Penulis
11 bulan lalu · 143 view · 4 menit baca · Media 91263_83024.jpg
kosmosjournal.org

Berita, Informasi, dan Pengetahuan

Setiap berita, apa pun bentuknya, pasti meniscayakan informasi. Tetapi tak semua informasi meniscayakan pengetahuan.

Berita, di samping berfungsi memberi infomasi, juga ada suatu pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Pesan ini amat penting. Sebab para khalayak pembaca dimungkinkan untuk dapat memahami femonena sosial yang sedang terjadi.

Sebagai pembawa berita, tugas jurnalisme memang sangat mirip dengan nabi, yakni sama-sama membawa pesan. Bedanya, para nabi membawa pesan nubuah dari langit, sementara jurnalis membawa pesan tentang peristiwa yang terjadi dalam setiap momen-momen tertentu. 

Seorang jurnalis juga dituntut untuk memberi kabar berita seobjektif mungkin, sesuai fakta, dan umumnya tak boleh melibatkan pendapat subjektifnya. Dan lagi, tugas seorang jurnalis tak lain adalah menyampaikan kabar berita tentang kebenaran fakta-fakta.

Kebenaran bagi seorang jurnalis adalah ketika berita-berita itu sungguh-sungguh terjadi dalam kehidupan nyata. Itu artinya, infomasi menjadi mungkin dan selalu dapat dipercaya oleh publik pembaca. Jika berita itu bohong, katakanlah hoax, maka pastilah berita itu tak datang dari seorang jurnalis, tetapi lebih merupakan sebuah berita yang dibuat-buat oleh seseorang untuk kepentingan tertentu dan umumnya tak dapat dipertanggungjawabkan.

Setiap pengetahuan pasti terdapat informasi di dalamnya. Tetapi tak semua informasi memungkinkan adanya pengetahuan. Ini bisa dipahami bahwa pengetahuan tingkatnya satu level lebih tinggi daripada informasi. Jika seseorang membutuhkan pengetahuan, maka jurnalisme bukanlah wadah yang memadai untuk mendapatkannya.


Perbedaan informasi dan pengetahuan jelas. Bahwa pengetahuan mengandaikan sebuah gagasan, ide-ide, dan sudut pandang yang objektif tentang fakta-fakta. Itulah hal-hal paling inti dari pengetahuan yang tak dapat ditemukan jika kita hanya sebatas membaca berita yang umumnya hanya terdapat informasi di dalamnya.

Jika kita antipati terhadap berita, maka dapat dipastikan kita juga akan menolak kebenaran. Informasi memungkinkan kita untuk dapat memahami peristiwa sosial, bukan hanya sebatas kebutuhan mengetahuinya. Tetapi lebih dari itu, kita juga dapat memahami setiap rangkaian peristiwa secara genealogis dan menjadi satu kesatuan yang utuh. Sehingga memudahkan kita untuk memprediksi hal-hal di masa mendatang.

Wilayah pengetahuan itu lebih teoritis, meskipun kadang juga subjektif. Tetapi seseorang tak boleh terjebak pada subjektivitas diri sendiri, sehingga ditakutkan akan menghilangkan nilai-nilai kebenaran di dalamnya.

Tidak ada teori tanpa praktik, maka pengetahuan meniscayakan praktik yang memungkinkan fakta-fakta itu diolah, dipahami, dan diuji. Setelah itu, biasanya fakta-fakta berubah menjadi sebentuk pengetahuan yang siap saji dan memungkinkan orang-orang memanfaatkannya, baik secara praktis dalam kehidupan sosialnya maupun hanya sekadar pengetahuan yang dikonsumsi saja.

Minat seseorang terhadap sesuatu itu memang berbeda-beda. Maka jenis pengetahuan pun ada banyak. Seseorang yang meminati ilmu pengetahuan sosial, umumnya tak akan suka dengan ilmu pengetahuan eksakta, katakanlah matematika dan fisika. Perbedaan minat dan bakat dalam setiap disiplin ilmu pengetahuan juga tergantung pemakaian otak kanan dan otak kiri seseorang.

Berbeda dengan berita, semua orang membutuhkan informasi. Di samping penting, berita juga memungkinkan seseorang untuk dapat selalu update melihat perkembangan situasi yang terjadi di lingkungan sosialnya, baik dalam lingkup kecil maupun besar. Berita tentang isu politik, misalnya, selalu memantik minat para pembaca. Sebab politik adalah wilayah di mana setiap orang bebas berekspresi dan berpendapat.

Berita juga dapat membuat seseorang menjadi lebih peka dan peduli terhadap lingkungannya. Berita tentang isu-isu kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, kegaduhan politik, dan adanya kebijakan-kebijakan instrumental pemerintah, membuat para pembaca dan masyarakat menjadi lebih mengerti tentang kondisi sosialnya. Sehingga setiap individu dapat berperan secara langsung dalam memperbaiki ketimpangan-ketimpangan yang ada.

Pengetahuan tak sesederhana itu. Orang cenderung harus memeras otak jika ingin meraihnya. Itulah kenapa banyak orang malas belajar. Malas juga memahami bagaimana dunia ini berkembang dan dikendalikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Para pemalas itu biasanya lebih suka menikmati dan memanfaatkan hasil jerih payah pengetahuan, seperti kemajuan teknologi informasi.

Di sisi lain, kemajuan suatu masyarakat dapat diukur melalui seberapa besar minat membacanya. Jika minat baca ini bagus, maka pastilah negara itu akan maju. Banyak negara-negara berkembang sulit sekali maju disebabkan masyarakatnya malas membaca. Media informasi tak menjadi kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan menjadi stagnan dan cenderung mandek.

Di Indonesia, misalnya, minat baca masyarakat begitu rendah. Bahkan Indonesia menjadi negara yang hampir paling rendah level minat bacanya. Fakta ini dapat melegitimasi mengapa negara ini sulit sekali maju. Sebab banyak orang tidak menghargai informasi dan pengetahuan. Mereka cenderung menjadi objek informasi dan pengetahuan, bukan menjadi pelaku yang memproduksi pengetahuan itu sendiri.


Rendahnya minat baca mengakibatkan masyarakat menjadi tidak cerdas. Mereka mudah dikendalikan dan cenderung kurang memiliki pendirian yang kuat. Misalnya, orang yang malas membaca berita umumnya tidak peduli dengan kondisi sosial yang ada. Pengetahuan lalu terabaikan begitu saja.

Mengembangkan tradisi literasi juga tak mudah. Perihal kemampuan membaca dan tulis-menulis memang sulit dikendalikan. Kita lalu menjadi mengerti bahwa kadang-kadang membaca dan menulis bukan hanya sekadar masalah minat, tetapi juga kemampuan. Belum lagi, lemahnya daya literasi disebabkan juga banyak orang tidak memiliki rasa ingin tahu.

Untuk menjadi masyarakat yang cerdas dan maju, haruslah dimulai dari menghargai informasi dan pengetahuan. Informasi dan pengetahuan menjadikan kita lebih peka dan peduli terhadap setiap persoalan yang ada. Sebab peristiwa-peristiwa yang tejadi pasti memiliki hubungan dengan diri kita. Sikap kepedulian itu memungkinkan untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan yang ada.

Mementingkan diri sendiri dan abai terhadap persoalan sosial membuat kita bukan hanya menjadi dungu, tetapi juga akan mengakibatkan kemunduran. Media informasi yang sudah sangat melimpah harus dimanfaatkan sedemikian rupa.

Masyarakat juga harus mulai lebih menghargai ilmu pengetahuan. Kemajuan hanya bisa dicapai ketika setiap individu dapat bersama-sama menciptakan rasa kepedulian yang tinggi dan sedapat mungkin mengubahnya agar lebih maju dan bermanfaat untuk kehidupan umat manusia.


Artikel Terkait