2 tahun lalu · 284 view · 5 menit baca · Filsafat aristotle-success-large.jpeg
Gambar: google.co.id

Beriman dalam Keutamaan

Belajar dari Etika Keutamaan Aristoteles

Hidup berkeutamaan pada masa sekarang ini merupakan salah satu nilai penting di mana paham sekuler, ateisme, agnostisisme terus berkembang. Di tengah perkembangan aliran-aliran itu, kiranya paham teisme tidak surut begitu saja ataupun mulai melemah. Eropa yang dikenal dengan wilayah berkembangnya sekularisme itu tidak bisa menjadi representasi bahwa iman atau kepercayaan pada Tuhan itu benar-benar hilang.

Artinya, iman kepada Tuhan tetap menjadi pilihan bagi kebanyakan orang. Eropa juga menghadapi fenomena baru yaitu derasnya gelombang imigran, khususnya dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Kebanyakan kelompok imigran itu memiliki keyakinan pada Tuhan (Teisme) entah dari Islam atau Kristen.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk membenarkan salah satu paham-paham di atas tetapi mau menggali salah-satu ide penting Aristoteles terutama dalam menghidupi kehidupan ini yaitu hidup berkeutamaan. Kiranya, hidup berkeutamaan itu dapat menjadi jalan tengah bagi semua paham baik ateisme, agnostisisme ataupun teisme. Keutamaan Aristoteles pun sangat relevan dalam hidup beragama terutama dalam konteks Indonesia.

Lalu seperti apa hidup berkeutamaan menurut Aristoteles itu dan apa sumbangsih bagi kehidupan? Kata keutamaan berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu arete dan dalam bahasa Latin diterjemahkan menjadi Virtus dan dalam bahasa Inggrisnya: virtue. Kata keutamaan itu berarti “keunggulan”, “kemampuan” atau “kapasistas”.1 Aristoteles membahas secara khusus tentang keutamaan manusia dalam karyanya: Etika Nikomacheia (384-323 SM).

Salah-satu ide penting bagi Aristoteles adalah ‘bagaimana kita menghidupi kehidupan dengan baik’ daripada hanya mengikuti apa yang secara moral benar.2 Tujuan sentral dari kehidupan manusia adalah mencapai kebahagiaan (Eudaimonia). Salah-satu perbedaan mendasar dari etika keutamaan Aristoteles dengan etika lain adalah pada tipe manusia yang dicita-citakan.

Etika teonom, kantian, utilitarian, hedonisme, tidak dapat menjawab pertanyaan “mengapa kita harus bertindak baik?”. Misalnya, etika kantian menegaskan bahwa kita mesti bersikap jujur karena kejujuran tidak akan “menurunkan” martabat manusia. Utilitarian menekankan kebaikan dan keuntungan yang paling banyak.

Aristoteles mengajak kita untuk bertindak bukan karena alasan dari luar tetapi karena mau mencapai sosok manusia seperti apa yang menjadi cita-cita. Etika kewajiban Kantian seolah-olah memaksa kita agar bertindak baik tanpa memperhatikan ciri kemanusiaan yang ingin dicapai. Apalagi etika utilitarian, kita bersikap hanya mengejar sebuah kebaikan dan keuntungan yang semaksimal mungkin.

Aristoteles mengabstraksikan tujuan hidup manusia seperti berikut ini: “Setiap perbuatan kita memiliki kegunaan tertentu. Jika saya mengatakan bahwa saya bekerja demi mendapat uang, lalu kenapa mau mendapatkan uang: karena mau hidup dalam kemewahan dan seterusnya..” Kita akan sampai pada satu jawaban: “saya ingin bahagia” dan jika ditanyakan lagi mengapa ingin bahagia, bagi Aristoteles pertanyaan itu tidak lagi masuk akal lagi.

Kebahagiaan merupakan tujuan akhir manusia karena apabila orang sudah bahagia dia tidak memerlukan apa-apa lagi. Di lain pihak, kalau orang sudah bahagia tidak masuk akal kalau mencari sesuatu yang lain lagi. Kebahagiaan itulah yang baik pada dirinya sendiri. Kebahagiaan bukan demi suatu nilai lebih tinggi lainnya melainkan demi kebahagiaan itu sendiri.3

Dalam kaitan dengan manusia berkeutamaan yang akhirnya demi kebahagiaan, Aristoteles memulainya dengan bertanya cara hidup mana yang membuat kita bahagia. Secara singkat orang mencapai kebahagian ketika dia mengaktualisasikan semua kemampuan  dalam tindakannya. Kemampuan-kemampauan itu dimiliki oleh manusia dan dapat diperoleh melalui latihan dan pengajaran. Aristoteles menekankan bahwa kita tidak dilahirkan dalam keutamaan.

Pada dasarnya, manusia memiliki dua keutamaan yaitu ‘keutamaan intelektual’ dan ‘keutamaan karakter’. Keutamaan intelektual terdiri dari latihan penggunaan ratio secara baik sedangkan keutamaan karakter/keutamaan moral terdiri dari latihan penggunaan “kehandak/keinginan” secara baik. Keutamaan intelektual diperoleh dari pengajaran dan keutamaan karakter diperoleh melalui latihan/kebiasaan.

Beberapa keutamaan hidup menurut Aristoles yang terdapat dalam karyanya Nicomachean Ethics antara lain: kesederhanaan, berbudi hati, keramahan, keotentikan, kemurahan hati, kesabaran, kerendahan hati, kecemerlangan, kerelaan hati, dan keberaniaan. Keutamaan (arete) dapat dipahami sebagai ‘jalan tengah’ misalnya, keberanian merupakan ‘jalan tengah’ antara ketergesaan dan pengecut.4 Demikian pun dengan keutamaan lainnya.

Pertanyaan lanjutan adalah bagaimana kita mengetahui bahwa kita bertindak dalam keutamaan? Dan kapan kita mulai menjadi pribadi berkeutamaan? Misalnya kita ambil salah satu keutamaan yaitu ‘murah hati’. Seorang remaja ‘melatih’ dirinya untuk menjadi orang yang bermurah hati dengan memberikan derma/sedekah pada yang lain. Dengan latihan ini akhirnya dia memiliki kebiasaan untuk berderma. Namun apakah itu sudah cukup?

Bagi Aristoteles itu tidak cukup. Remaja itu mesti ‘’menikmati” tindakan berderma itu sebagai sebuah keutamaan dan bukan sebuah rutinitas akibat dari sebuah kebiasaan saja. Kita dapat mengambil contoh pada orang beragama. Beribadah secara teratur kadang hanya sebuah rutinitas sementara dia tidak memaknai secara mendalami ibadah itu. Imannya pun menjadi dangkal. Demikianpun dengan remaja tadi jika hanya terbatas pada rutinitas.

Manusia berkeutamaan berarti dia yang mengintegrasikan nilai-nilai keutamaan itu ke dalam dirinya. Artinya, keutamaan itu (kelemah-lembutan, murah hati, kesabaran, kedamaian, dsb) bukan lagi nilai dari luar tetapi menjadi miliknya. Bagi orang beragama hal ini sangat penting. Beriman tidak didasarkan pada alasan ketakuatan pada Tuhan atau akan dihukum tetapi justru nilai keutamaan menjadi bagian dari dirinya.

Setiap agama mengajarkan banyak nilai keutamaan. Misalnya Islam, secara etimologis berarti salam (damai), demikianpun Kristen menekankan cinta-kasih, Hindu-Budha pun tentu memiliki keutamaanya. Keutamaan bagi orang beragama berarti nilai-nilai keutamaan mesti menjadi representasi sikapnya dalam segala tindakan dan situasi. Dia bertindak tidak lagi karena ingin dilihat oleh sesama atau alasan ganjaran surgawi.

Ketika bertindak dalam keutamaan, seorang yang beragama tidak akan terpengaruhi lagi situasi ataupun segala bentuk hasutan sehingga mencedrai nilai keutamaan itu. Misalnya, dia bersikap “damai” atau “cinta-kasih” hanya dalam situasi tertentu apalagi hanya untuk sesama golongan atau hanya pada kaum seiman. Saya pikir, etika teonom5 (etika agama) kurang memperhatikan hal ini yaitu penekanan pada manusia berkeutamaan.

Kebanyakan lebih bersifat “wajib” dan janji “ganjaran surgawi” tanpa memperhatikan sosok manusia yang ingin dicapai. Dalam konteks bangsa Indonesia, beragama dalam sikap berkutamaan Aristoteles sangat relevan, terutama di tengah kemajemukan baik suku, agama, ataupun ras. Dengan demikian, segala paham eksklusifisme yang cenderung dimiliki oleh setiap agama dapat teratasi.

Ketika semua nilai keutamaan setiap agama terintegrasi dalam setiap penganutnya: kiranya sikap intoleran dapat tertasai persis jika nilai “kedamaian” (misalnya, salah-satu nilai keutamaan Islam) telah menjadi “miliknya”. Tentunya, dia akan menjadi bahagia baik dalam kehidupan umum maupun dalam penghayatan imannya. Sikap intoleran sangat bertentangan dengan kedamaian dan tidak akan membawa orang pada kebahagiaan.  

Sikap toleran tentu tidak dapat tumbuh begitu saja, seperti apa yang dikatakan Aristoteles karena setiap kita tidak dilahirkan dalam keutamaan. Sikap itu dapat tumbuh melalui kebiasaan kita untuk menghargai perbedaan. Penghargaan itu tidak boleh terbatas hanya karena mengikuti apa yang dikatakan undang-undang atau konstitusi tetapi mesti menjadi bagian dari diri kita. Dengan demikian, kita menjadi manusia dengan berkeutamaan.

Setiap agama memiliki banyak sekali keutamaan dan mari kita coba mengintegrasikan keutamaan-keutamaan itu. Dan saya yakin keutamaan-keutamaan dalam setiap agama tidak mungkin mencedrai kemanusiaan kita. Mari, dengan cara kita masing-masing mempraktekan setiap keutamaan itu dan menjadi “milik” kita. Dengan demikian, kita menjadi manusia yang berkeutamaan yang tidak hanya mengikuti prinsip-prinsip moral saja. Semoga!

 

Catatan Kaki

  1Hoft, Van Stan. Understanding Virtue Ethics. Swansea: Guttenberg Press, 2006.

  2Ibid p 50

  3Magnis-Suseno, Franz. 13 Tokoh Etika. Jogjakarta: Kanisisus, 2006, hlm 30

  4Van-Hoft, Stan. Undertanding Virtue Ethics, p 129

  5Teonom secara singkat berarti paham etika yang berlandaskan pada perintah-perintah Tuhan.