Musik Rock begitu kencang berdering jam empat pagi. Abu pun terbangun dan merasakan keinginan buang air kecil yang begitu kuat. Sepuluh menit kemudian barulah Abu pergi ke toilet. Teman sekamarnya sedang sarapan dan siap untuk bekerja.

Abu kembali tidur. Sudah beberapa hari ia melewatkan ibadah subuh, bahkan sudah seminggu lebih Abu tidak salat lima waktu lagi. Dirinya terlalu bernafsu mengejar duniawi. Abu selalu terburu-buru dan sibuk sendiri (gerasak-gerusuk) menjelang berangkat kerja.

Sarapan bukan sesuatu yang rutin dilakukan, tak ada mood baginya untuk melahap sesuatu. Tinggal di negara orang lain selama setahun dengan kesempatan bisa bekerja dan berpetualang, menjadi tantangan bagi Abu untuk belajar banyak.

Siang hari Abu bekerja selama delapan jam di toko kue. Toko yang terletak di dalam sebuah super market besar di negara tersebut. Kegemaranya memasak membuat ia memiliki rasa antuasias yang mendorong kesungguhan ketika bekerja.

Kue-kue cantik mampu dia pelajari dalam beberapa minggu saja. Kemampuanya terlihat. Abu menyadari bahwa siapapun bisa membuat kue, hanya saja, teknik dan hasilnya akan berbeda.

Sikap Abu yang ramah serta senang bicara juga tersalurkan karena pekerjaanya yang setiap hari berhadapan dengan konsumen, menuntut ia bisa berkomunikasi dengan baik.

Petang sampai malam hari selama tiga sampai empat jam Abu harus bekerja lagi sebagai pencuci piring. Abu bekerja keras siang dan malam, meski terkadang dia bekerja selama sepuluh sampai dua belas jam sehari, Abu tetap pada performa yang prima.

Jika dilihat dari komentar temanya, Abu menyadari bahwa semua terlihat puas. Uang baginya memang penting namun ia bukanlah orang yang perhitungan. Ketika tempat kerjanya sepi, Abu kadang meminta dimundurin waktu kerjanya agar dia bekerja saat ada pekerjaan saja.

Bahkan ketika tempat bekerjanya sepi pengunjung, Abu tak segan meminta selesai lebih cepat. Ia pun tak suka bekerja kalau tidak terlalu sibuk, karena ia merasa tidak nyaman saat kepala chef ada di sekitar dan melihat dirinya diam saja.

Abu juga selalu berinisiatif mengerjakan yang lainya ketika luang, mengelap rak-rak agar tidak berdebu, menyapu, membersihkan dinding yang menghitam karena noda, dan lainnya.

Menjalani pekerjaan lebih dari satu sudah lumrah bagi orang-orang. Abu pun menikmati semua proses tersebut, toh masih muda. Ini adalah pengalaman berharga yang suatu saat akan berguna bagi dirinya. Setidaknya saat ini dia bisa kerja mati-matian dan semua dijalani dengan baik.

Jam sepuluh malam Abu pulang. Abu menyadari ketika berkendara selalu ada perasaan mengantuk, terkadang dia berdoa agar diberikan keselamatan dalam berkendara. Abu pun terkadang suka menangis merenungi dirinya.

Jika dia merasa terlalu capek misalnya, tak sadar air mata menetes dan emosinya pun meluap, menanyaakan banyak hal kepada Tuhan sembari merasakan betapa bodohnya dia karena banyak hal yang diewatkannya, seperti ibadah-ibadah wajib.

Di lain sisi dia merasa bersyukur atas semua yang dia miliki, teman kerja yang baik, orang-orang yang perhatian, juga peran orang tuanya sangat berpengaruh pada proses hidupnya kini.

Kala itu Abu kehabisan minyak goreng dan telur, juga dia ingin memakan sayuran. Abu mengarahkan mobilnya ke supermarket. Dia pun terpikir sesuatu:

“Jika aku memiliki istri pasti sehabis kerja langsung makan, tidak perlu masak dan cuci seragam buat besok lagi. Iya sih, istri bukanlah seorang pembantu, namun hadirnya pendamping tentu sedikit banyak membantuku. Aku pun merasa hampa, aku ingin ada seseorang yang bisa kupeluk, seseorang yang menyadarkan aku bahkan ngomel tentang diriku. Aku sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah jadi bagiku gak masalah untuk memasak dan ngerjain apapun, hanya di saat seperti ini aku butuh, butuh istri. Ah, semoga tahun ini aku bisa menikah. Amiin.”