Penulis
2 bulan lalu · 4615 view · 4 menit baca · Politik 95675_42011.jpg

Beri Alasan Mengapa Harus Prabowo

Di tulisan ini, saya mau jujur saja bahwa di Pilpres 2014 lalu saya mencoblos Prabowo. Padahal, di hari-hari sebelum hari pencoblosan, saya ikut-ikutan ngumpul di markas relawan ASWAJA (saya lupa kepanjangannya, yang jelas ujungnya ada kata Jokowi-JK) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. 

Perubahan pilihan pada waktu itu terjadi hanya satu hari sebelum hari pencoblosan. Sebabnya adalah saya terlibat diskusi dengan beberapa teman yang pada waktu itu mampu meyakinkan bahwa Prabowo-Hatta Rajasa pilihan terbaik. 

Faktor lainnya adalah memang pada saat itu saya tidak begitu mengikuti dengan saksama (beda halnya dengan saat sekarang) situasi politik waktu itu.

Untuk pencoblosan 17 April 2019, pilihan saya sudah sangat mantap: 01. Pertimbangan utamanya adalah karena menurut saya Jokowi-lah yang benar-benar memiliki visi yang jelas terhadap Indonesia ke depan. Dan itu tidak saya temukan di dalam pidato-pidato Prabowo. 

Dalam debat kandidat yang sudah berlangsung 3 kali, Jokowi tampil makin meyakinkan. Dan, sebaliknya, Prabowo makin meragukan.


Perlu diketahui bahwa saya bukan orang yang mempersoalkan “urusan remeh-temeh” dari kedua kandidat: apakah mereka bisa ngaji, bisa jadi imam salat, rajin puasa Senin-Kamis, atau fasih melafalkan bahasa Arab, dan seterusnya. Hal-hal seperti itu saya anggap sebagai “gosip politik” bukan “diskusi politik” sehingga terlalu malas untuk menanggapi.

Bagi saya, Prabowo seperti kader baru sebuah organisasi yang pada umumnya meletup-letup tetapi tidak punya strategi cara mencapai gagasannya itu. Itu terjadi karena belum melihat peta permasalahan. Gambaran yang ada sekadar peta buta.

Ya, namanya orang tidak tahu situasi, ya bebas bisa ngomong apa saja. Tetapi ketika diberikan kewenangan, maka belum tentu secerdik Jokowi yang sering dituduh “tidak ngerti persoalan” itu. 

Saya jadi teringat perkataan Abraham Lincoln: “Jika kamu ingin mengetahui watak seseorang, berilah ia kekuasaan.” Jangan heran jika kita melihat di televisi para pengamat selalu tampil cerdik mengkritisi, sebabnya tidak lain karena mereka tidak mengalaminya. Sama seperti kita ketika nonton bola, tiba-tiba kita merasa jadi lebih pintar dari seluruh pemain plus pelatih di stadion.

Prabowo (bersama para pendukungnya) selalu mengingkari pencapaian-pencapaian Jokowi. Misalnya saja tentang divestasi Freeport. Mereka menuduh bahwa prestasi pemerintah itu justru merugikan negara karena, menurut mereka, cukup dibiarkan saja sampai tahun 2022, maka dengan sendirinya 100 persen saham Freeport jadi milik Indonesia. 

Ada juga yang menganalogikannya dengan “mengusir rampok dari rumah sendiri kok malah dibayar”. Itu semua menunjukkan bahwa Prabowo bersama para pendukung benar-benar tidak mengerti peta pemasalahan. Ada aturan-aturan internasional tentang izin usaha tambang yang harus tetap diikuti sebagai dampak dari kebijakan pada rezim Pak Harto. 

Lagi pula benar kata Prof. Rhenald Kasali: yang milik kita itu adalah tanahnya; adapun mesin-mesin, skill, dan teknologi, semuanya adalah milik asing. Jadi kalau kita sekadar menerima lubang besar bekas galian PT Freeport, terus untungnya di mana?

Dalam pernyataan-pernyataannya, Prabowo mengatakan bahwa kekayaan Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir orang (di mana Prabowo ada di antara yang segelintir itu). Saya tentu tidak mengingkari pernyataan tersebut. 

Tetapi perlu dilihat, sejak kapan praktik itu bermula? Dan apa langkah-langkah yang dilakukan Jokowi? 


Saya kira pembagian sertifikat tanah adalah salah satu langkah efektif Jokowi. Jadi janganlah menimpakan dosa warisan ke presiden saat ini. Justru Jokowi sedang melangkah untuk menyelesaikan ketimpangan tersebut.

Prabowo lebih suka menjanjikan sebuah hasil tetapi tidak disertai strategi mencapainya. Ia tidak punya strategi yang jelas tentang bagaimana mengatasi ketimpangan ekonomi rakyat Indonesia. Ia hanya meluapkan emosinya tetapi tidak mengerti harus bagaimana. Tipe orang seperti ini tidak layak menjadi pemimpin karena pemimpin butuh strategi.

Komposisi koalisi di kubu Prabowo sebenarnya tidak rasional. Sulit membayangkan bagaimana mungkin seorang Ratna Sarumpaet, Ahmad Dani, dan Rocky Gerung sepemikiran dengan Front Pembela Islam (FPI), misalnya. Kalau aktivis HTI dan FPI sepemikiran, itu masih logis. 

Komposisi yang ganjil ini sebenarnya terbentuk bukan karena kesamaan visi yang besar, tetapi sekadar mereka punya musuh bersama: Jokowi. Jadi semua elemen yang sebenarnya bertentangan, untuk sementara bisa bersatu, demi menggempur lawan. 

Kalau keadaannya begitu, maka bisa dipastikan kalau toh Prabowo berkuasa, maka akan ada banyak elemen pendukungnya yang kecewa. Mengapa? Karena memang mereka bersatu hanya karena musuh bersama.

Satu lagi hal yang sangat aneh. Prabowo maupun Sandi yang awam dengan Islam justru saat ini dicitrakan sebagai sangat islami. Dalam hal ini, benar sekali apa yang dikatakan oleh Yusril Ihza Mahendra (YIM) bahwa rekam jejak Prabowo tidak menunjukkan keberpihakan terhadap umat Islam. Pelabelan Pabowo-Sandi sebagai islami adalah sesuatu yang sangat dipaksakan.

Berita bohong (hoaks) menimpa kedua pasangan calon. Tetapi kubu Prabowo memasang sikap mengeksplorasi hoaks tersebut, sementara kubu Jokowi tidak demikian. 

Misalnya tentang hoaks serbuan tenaga kerja asing asal Cina. Narasi serbuan tenaga kerja Cina terus dilakukan bahkan setelah adanya klarifikasi dari Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dakhiri. 

Menaker menyebutkan bahwa jumlah tenaga kerja asing di Indonesia total ada 85.000. Dari jumlah tersebut, tenaga kerja asal Cina hanya ada 25.000. Artinya, persentase tenaga kerja asing di Indonesia masih sangat kecil dibandingkan jumlah keseluruhan penduduk.


Cara-cara menjijikkan seperti ini merupakan preseden buruk bagi demokrasi di Indonesia ke depan. Jika masyarakat Indonesia pada 17 April mendatang mampu menunjukkan bahwa cara seperti itu tidak efektif, maka akan menjadi preseden baik bagi demokrasi kita. 

Generasi mendatang akan dapat menikmati demokrasi yang terhormat, bukan demokrasi yang ugal-ugalan. Jadi adakah alasan memilih Prabowo? #seriusnanya

Artikel Terkait