Ketika kita "libur panjang" alias social distancing yang artinya menjaga jarak sosial ini, kita banyak di rumah. Kemudian penggunaan frasa ini sejak Jumat (20/3/2020) oleh Organsiasi Kesehatan Dunia (WHO) secara resmi menganjurkan mengganti penggunaan frasanya menjadi physical distancing yang maksudnya menjaga jarak fisik akibat si “Korono”.

Banyak sekali yang bisa kita lakukan ketika kita berada di rumah seperti himbauan bapak presiden Jokowi agar di rumah saja belajar, bekerja, dan beribadah untuk mencegah pandemi si “Korono” selain cuma rebahan alias tidur-tiduran, santuy man. Seorang temanku yang menulis status di media sosial jika aktifitasnya selama di rumah dengan nonton drama Korea (drakor) yang berjilid-jilid itu.

Namun, bukan hanya menonton drakor yang bisa membunuh waktu, teman yang lain menulis status dengan acara masak-masak. Dia yang kini senggang dari rutinitasnya mencoba kemampuannya di dunia masak-memasak. Ada yang posting statusnya dengan sibuk membuat hand sanitizer alami dari daun sirih. Ada juga yang demo buat jamu-jamuan walau mungkin dulu tidak suka minum jamu.

Ada teman yang dulu jualan alat dan bahan kosmetik kemudian berubah menjadi penjual barang kesehatan. Ada yang jago menjahit, membuat masker sebanyak-banyaknya. Ada yang baru pulang ke rumah setelah ngekost karena kuliah di luar kota. 

Dia kini berkumpul keluarga, dan rajin membantu orang tua bekerja di rumah dengan membantu berjualan. Ada yang punya pembantu, menjadi bekerja sendiri mengurus rumahnya karena pembantunya minta pulang kampung.

Ada yang suka membaca, menghabiskan waktu dengan membaca. Ada yang suka menulis, menghabiskan waktu dengan menulis. Sedangkan aku? Beberapa hari ini, aku menghabiskan waktu di rumah kakek yang tak berpenghuni dengan bersih-bersih karena ingin mengisolasi diri di sana.

Bersih-bersih, Kuy!

Hari pertama di rumah kakek yang biasa kutempati itu terlihat sepi. Biasanya ramai karena banyak tamu kini tidak lagi. Aku mulai membersihkan dari ruang tamu yang tanpa kursi itu karena tamu yang datang akan duduk melantai di atas karpet. Karpet sudah dilipat, digulung, dan dicuci. Lantai kayunya yang berwana hitam menjadi berwarna putih karena penuh debu. Aku pun menyapu dan mengepelnya.

Hari kedua, aku masih di ruang tamu, setelah kemarin seharian menyapu dan mengepel. Aku mulai membersihkan dinding yang bercat hijau itu dari jaring laba-laba. Ada beberapa hiasan di dinding seperti lukisan kakek, jam dinding, dan aksesoris yang menandakan Nahdlatul Ulama (NU) sekali yang penuh dengan debu.

Berhari-hari kemudian, waktuku pun habis untuk membersihkan rumah kakek yang besar itu. Belum lagi peralatan makan dan perkakas dapur yang berdebu baik dalam lemari maupun di rak piring yang biasanya dipakai oleh para tamu yang senang berkumpul, berdoa bersama sambil makan-makan di rumah ini. 

Oh ya, aku jadi sadar. Jika pekerjaan perempuan yang jadi ibu rumah tangga itu tidak ada habis-habisnya. Untuk urusan masak memasak saja, waktuku bisa habis hampir dua sampai tiga jam kurang lebih. Itu dimulai dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh atau jam sebelas menjelang siang hanya untuk memasak nasi, ikan, dan sayur. 

Apalagi, ibu yang anak-anaknya masih duduk di sekolah namun libur dan punya pekerjaan rumah (PR) yang banyak. Sampai ada meme yang bilang; kalau ibu ternyata lebih galak dari guru mereka (peace!).

Ya iyalah, ibu-ibu mana yang stres, mengerjakan seluruh urusan rumah tangga. Mulai dari memasak, mencuci, menyetrika, menyapu, mengepel, dan ditambah (membantu) mengerjakan PR anak-anaknya lagi.

Kembali ke rumah kakek. Mungkin karena tak berpenghuni dan baru akan kutinggali lagi, aku harus menjemur. Aku menjemur kasur, mencuci seprei, sarung bantal dan guling.

Rumah sudah bersinar, hampir 80% sudah dibersihkan. Sisanya, bisa dibersihkan seperti hari biasa. Yaitu, dengan menyapu, membuang sampah pada tempatnya. Aku beralih merapikan barang-barang pribadiku.

Untungnya, baju-bajuku yang ada disana, aman. Mereka rapi berbaris karena digantung dan terlipat dalam lemari. Tapi, sayangnya, beberapa berkas-berkas dan buku-buku yang kutaruh dalam dus harus kubuang dan kubakar. Dus-dusnya dikencingin kucing. Masih untung, dusnya tidak dipakai sebagai tempat buang kotoran atau dan melahirkan. 

Aku memang belum sempat membereskan berkas dan buku yang kusimpan di rumah kakek. Biasanya, sepulang dari sebuah acara di luar kota, aku membawa banyak oleh-oleh, tetek bengek ketika dari acara tersebut. 

Bersih-bersih rumah berlanjut, belum lagi beberapa kosmetik seperti lipstik yang jarang kupakai ada di sini. Ada kosmetik yang sudah kadaluarsa. Aku memilahnya dan membuangnya. 

Beberapa minyak angin yang suka kupakai dan kubawa kemana-mana tampak banyak berkumpul. Mulai dari minyak; kayu putih, tawon, *****care sampai minyak merek tradisional dari suatu daerah dan berbagai merek balsem. 

Waduh, beginilah, karena suka bepergian ke mana-mana. Di jalan, jika lupa membeli minyak angin tadi, aku pasti singgah membelinya. Aku jadi punya banyak stok "perminyakan".

Hmmm... capek juga membersihkan rumah yang menguras waktu, pikiran, dan tenaga. Setelah membersihkan rumah benar-benar beres, semoga segera ada waktu untuk berkebun. Kata seorang temanku, ketahanan pangan akan menjadi prioritas utama.