujuanku.

***

Papa, merupakan orang yang taat beragama. Ia lahir dan dibesarkan dalam keluarga pendeta. Kakek, yang sempat memperoleh pelatihan dan pendalaman Alkitab selama sembilan bulan di Surabaya, merintis sebuah gereja kecil di Desa Sonder, Manado.

Sejak kecil, Papa selalu dekat dengan Kakek. Bahkan, dari cerita yang sering ia ulang-ulang kepadaku, Papa dahulu ingin jadi pendeta. Tetapi, waktu itu, Tante Tin, adik bungsu Kakek (saya memanggilnya Nenek Muda) yang bekerja di Amerika, menelpon dan menyarankan supaya Papa jadi arsitek. Kakek setuju, tetapi, nilai-nilai yang sudah diajarkannya harus dipegang teguh, bahkan sampai keturunan selanjutnya. Kalau tidak, Tuhan pasti mengutuk Papa.

Papa, memang menjadi arsitek yang karyanya banyak diminati orang. Ia menikahi Mama, seorang wanita kota yang bepikir bebas, menjadi idaman banyak pria, dan memiliki prinsip tertentu. Mama seorang pemain musik yang pernah mengenyam pendidikan di Denmark. Ia jatuh di pelukan Papa, setelah terlibat pelayanan dan beberapa kali menjadi pemain musik di gereja. Mama tak pernah mengatakan ke saya, apa yang membuatnya jatuh cinta pada Papa. Mama, hanya pernah bilang, setelah menikah dengan Papa, langkahnya banyak dihalangi Papa. Mama, hanya bisa menunjukan kepiawainnya bermusik di gereja.

Meskipun mereka sering berdebat, itu tak membawa pada perceraian. Karena kata Kakek, yang sering mencampuri urusan keluarga Papa dan Mama, perceraian tidak pernah sesuai dengan ajaran Alkitab. Selain itu, seorang istri harus patuh kepada suami. Hal itulah yang sering membuat Mama mengalah.

Jika ada satu perkara yang ”dimenangkan” Mama dan cukup membuat Mama senang, adalah pemberian nama anak satu-satunya. Papa yang menyiapkan nama Paul, ngotot supaya anaknya memakai nama itu. Mama, yang saat itu juga ngotot, menyiapkan nama sesuai nama penulis Eropa yang ia kagumi. Papa akhirnya mengalah. Sikap mengalah Papa ini, ketika Mama ceritakan kembali ke saya, merupakan sebuah mukjizat yang pernah Mama alami.

Itulah saya. Hans Christian Mokale. Mokale, adalah marga Papa yang bagiku seperti beban ganda. Pertama saya harus menjaga nama baiknya. Kedua, dengan demikian, harus mengikuti ajaran serta nilai-nilainya.

***

Hari itu, adalah hari ke lima saya jatuh sakit. Badan terasa lemas, hidung tak henti-hentinya mengeluarkan cairan, badan terasa panas. Ah, tak harus kuikuti pesan Papa, demikian batinku. Namun, perasaanku tidak enak. Bukankah, setiap anak harus menghormati orangtuanya? Tapi, saya tak mau mati konyol.

Kuhabiskan berjam-jam hanya menimbang-nimbang, apakah mendengar nasihat Papa, atau harus ke dokter. “Asu!” kalimat itu, terucap begitu saja. Segera kuambil gawai, mengirim pesan singkat ke Mastarike, wanita yang sudah dua tahun belakangan menjadi pacarku. Segera datang ke apartemenku. Temani aku ke dokter.

Selang berapa menit, ia membalas pesanku. Baik, sayang. Permunculannya di depan pintu, membuat saya legah. Namun, dalam pikiranku, masih saja melintas wajah Papa, lengkap dengan kacamata sambil memegang Alkitab, dan seolah-olah mengucap, “Tuhan telah berbicara kepada saya, supaya jangan ke doker.”

“Loh, sayang? Kok masih melamun?” Masta memulai percakapan, sambil berjalan pelan menuju pembaringanku. “Maaf, honey. Saya hanya berpikir tentang pekerjaanku,” demikian jawabku, sambil meraih tangannya. Wanita ini, tetap cantik, aroma tubuhnya begitu harum. Meski dalam keadaan sakit, tak bisa dibohongi, ada niat untuk mengecup bibir dan menggerayangi tubuhnya. Namun, lagi-lagi, teringat wajah Papa yang selalu memberi pesan bahwa sebelum menikah, perlu menjaga kekudusan.

“Sayang, lebih baik segera begegas.” Masta berbicara sambil melepas genggaman tanganku. Namun, belum sempat untuk membangunkan tubuh, tiba-tiba telepon berdering lagi. Jelas-jelas nama Papa terpampang di sana. Saat masih kuliah di Boston College, saya mengganti nama kontak Papa menjadi Romo Martin.

Tak mengangkat teleponnya, itu dapat diartikan sebagai sikap yang angkuh. Butuh waktu dua jam untuk mendengar ceramahnya, hanya untuk menasihati bahwa singkap angkuh adalah nenek moyang dari semua dosa. Papa, akan menjelaskan mengapa Adam hingga jatuh ke dalam dosa. Adam jatuh ke dalam dosa karena keangkuhannya.

Kuraih lagi gawai yang beberapa menit lalu kuletakan begitu saja, saat Masta hendak masuk ke kamar. Sebelum berbicara dengan Ayah, sempat kuberikan isyarat dengan jari telunjuk di bibir, supaya Masta tak harus bicara. Ia mengangguk.

“Hans, kok lama sekali?”

“Pa, Hans kan lagi sakit. Harusnya, Papa mengerti.”

Ada jedah cukup lama. Papa, yang selalu berpikir bahwa semua yang keluar dari mulutnya semuanya benar, tak pernah mau bila harus di seret dalam kondisi yang menyalahkan dia. Namun, tak lama setelah itu, ia melanjutkan bicara.

“Ah, kamu pasti sedang tawar-menawar dengan diri sendiri, Hans. Papa cukup tahu kamu, Hans.”

“Terserah Papa saja.”

“Sejak kapan, kamu mulai tahu membantah Papa, Hans. Tidakkah kau ingat pesan Tuhan supaya menghormati orang tua?”

“Iya, maaf Pa.” Dalam pikiranku, Papa pasti sedang tersenyum di sana mendengarku meminta maaf. Saat itu juga, Masta berjalan menuju ke meja belajarku, lalu mennyelinap ke dalam kamar mandi.

Papa segera melanjutkan. “Hans,” kali ini dengan nada lembut, “kamu ingat kan waktu kamu sakit di Boston?” Tanpa menunggu jawabanku, ia segera melanjutkan. “Waktu itu, Papa hanya melakukan pujian dan penyembahan, sementara Mama mendoakanmu.” Kali ini, Papa berhasil membuat saya menangis. Terbayang wajah cantik Mama yang telah meninggal setahun yang lalu.

“Iya, Pa. Saya tentu masih ingat, tapi Pa,” belum sempat kulanjutkan, Papa segera memotong. “Kita akan lakukan itu lagi, Hans. Kamu akan sembuh!” Kali ini, suaranya semakin meninggi.

“Pa, saat itu berbeda. Saya hanya kelelahan saja. Jadi pasti sembuh, dengan istirahat yang cukup.”

“Kamu tidak percaya Tuhan telah menyembuhkanmu, Hans?”

“Saya percaya, Pa. Tapi, Tuhan yang saya percaya, tidak bekerja sendiri. Ia memakai manusia lain, juga semesta.”

Desahan nafas Papa, sangat kuat. Saya berpikir ia sedang marah.

“Terserah kamu, Hans. Ingat pesan Kakek, ingat!” Papa mau mandi.”

Sambungan terputus. Gawai ku simpan di balik selimut. Perlahan Masta muncul dari kamar mandi, sambil berjalan pelan. Wajahnya terlihat seperti bosan, namun tak melunturkan kecantikannya. Warna biru dinding di belakangnya, membuat ia menjadi elok dipandang. Semesta berpihak padanya.

Masta semakin dekat. Semakin jelas, bahwa kali ini rambut hitamnya basah. Jantungku berdebar. Rasa bersalah dan dorongan hasrat hadir bersamaan, saling beradu. Gambaran api yang sering diceritakan Papa, seperti nyata dan begitu dekat. Tetapi kenikmatan lain yang entah dari mana, juga terus membuncah, sulit dikendalikan dan tak bisa dituliskan dengan kata-kata. Masih sempat kulihat di balik kaca, burung-burung kecil pindah dari ranting satu ke ranting yang lain. Hingga suara pelan dan halus itu terdengar, terbang bersama aroma harumnya.

“Sudah. Sesekali tak harus ikuti kemauan Papamu, Hans.”

Kalimat itu bermakna ganda. Apakah ini soal ke dokter, atau soal lain. Kuraih tangannya. Kutatap wajahnya yang bersih dan mirip selebritis itu. Alisnya tebal, berpadu indah dengan bibirnya yang merah alami. Ia menurut saat kutarik tubuhnya yang harum dan lembut. Lututku lemas, ketika tubuh kami semakin rapat. Desahannya semakin meninggi, meski cukup halus. Semesta seolah-olah terpusat hanya untuk kami berdua di saat itu.

“Aku anak Mama.” Kalimat itu kubisikan di telinga Masta, perlahan. Lalu, telepon berbunyi lagi, tetapi kubiarkan saja nada dering dariyang kuatur dari sebuah lagu yang sering dinyanyikan di gereja itu mengalun lembut.

“Ku masuk ruang maha kudus...”