Mahasiswa
6 bulan lalu · 98 view · 4 min baca menit baca · Agama 14876_16239.jpg
Www.huseinmuhammad.net

Pencarian, Iman dan Keotentikan Keyakinan

Hidup seperti menyeberangi lautan. Yang namanya menyeberangi tentu membutuhkan instrumen. Ada yang menggunakan kapal, jembatan seperti Suramadu dll. Lantas, jika kita menyeberangi menggunakan instrumen tersebut, apakah kita yakin akan selamat? Titik tekan disini adalah keyakinan. Keimanan berarti meyakini sesuatu. Menyeberangi adalah bentuk tindakan menaruh keyakinan pada instrumen tersebut.

Tetapi, dalam sebuah keyakinan tidak mungkin semua orang mengetahui seluruh seluk-beluk objek yang diyakini. Akibatnya, untuk sementara meyakini permukaan sudah cukup memberi rasa aman. Beriman juga berarti mencari rasa aman di dunia dan akhirat.

Dalam perjalanan sejarah, tiap-tiap individu mempunyai pengalamannya masing-masing. Nurcholis madjid seperti yang ditulis di dasar-dasar kepercayaan HMI memberi kompas pencarian untuk memantapkan keyakinan seorang kader. Menjadi keharusan bagi kader untuk diimplementasikan di kehidupannya sesuai konteks masyarakat yang dihadapi.

Terlepas dari hal itu, keimanan pada sesuatu yang selanjutnya menaruh kepercayaan bagi tiap-tiap individu tak dapat dipaksakan sesuai selera masing-masing penyeru. Ada teks yang bagus untuk dicerna. Kira-kira begini bunyinya: agama tak mungkin datang pada orang yang tak menggunakan akalnya. Agama berarti harus berakal. Berkeyakinan begitu juga.

Karena tiap individu berbeda pengalaman untuk menyalakan keimanannya maka sudah tentu berbeda pula ekspresinya. Ada yang sujud, ada yang berdiri meratap dll. Dalam internal agama saja kadangkala keimanan diekspresikan dalam bentuk tindakan sosial secara berbeda. Ada yang sekedar membuat batas salah-benar begitu juga ada yang berwujud kemaslahatan bagi seluruh kehidupan.

Iman bagi tiap individu memulai dari berbagai variabel. Ada yang memulai dari keluarga, dalam artian keimanannya didapat dari keluarga. Jika keluarganya meyakini keyakinan tertentu maka sudah pasti keyakinan orang yang imannya termasuk kategori ini akan ikut arus sekelilingnya. Tidak ada tindakan bertanya. Kalau pun ada, ia hanya sekedar memperkuat keyakinannya.

Kenapa demikian? Karena instrumen keimanan yang disepakati sebagai media mencapai keselamatan pada masyarakat tertentu cenderung tertutup. Segala perbedaan kualitatif tidak ada tempat bagi hal ini. Tepatnya, seperti yang dikatakan Adorno, " memusuhi perbedaan kualitatif". Bahkan bisa jadi yang berbeda adalah ancaman eksistensi bagi yang bersangkutan.

Barangkali instrumen yang dipakai sudah memenuhi ketenangan batinnya. Sehingga, jangankan melacak sejauh mungkin dari mana instrumen terinspirasi. Yang ada, malah semakin memperkuat jika ada sesuatu yang dianggap mengancam.

Apakah keimanannya secara keturunan sudah tentu menjadi kebenaran? Kebenaran sepanjang sejarah sama seperti mengumpulkan serpihan-serpihan yang kemudian dirangkai menjadi bangunan utuh. Dengan demikian, perlu adanya keterbukaan dan kejujuran pada diri sendiri untuk menyatakan " ada yang salah pada keyakinanku". Memang butuh kesadaran. Sebab, tiap-tiap individu mendapat pengalamannya berbeda-beda yang terkumpul di bawah alam sadar.

Iman secara keturunan berarti meyakini tanpa mempertanyakan. Karena praktis. Barangkali benar, jika ada pernyataan, untuk apa mencari seluk-beluk keyakinan. Yang ada bukan malah semakin memantapkan tapi semakin oleng. Pernyataan ini benar bagi sebagian individu. Tapi, bagi invidu lainnya ada sesuatu yang tak dapat diterima begitu saja berupa alasan-alasan tak sempurna.

Pengalaman tiap individu tak dapat dipaksakan pada lainnya. Tapi, sebagai bentuk pertunjukan yang hiperbolik, bisa diperbolehkan. Memaksakan pengalaman adalah bentuk kecerobohan dan kebodohan. Ibnu Athaillah mewanti-wanti hal itu. Dengan demikian, pengalaman sangat individual. Karena itu, ia tak dapat dikatakan dalam bentuk kuantitatif.

Barangkali yang memandang iman sebagai suluh yang harus diberikan sebagai penerang bagi jalan yang tak rata, membiarkan yang lain bermain-main dengan pengalamannya adalah dosa. Sebab, sama halnya, ia menggelincirkan. Invidividu yang masih bermain-main dengan pengalaman demi keimanan yang otentik dianggap sebagai orang yang patut diberi pertolongan.

Memposisikan diri sebagai subjek yang mempunyai mandat memberi pertolongan-saat ini- sama halnya menjadikan diri kita sombong. Beda halnya jika memposisikan sebagai penyambung kabar yang tak punya kepentingan ideologi. Kategori ini bagi seseorang yang rendah hati. Tepatnya sebagai penyambung missing link.

Pada kenyataan memang kepentingan kita untuk dikatakan sebagai penolong dan sebagai penyambung missing link saling tarik-ulur. Kesadaran berperan dalam hal ini. Kita tepatnya lebih mementingkan siapa yang akan mengenal kita daripada apa yang diperkenalkan kita.

Berlainan dengan keimanan secara keturunan yang tak mampu mengaktifkan daya pikir kritis tersebut. Ada keimanan karena dihasilkan dari pencarian. Iman ini lebih otentik. Bagaimanapun kontroversialnya, Ahmad wahib dengan catatan hariannya adalah bentuk iman yang otentik. Ia tak takut melompat keluar pagar. Melihat ke sebelah kiri dan kanan, bila ada mutiara hilang yang harus diambil.

 Ia pun mengambilnya sebagai bentuk pengimplementasian ucapan: "kebenaran adalah mutiara yang hilang, jadi harus diambil". Wahib tak segan mempertanyakan Tuhan. Dalam ucapannya yang cukup telanjang, ia bilang, jika Tuhan takut pada akal sama halnya Dia takut pada ciptaan-Nya. Wahib dengan iman otentik adalah satu contoh individu yang tetap memegang teguh eksistensinya.

Apakah keimanan karena pencarian akan menjadikan invidu tak khusyu'? Belum tentu. Sebab, bisa jadi ia mengambil serpihan yang benar-benar bagian dari iman yang dilemparkan. Tentu, jika menganalogikan iman sebagai keutuhan yang dilemparkan Tuhan, serpihannya wajib kita cari dan susun menjadi keutuhan sempurna.

Iman karena keturunan yang mengkhusyu'kan sebenarnya bentuk ketenangan sementara. Sebab, akan menemukan kesalahannya ketika tak mampu menjawab problem. Iman karena pencarian tetap awet. Sebab, ia telah melewati pengalaman-pengalaman kompleks. Iman seperti ini akan menjadi suluh sepanjang sejarahnya.

Hidup, seperti yang saya katakan diatas, sama seperti menyeberangi lautan dengan pelbagai instrumen. Menggunakan kapal, jembatan seperti Suramadu. Tetapi, kita tak mungkin mengetahui seluruh seluk-beluk. Maka dibutuhkanlah pencarian. Beriman sama halnya mencari kebenaran mutlak dengan melewati tangga-tangga kebenaran relatif.

Beriman berupa pencarian tanpa henti adalah keharusan sebagai dinamika hidup. Sebagai suluh, iman berarti menerangi untuk melewati jalan yang tak rata-analogi Goenawan muhamad- dan penuh tantangan. Keimanan bukan dipakai sebagai batas wilayah, " siapa suci, siapa najis. Ke-kita-an dan ke-mereka-an". 

Karena pengalaman berbeda-beda, berimanlah tanpa harus mengkafir-kafirkan orang yang tak sepaham. Sebagai suluh, gunakanlah ia sebagai penerang jalan diri kita sendiri. 










Artikel Terkait