“Contohlah si abang itu, pengorbanannya banyak untuk organisasi, bahkan dia lulus kuliahnya lama karena aktif di organisasi.”

“Contohlah bapak itu, meskipun dia sudah berkeluarga dan harus bekerja setiap hari, tetapi setiap malam beliau selalu ikut ronda mengamankan kampung sampai pagi, beliau sudah mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengamankan kampung ini.”

Itulah beberapa perkataan yang pernah saya dengar dari orang-orang yang saya kenal.

Perkataan-perkataan seperti itu memberitahu sekaligus menegaskan sebuah pengorbanan seseorang terhadap suatu hal. Tetapi menurut saya belum tentu itu merupakan sebuah pengorbanan. Karena orang-orang yang dimaksud pada kalimat di atas merupakan orang-orang yang berjasa, tetapi belum tentu berkorban. Karena untuk menjadi orang yang berjasa, tidak harus memberikan pengorbanan.

Bahkan untuk menjadi orang yang berjasa, bisa dilakukan dalam keadaan senang dan mudah. Nggak percaya?, oke sini saya jelaskan.

Menurut kitab KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), pengorbanan artinya perbuatan yang mengorbankan. Kemudian kata mengorbankan di kitab KBBI, artinya memberikan sesuatu sebagai pernyataan kebaktian atau kesetiaan.

Jadi, yang namanya pengorbanan itu dilakukan atas dasar komitmen, contohnya seperti kesetiaan. Pengorbanan juga harus memberikan suatu hal yang berharga. Pengorbanan merupakan suatu perbuatan yang menyusahkan dan merepotkan diri sendiri, karena harus memberikan suatu hal yang berharga dalam kehidupan pribadi. Contohnya seperti harta, waktu, tenaga, dan nyawa.

Memangnya ada pengorbanan dalam keadaan senang dan mudah? Mana ada, yang ada hanyalah pengorbanan dalam keadaan sulit dan susah.

Seorang guru bisa dikatakan telah berjasa, karena telah membuat murid-muridnya paham dan mengerti terhadap suatu materi pelajaran. Namun, kalau guru tersebut digaji besar untuk mengajar, apakah guru tersebut dapat dikategorikan sebagai orang yang berkorban untuk membuat murid-muridnya pintar?

Padahal yang namanya pengorbanan itu, tidak mengharapkan apalagi menerima imbalan atau balasan apapun. Pengorbanan adalah suatu perbuatan yang memberi, bukan jual beli. Pengorbanan juga harus dilakukan dengan ikhlas dan tulus.

 Kalau soal berjasa, sudah banyak kok orang-orang yang telah berjasa untuk negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini. Nggak percaya lagi sama pendapat saya? Oke akan saya buktikan.

Berjasa artinya telah memberikan suatu hal yang bermanfaat. Bisa dilakukan untuk personal atau pun kelompok. Jadi, sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan dan bermanfaat untuk orang lain, kita sudah bisa disebut sebagai orang yang berjasa.

Begitu juga dengan pekerjaan atau profesi yang dijalani setiap orang. Setiap pekerjaan dan profesi mempunyai manfaat. Setiap pekerjaan atau profesi telah berjasa dalam kehidupan kita.

Guru telah berjasa membuat muridnya pintar. Petani telah berjasa menghasilkan bahan pangan untuk semua orang. TNI dan polisi telah berjasa mengamankan negara.  Sopir, nahkoda, masinis, dan pilot telah berjasa mengantarkan kita ketempat yang ingin kita tuju.

Itulah buktinya kalau sudah banyak orang yang berjasa untuk negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini. Karena setiap profesi dan pekerjaan yang dijalani setiap orang, pasti dapat memberikan manfaat kepada orang lain dan negara.

Lain halnya dengan pengorbanan, pengorbanan tidak hanya sekedar memberikan suatu hal yang bermanfaat. Tetapi juga harus mengorbankan suatu hal yang berharga. Saya kira jumlah orang yang melakukan pengorbanan untuk negara Indonesia yang tercinta dan tersayang ini masih sedikit.

Memang orang-orang yang melakukan pengorbanan sedikit, tetapi orang-orang yang sok-sok an melakukan pegorbanan banyak. Seperti perkataan yang saya tulis di bagian opening. Seorang mahasiswa yang lulus kuliahnya lama dengan alasan aktif di organisasi. Hal tersebut bukanlah sebuah pengorbanan, tetapi sikap egois dan tidak becus mengatur waktu. Memangnya tidak bisa apa, aktif di organisasi dan kegiatan akedemik kampus sekaligus?

Apalagi kalau mahasiswa itu memang lebih suka aktif di organisasi daripada masuk kuliah. Hal tersebut merupakan sikap egois, bukan pengrobanan. Karena lebih mementingkan kesukaaan daripada kewajiban.

Tidak hanya di lingkungan kampus, manusia-manusia yang sok-sok an melakukan pengorbanan juga bisa ditemukan di lingkungan masyarakat, bahkan sampai lingkungan pemerintahan. Pada lingkungan masyarakat contohnya seperti seorang warga yang rajin ikut ronda setiap hari dengan alasan menjaga keamanan kampung.

Padahal kenyataannya warga tersebut selalu ikut ronda karena suka kongkow-kongkow dengan warga lain, ketimbang bersama dengan anak istri di rumah pada malam hari. Kalau untuk lingkungan pemerintahan, saya kira kalian sudah tahu lah contoh kegiatan yang sok-sok an berkorban. Oleh karena itu saya tidak menuliskan contoh tersebut di tulisan saya ini.

Jadi, bagaimana? Apakah kalian sependapat dengan argumen yang telah saya tulis ini? Sependapat atau tidak itu hak kalian, tetapi kalau tidak sependapat jangan menyalah-nyalahkan. Tolong hargai pendapat orang lain, karena saya juga sudah mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran  untuk membuat tulisan ini.