2 tahun lalu · 1597 view · 5 menit baca · Perempuan 358577_ilustrasi-wanita-berjilbab_663_382.jpg
Foto: VIVA.co.id

Berjilbab Lebih Baik? Ya, Tapi...

Semasa nyantri di Babus Salam saya pernah membaca salah satu buku Prof. Dr. Quraish Shihab, seorang Ahli Tafsir terkemuka Indonesia yang masih eksis hingga saat ini, yang berjudul, Jilbab; Pakaian Wanita Muslimah, Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer, terbitan Lentera Hati.

Beberapa kali saya mendiskusikan bahasan inti yang tertuang dalam buku tersebut dengan sejumlah guru dan santri. Memang, buku ini di satu sisi menarik, tapi di sisi lain menimbulkan kontroversi tiada henti.

Uraian dalam buku tersebut—seperti yang dikeluhkan banyak pembaca—tak mampu memberikan kata pasti atas persoalan yang sedang diteliti. Akhirnya pembaca pun bingung; pilih pendapat ulama yang itu, atau pilih pendapat ulama yang ini.

Dulu saya suka sekali dengan buku Ahli Tafsir yang satu ini. Sampai-sampai suatu hari saya rela meminjam uang—dengan mengubur rasa malu—ke salah seorang ustad di Pesantren hanya untuk mengoleksi buku-bukunya sampai memenuhi lemari.

Tak begitu jelas apa alasan utama di balik kegemaran saya dalam membaca buku-buku ayah dari Najwa Shihab ini.

Yang pasti, kegemaran membaca buku-buku Quraish ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong saya untuk melangkahkan kaki di bumi para Nabi, tempat Quraish mengaji dan merajut mimpi bersama para ulama al-Azhar yang sejak dulu hingga kini telah memberikan sumbangsih berarti atas proliferasi ajaran Islam Wasathiy.

Setelah mendarat di bumi para Nabi, kini saya sadar sekali, bahwa di sini orang-orang seperti Quraish—bahkan yang lebih darinya—ternyata sangat melimpah dan banyak sekali. Di samping melimpah, mengaji dan membaca karya-karya mereka pun tak sulit sama sekali.

Jika di Indonesia saya harus membeli buku Quraish dengan harga yang cukup mahal sekali, di sini buku-buku yang lebih berkualitas dari buku-buku Quraish itu bisa dibaca dan dibeli dengan harga yang tak terlalu tinggi. Tak pelak, semua ini merupakan anugerah terindah dari Yang MahaSuci yang patut untuk disyukuri.

Beberapa minggu yang lalu, buku-buku Quraish yang dulu pernah dikoleksi itu akhirnya bisa dinikmati kembali. Setelah adik kelas saya turut serta menginjakkan kaki di Bumi para Nabi dan bersedia membawa buku-buku tersebut tanpa rasa berat hati sama sekali.

Saya tentu sangat berterima kasih sekali atas kesediannya untuk membawa buku-buku yang telah menginspirasi saya selama ini. Salah satu buku yang saya baca kembali ialah buku yang saya sebutkan tadi; buku yang mengulas persoalan jilbab sebagai pakaian wanita Muslimah yang kini sudah menjadi busana trendi, terutama di kalangan muda-mudi.

Harus diakui, bahwa di Indonesia sendiri, buku Quraish tersebut telah menimbulkan sejumlah resistansi tiada henti, terutama dari kalangan pemeluk ajaran Islam Tradisional yang kadang tak biasa menerima perdebatan terkait suatu persoalan keagamaan yang sudah disepakati oleh para pendahulu mereka sejak jauh-jauh hari. Dan fenomena ini, saya kira, bisa dimaklumi.

Sebagai orang yang tak dibekali dengan wawasan fikih keislaman yang memadai, tentu saya hanya bisa mengamini apa yang sudah disepakati oleh para ulama klasik terkait persoalan jilbab ini. Saya meyakini bahwa berjilbab itu wajib.

Meskipun kewajiban berjilbab itu tentu tak setara dengan kewajiban salat sebagai ritus peribadatan yang kita langsungkan setiap hari. Sebab, seperti yang dikatakan oleh Yusuf al-Qaradlawi, kewajiban dalam Agama itu memiliki tingkatannya sendiri-sendiri.

Dengan demikian, meskipun kita meyakini bahwa berjilbab itu wajib, pada saat yang sama harus ditegaskan bahwa kewajiban berjilbab tak bisa dipersamakan dengan ibadah mahdhah yang kewajibannya termaktub secara tegas dan terang benderang di balik lekukan ayat-ayat suci.

Karena itu, orang yang mengingkari kewajiban berjilbab tak boleh dikafirkan apalagi disakiti. Sebagaimana perempuan Muslimah yang tak mengenakan jilbab juga tak boleh dipandang nista apalagi dikeluarkan dari lingkaran ajaran Islam dengan caci-maki.

Yang menjadi persoalan penting selanjutnya ialah jawaban atas pertanyaan ini: Apakah tradisi berjilbab ini baik dan harus tetap dirawat dalam konteks keberagamaan masa kini? Atau tradisi berjilbab ini justru menyimpan sejumlah hal yang perlu dikoreksi dan terkadang luput dari perhatian kita selama ini?

Sebagai santri yang berpegang teguh pada corak keislaman tradisional sejak dini, saya tentu akan menjawab bahwa tradisi berjilbab itu sangat baik sekali. Di samping fenomena berjilbab itu juga telah mampu memberikan warna unik tersendiri.

Tapi dalam saat yang sama, saya harus buru-buru menyatakan bahwa tradisi berjilbab ini juga menyimpan sejumlah hal yang perlu untuk dikoreksi. Nah, pertanyaannya kini, apa sebetulnya yang penting untuk kita cermati—kalau enggan berkata koreksi—dari tradisi berjilbab yang sudah marak-meruak ini?

Misal sederhana yang penting untuk kita cermati: selama ini ada sebagian orang yang menakar kebaikan seorang wanita Muslimah hanya melalui jilbab dan busana "tertutup" yang ia kenakan sehari-hari.

Kalau ada orang yang berjilbab rapi, pastilah dia distempel dengan label salehah dan baik hati. Tapi ketika ada perempuan dengan rambut terurai tanpa penutup kepala Islami, pastilah kesalehahannya disangsikan meskipun ia rajin salat tahajjud di malam hari, apalagi hanya sekedar putri dan istri kiai.

Persoalan tak berhenti sampai di sini. Orang yang berjilbab kadang merasa bahwa perempuan yang tak berjilbab adalah perempuan yang belum mendapatkan hidayah dari Yang MahaSuci sehingga pada akhirnya, sadar atau tidak, ia merasa dirinya lebih Islami ketimbang saudaranya sendiri.

Yang lebih menyedihkan lagi, kalau jilbab dijadikan sebagai parameter pasti untuk menentukan bahwa yang ini lebih pantas untuk didekati dan yang itu harus segera dijauhi tanpa basa-basi. Dalam konteks ini, jilbab tentu tak bisa salahkan sama sekali. Karena, sekali lagi, jilbab itu sendiri—setidaknya di mata saya—memiliki nilai keislaman yang sangat baik sekali.

Tapi apa jadinya kalau jilbab hanya dikenakan untuk meraih simpati laki-laki? Apa jadinya kalau jilbab dikenakan hanya demi mengikuti trendi? Apa jadinya kalau jilbab dijadikan sebagai parameter pasti? Dan apa jadinya kalau jilbab dikenakan tapi memunculkan rasa besar hati dan merasa diri lebih Islami ketimbang orang yang tak berjilbab sama sekali? Ini tentu perlu dikoreksi.

Penting untuk diingat bahwa mengenakan jilbab itu baik, tapi orang yang berjilbab belum tentu baik. Menanggalkan jilbab itu kurang baik, tapi orang yang menanggalkan jilbab belum tentu tidak baik. Memandang orang yang berjilbab sebagai orang baik itu baik, tapi menistakan orang yang tak berjilbab hanya karena tak berjilbab itu tidak baik.

Orang yang mengenakan jilbab boleh jadi didorong oleh motif yang tidak baik, sebagaimana orang yang menanggalkan jilbab bisa jadi dihadapkan dengan kondisi yang kurang baik.

Berjilbab itu baik, tapi merasa lebih Islami ketimbang perempuan Muslimah yang tak berjilbab itu tidak baik. Menanggalkan jilbab itu kurang baik, tapi memandang perempuan Muslimah yang tak berjilbab sebagai orang baik itu lebih baik ketimbang memandang diri lebih baik.

Orang yang berjilbab boleh jadi hatinya kurang baik, sebagaimana orang yang tak berjilbab boleh jadi hatinya lebih baik. Karena itu, soal berjilbab dan tak berjilbab, kita bisa memandang yang ini baik dan yang itu kurang baik. Tapi menyangkut orang yang berjilbab dan yang tak mengenakan jilbab, semuanya harus dipandang baik.

(Kairo, Zahra-Medinat Nasr, 06 Oktober 2016)