Makin maju teknologi makin banyak peluang kebaikan. Cari berkah pun makin mudah. Hanya modal smartphone bisa mendulang banyak rezeki. Rezeki berupa uang, kawan, ilmu bermanfaat dan kebahagiaan. Siapa coba yang gak mau. Modal dikit untung besar.

Suatu kali saya punya HP Samsung seharga 850rb. Ukurannya mungil, cukup untuk WhatsApp dan FB saja. Manfaatnya jangan ditanya. Dari note bawaan handphone, saya bisa mencatat hasil kajian ustaz, mentor dan coach ternama. Saya share di grup whatsapp, responnya orang banyak yang suka. "Bagus banget. Terima kasih ya udah dibikinkan rangkuman" 

Kalimat dukungan mengalir. Tanpa dinyana malah jadi banyak kenalan. Diundang ngisi acara dan sering dikirim pulsa dan bingkisan. Gak ngarep sih tapi ya disyukuri saja, kan saya gak minta.

Status whatsapps saya ternyata juga menghasilkan uang dari closingan iklan dagangan.  Banyak yang diam-diam menyimpam  no HP saya. Sepatu, tas, buku apa saja yang saya jual laku keras. Waktu itu saya masih palugada. Apa mau loe, gue ada. Hehe...

Mulai dari recehan hingga jutaan per hari. Itu jaman dunia bisnis online belum secanggih sekarang lho ya. Belum ada marketplace, shopee dsb. Kantong saya jadi terisi di tanggal berapa saja. Berkah.

Note bawaan smartphone memberi saya ruang menulis kapanpun ide datang. Beberapa tulisan saya jadi antologi. Ada yang best seller berkat jaringan sosial media. Antologi itu ditulis bersama kenalan dari beragam suku dan agama di Nusantara.  E-book nya pun laku terjual hingga mancanegara. Royalti kala itu dikirim ke jaringan amal rekening sedekah nasi Jum'at. Udah tau kan itu program sosialnya Ustaz  Andre Raditya untuk Indonesia.

Untung saya berlipat secara materi dan nonmateri. Bukan mau pamer tapi untuk menunjukkan betapa smartphone  bisa jadi jalan berkah untuk orang biasa seperti saya. Bukan orang terkenal, tidak kaya bukan pula orang yang ngerti banyak soal agama.

Gimana gak berkah, tak perlu nyiapin pulpen dan kertas untuk nulis. Tipikal saya tiap nulis beli bolpen dulu, Nyimpen bolpen ilang terus. Amazing nya bisa nulis bersama kawan dunia maya se- Indonesia. Mba Helvy Tiana Rosa penulis idola dengan senang hati meminta tanda tangan saya. Alamak, senengnya diriku. Cuma dari modal HP 850rb semua itu bermula. 

Ini perlu saya sampaikan karena gejalanya  ada fenomena melemahnya interaksi sosial juga berasal dari penggunaan smartphone.. Penyebab hidup kita menurun kualitasnya dengan ditandai dengan penggunaan gadget yang tanpa tujuan. Hal ini bisa jadi adalah sebuah gejala yang dapat mengarah pada timbulnya persoalan sosial.

Pengalaman saya pribadi pernah merasakan sendiri persoalan itu. Akhirnya setahun saya puasa HP. Hanya mengaktifkannya setengah jam sebelum berangkat kerja dan  setengah jam sepulang kerja. Itu hukuman karena tidak cerdas mengelola produktivitas gegara HP.  Bakat  untuk ngobrol tanpa henti makin menjadi-jadi. Efeknya waktu habis untuk ngerumpi. Emosi tersulut tiap hari. Habis untuk menanggapi isu dan kabar hari ini. Ampun deh. Emang bener semboyan Smartphone for smartpeople. Kalau tidak cerdas bisa bahaya.

Hp memang serba bisa. Kita bisa membaca Al Qur'an via aplikasi, baca novel dengan ebook. Transaksi perbankan, jual beli online, mencatat memo, menulis karya, presentasi dsb. Akhir-akhir dari smartphone kita bisa mengikuti beragam program pendidikan dan kursus online. Belajar bahasa asing, belajar bisnis dan beragam bidang cukup dari genggaman kita.

Dari smartphone mau nyari kajian keagamaan ada. Mau donasi ke penjuru negeri juga bisa. Mau cari jodoh sesuai selera juga ada. Ups. Buktinya banyak tho yang nikah lintas benua karena interaksi dari smartphone.

Tak heran kalau Om Karl Marx tokoh sosiologi klasik sudah mewaspadai teknologi menjadikan kita mengalami sebuah false conciusness. Manusia tergantung pada teknologi sampai tahap terbelenggu kesadaran palsu. Mengira diri bahagia ternyata kemanusiaannya merana.

Yah itu karena Om Marx khawatir kita tercerabut dari akar kemanusiaan kita. Bagus saja untuk renungan. Bersosial media dengan bijak dan proporsional akan sangat berguna dalam kontribusi pengembangan diri kita. Smartphone adalah pintu mana sajanya si Doraemon versi sekarang. 

Smartphone meningkatkan produktifitas. Menjadi lahan bisnis yang potensial. Melalui smartphone kita mengembangkan berbagai bakat dan minat. 

Smartphone adalah solusi untuk memperpanjang usia manusia. Ketika kita sudah tiada postingan kita bisa diwariskan melalui sosial media untuk menabur kebaikan. Membagikan hal positif yang kita baca. Menyampaikan satu kebaikan tanpa harus keluar rumah. Tanpa menunggu jadi pakar agama. Kita berbagi ilmu sekaligus belajar mencari ilmu. Tanpa ongkos transportasi, tanpa kepenasan kehujanan. Bisa santai sambil selonjoran ngopi dengerin tilawahnya Ustaz Hanan Attaki. Ide segar mengalir dan semangat kembali terisi.

Tak dipungkiri bahwa gadget memberi manfaat, namun sekaligus berpotensi merusak tatanan masyarakat jika dimanfaatkan secara tidak bijak. Misalnya dengan fenomena narsisme, pornografi, adu domba, dan berita hoax. Perpecahan bangsa pun bahkan bisa berawal dari pesatnya teknologi sosial media yang disalahguna. Itu tergantung kita.

Ngalap berkah dari smartphone adalah soal mind set dan pilihan pribadi. Tetapkan dulu arah tujuan. Jika jelas apa yang hendak kita capai maka penggunaan smartphone lebih efektif dan efisien. Jalinan komunikasi dengan sekitar lebih terjaga, terbangun jaringan sehat dan produktif bagi masa depan kita. Selamat menuai berkah ya.