Banyak sekali berita seputar tindakan asusila bermunculan, hampir setiap hari berita ini tidak pernah hilang dalam media massa. Sudah dapat ditebak bahwa hal tersebut menunjukkan masih tingginya kasus pemerkosaan di Indonesia.

Menurut siaran pers dari komnas perempuan pada 5 maret 2021, pada pertengahan tahun kasus kekerasan seksual berada di peringkat kedua setelah kekerasan fisik. Dalam banyaknya kasus yang ditangani oleh komnas perempuan sebanyak 55% nya adalah kasus kekerasan seksual.

Bahkan dari berita korban berasal dari berbagai jenjang mulai TK, SD, SMP, SMA, mahasiswi, dan karyawan tak luput dari kasus seperti ini. Pelakunya juga beragam dari berbagai kalangan dan profesi dari dosen, guru, pemuka agama, aparat pemerintah, keluarga terdekat, tetangga dan sebagainya.

Lantas dengan  melimpahnya berita-berita tersebut  apakah masih mampu menarik minat pembaca? Makin banyaknya berita-berita perihal tindakan asusila bisa saja berdampak  pada masyarakat yang akan semakin mewajarkan tindakan tersebut.

Tanggung jawab pelaku pada korban juga hanya sekadar menikahi, meminta maaf maupun masuk penjara. Bagaimana dengan korban yang justru mendapat pandangan rendah, disalahkan, trauma, hingga membenci hidupnya sendiri dan berujung bunuh diri. 

Mungkin Anda pernah membaca suatu artikel berita yang menggunakan judul dengan kata rudapaksa. Rudapaksa dalam KBBI edisi ke-3 tahun 2001 berarti paksa perkosa. Terlihat seperti kata yang sangat halus. Bahkan mungkin bisa terlalu halus untuk suatu tindakan yang kurang biadab.

Menurut Soekmono (2021) judul berita berperan penting dalam menggaet pembaca. Maka media menjual berbagai macam judul menarik agar beritanya banyak dibaca, dengan banyaknya pembaca maka akan muncul tawaran iklan. Pada akhirnya portal berita bukan lagi ajang informasi dan ilmu melainkan bisnis. 

Kata rudapaksa banyak digunakan para jurnalis guna menjadikan berita pemerkosaan menjadi berita yang menarik dan menimbulkan rasa penasaran. Padahal yang mereka tulis adalah berita kekejaman yang bukan termasuk hiburan.

Haruskah memperhalus suatu tindakan yang tidak biadab? Bagi sebagian orang mungkin beranggapan penggunaan kata rudapaksa bertujuan agar berita tersebut dapat terlihat lebih manusiawi.  

Namun perlu diingat kasus pemerkosaan bukanlah kasus manusiawi, pelaku layak untuk dihukum dengan hukuman yang setara apa yang dilakukannya. Terkadang berita-berita yang ada hanya membalikkan fakta dengan memposisikan pelaku dengan nyaman agar perbuatannya masih dianggap manusiawi.  

Ada pula sebuah berita yang menggunakan judul "Wanita Cantik Diperkosa" atau "Pelajar Cantik Dicabuli". Kenapa harus menggunakan kata cantik? Seolah-olah menempatkan para korban pada statement bahwa wajar saja diperkosa karena cantik. 

Kata cantik memiliki arti suatu keindahan yang menarik tidak layak digunakan untuk judul berita pemerkosaan. Bukan pelaku yang disalahkan justru korbanlah yang menjadi target kesalahan.  

Kenyataan bahwa berita kasus pemerkosaan masih menempatkan korban pada subjek utama. Berita yang ada juga lebih berfokus pada bagaimana kronologi peristiwa tersebut. Bukan pada keamanan korban, hukuman pelaku maupun tindak lanjut agar kasus tersebut tidak terulang kembali.

Ada contoh judul berita seperti  "Seorang Murid Diperkosa Guru". Bagaimana jika kalimat tersebut dirombak menjadi "Seorang Guru Memperkosa Murid". Dari kalimat sederhana tersebut dapat mengubah persepsi untuk memfokuskan pada pelaku bukan korbannya.  

Tujuannya agar masyarakat tahu dan yakin bahwa perbuatan pemerkosaan itu salah, yang apabila dilakukan hukumannya tidak hanya sekedar penjara namun hukuman moral masyarakat. Menjadi cantik bukan kesalahan dan bukan dosa, bukan penyebab seseorang menjadi korban pemerkosaan.

penyebab tingginya kasus pemerkosaan di Indonesia adalah adanya kemudahan mengakses konten pornografi. Kita memang tidak dapat menghentikan seseorang untuk mengakses konten tersebut, maka di sinilah edukasi seksual sedini mungkin diperlukan. 

Terbatasnya informasi mengenai edukasi seksual yang mungkin masih dianggap tabu di masyarakat menjadi hambatan tersendiri untuk menurunkan kasus pemerkosaan.  Faktanya pakaian yang dikenakan perempuan tidaklah menjadi alasan seseorang menjadi korban pelecehan. 

Faktor yang mendorong pelaku melakukan pemerkosaan adalah untuk mencari kenikmatan seksual dan melampiaskannya. Itulah mengapa lebih baik kaum pria diajarkan untuk dapat menahan hawa nafsunya.

Korban juga sering kali menutup mulut pada tindakan yang dialaminya dikarenakan malu dianggap sebagai aib. Padahal yang seharusnya malu adalah pelaku bukan korban. Korban layak mendapatkan penghargaan atas keberaniannya untuk mengungkap kasus yang dialaminya.

Penggunaan kata yang terlihat halus dan menambah nilai keestetikan agar terlihat intelek sangatlah tidak dibutuhkan. Justru sebaiknya harus bisa mengatakan pada masyarakat bahwa kasus pemerkosaan tidak bermoral, jahat, merusak kehidupan seseorang, dan harus dihukum dengan setimpal.

Karena kasus pemerkosaan bagi korban adalah momok jahat yang tidak bisa diputar kembali seperti semula seumur hidupnya. Pelaku pemerkosaan tetaplah pelaku, mau bagaimanapun dan apapun tidak akan mengubah status kejahatannya.