Siang hari yang terik itu suasana di sebuah pesantren tampak lengang. Para santri sebagian besar memanfaatkan waktu jam bebas untuk tidur siang atau sekadar beraktivitas santai di dalam kamar. 

Beberapa santri tampak pula mencuci pakaian. Namun, berbeda dengan Fina. Dengan jilbab rapi dan membawa beberapa buku, ia tampak berjalan tergesa-gesa. 

Fina menerobos area jemuran yang penuh oleh baju-baju. Tak ayal, beberapa baju yang digantung menggunakan hanger tergeser oleh badan Fina.

Tepat saat ia mencapai ujung jemuran, satu buah baju jatuh ke tanah karena tersenggol Fina. Fina tak menyadarinya karena ia segera berlari ke arah gedung madrasah.

“Lho, itu kan bajunya Sri! Fina langsung main kabur saja!” 

Rena yang kebetulan sedang mengantri untuk menelepon orang tua tak jauh dari tempat jemuran, melihat baju milik temannya, Sri, jatuh karena ulah Fina.

Wah, harus segera kulaporkan Fina!”

***

Sri meringis mendapati bajunya sudah kotor oleh tanah.

“Wah, pengen kumarahi si Fina!” sungut Sri dengan mimik wajah kesal.

“Eh, entar dulu. Jangan langsung main semprot. Kamu kan belum terlalu mengenal Fina. Mending kita pantau Fina dulu, kalau perlu kita dekati dia. Masa datang-datang langsung adu mulut.”

Sri pun mengiyakan saran Rena. Selama ini memang ketika emosinya tersulut, Renalah yang buru-buru menenangkan Sri.

***

Kantin malam. Kantin di sebuah sudut pesantren itu memang buka ketika malam hari setelah semua kegiatan pesantren berakhir. 

Sepuluh menit sebelum kantin malam buka, para santri sudah memenuhi bagian depan kantin. 

Pemandangan kantin malam yang ramai sangat kontras dengan mushala di seberangnya. Mushala itu diisi dengan beberapa santri yang tengah menghafal Al-Qur'an.

Malam itu Sri dan Rena turut menunggu kantin malam buka. Mereka menunggu sambil berbincang-bincang di pinggiran mushala.

“Sri, katanya Ustazah menyuruhmu mengejar target hafalan? Tapi kulihat kamu dari kemarin santai-santai saja,” ujar Rena.

“Gampanglah itu. Nanti kukebut kalau sudah mau ujian hafalan saja,” kata Sri acuh tak acuh.

“Dasar! Lihat tuh yang lagi di musala. Mereka itu ya memanfaatkan jam bebas seperti ini untuk mengerjakan tugas atau mengejar target yang diberikan Ustazah!”

 Musala yang tak berdinding memang membuat para santri yang beraktivitas di dalamnya terlihat.

Sri tak menanggapi. Namun, matanya bergerak mengamati aktivitas santri di dalam musala. 

Tiba-tiba matanya tertuju pada satu sosok yang duduk bersandar pada salah satu tiang mushala. 

Tangannya memegang mushaf Al-Qur'an yang terbuka. Akan tetapi, matanya terpejam sementara bibirnya komat-kamit melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an.

“Rena, bukankah itu Fina yang tadi siang menjatuhkan baju yang kujemur?” tanya Sri seraya menunjuk Fina.

Rena mengamati sosok yang dimaksud Sri. “Betul, itu Fina! Ternyata dia rajin, ya. 

Wajah semeneduhkan itu sepertinya tak cocok jika memiliki perangai wajah tanpa dosa!”

“Aku tidak akan langsung tertipu oleh penampilan luarnya. Lihat, ada anak mendekati dia. Sebaiknya kita menguping pembicaraan mereka!”

Tanpa menunggu persetujuan Rena, Sri langsung melangkah ke dalam mushala. Mau tak mau Rena mengikuti. 

Mushala dengan ukuran seluas lapangan itu cukup membuat langkah Sri dan Rena tak tampak mendekati Aini. 

Mereka mengambil posisi dua meter di belakang Fina.

“Kak Fina, aku ingin istiqomah. Tapi untuk menjalaninya ternyata susah,” kata anak yang baru saja mendekati Fina.

Fina menutup mushafnya. “Istiqomah itu memang berat, bandingannya saja seribu karomah. Kalau mau ringan ya istirahat saja.”

“Iya, kak. Bagaimana kalau sudah berusaha, tapi tetap susah buat melancarkan hafalan Al-Qur'an?”

“Ya, begitulah. Mau kita memulai dari depan, tengah, belakang, semuanya akan mengalami rintangan, cobaan. 

Cepat khatam bagus, lama berliku-liku penuh cerita juga bagus. Yang penting tetap terus menjaga hafalan Al-Qur’an. Lancar adalah anugerah.” 

Kemudian Sri beranjak dari tempat duduknya. Rena mengikuti.

***

Setelah pulang sekolah, Sri mengajak Rena ke kantor madrasah. Mereka kini memegang catatan tahfiz siswa. 

Itu saja mereka mengarang alasan untuk mendapatkan catatan tersebut.

“Oh, aku tahu maksud kamu. Kamu ingin melihat capaian tahfiz Fina kan?” tanya Rena.

“Iya.” Sri segera mencari nama Fina. Tak perlu waktu lama, Sri sudah menemukan bahwa hafalan al-qur’an Fina dua puluh juz.

Sri membelakkan mata. “Sepertinya Fina itu anak baik-baik. Tapi kok dia kemarin main kabur saja saat menjatuhkan baju yang kujemur?”

Belum hilang keterjutan Sri, tiba-tiba Fina datang dengan membawa beberapa buku. Fina menuju sebuah ruangan yang dipenuhi piala-piala. 

Di dalamnya ada seorang guru yang sepertinya menunggu kedatangan Fina.

“Ruangan itu kan tempat anak-anak berlatih olimpiade. Oh, kemarin saat menjatuhkan bajumu, Fina juga membawa beberapa buku dan dia berlari ke arah madrasah,” kata Rena.

“Kemungkinan besar dia memang ikut olimpiade. Sekarang aku ingin melihatnya berlatih.” 

Pintu ruangan itu terbuka sehingga Sri dan Rena bisa melihat sekaligus mendengar aktivitas di dalam tak jauh dari tempat mereka berdiri.

“Soal-soal yang kamu kerjakan kemarin sudah lebih baik daripada latihan-latihan sebelumnya. Ibu yakin kamu sudah siap untuk olimpiade besok.”

Wajah Fina tampak berbinar.

“Namun ada satu hal yang perlu kamu pahami. Kamu tidak boleh menyesal jika soal yang kamu kerjakan ada yang salah. 

Jadikan pelajaran bahwa manusia adakalanya melakukan kesalahan. Ibu tidak akan kecewa atau marah apapun hasil olimpiade nanti.”

Sri merasa perkataan guru tersebut justru menyindirnya. Seharusnya ia berkaca. Seorang Fina dengan segala kepribadian baiknya tentu lumrah melakukan kesalahan. 

Apalagi ia yang tak sebaik Fina, lebih banyak kesalahan yang mungkin tak ia sadari.

“Rena, aku berubah pikiran. Aku mau memaafkan Fina saja.”

“Aku juga tidak tega kalau nanti melihat Fina dimarahi kamu.”

“Sekarang kita pulang saja. Nanti malam kamu temani aku menemui Fina, ya,” kata Sri.

“Oke.” Amanda asal mengiyakan meskipun belum tahu apa rencana Andin menemui Aini.

***

Sesuai dugaan Sri, malam itu Fina menghafalkan Al-Qur’an di tempat yang sama seperti malam kemarin.

“Hai Fina,” sapa Sri.

“Eh, hai. Ada apa, ya?” Fina tampak kaget dengan sapaan Sri. Sri dapat memaklumi karena sebelumnya mereka belum pernah mengobrol satu sama lain.

“Boleh aku minta tolong?”

“Dengan senang hati, selama aku bisa melakukannya.”

Sri jadi kikuk sendiri oleh wajah ramah di hadapannya.

“Aku minta maaf atas semua kesalahanku yang aku lakukan padamu, Fina"

Fina terkejut. “Ya Allah! Kalau begitu aku sungguh minta maaf karena kesalahan  yang tidak kusadari. Kesalahan apa ya? Aku sungguh tidak ingat...”

“Eh, tidak Fina. Aku sudah melupakannya. Aku menemuimu tidak untuk membahasnya.”

“Kalau begitu minta tolonglah padaku,” kata Fina dengan wajah memelas.

“Aku ingin meminta tolong. Selama beberapa hari ke depan aku ingin menyetorkan hafalan Al-Qur’an kepadamu sebelum aku menyetorkannya ke Ustazah. 

Kalau di tengah jalan aku malas, semangati aku dengan kata-kata motivasi, ya.”

Wajah Fina berubah cerah. “Tentu, dengan sangat sangat senang aku mau melakukannya!”

“Oh ya, kapan-kapan belajar bareng juga, ya. Biar kita ketularan otak cerdasmu.”

“Boleh. Atur saja jadwalnya,” jawab Fina.

“Ya sudah, aku dan Rena mau ke kantin malam dulu. Maaf jadi mengganggumu.”

“Ah, tidak. Sudah kukatakan, justru aku sangat senang.”

Malam itu, Srk berjanji ia akan melalui hari-hari berikutnya lebih baik daripada hari kemarin.