Cinta mungkin merupakan kata yang tak akan pernah habis untuk diperbincangkan, ditulis di kaos, dibuat film, dijadikan buku, dan lain-lain. Hitung saja berapa banyak film tentang cinta yang ada di dunia ini.

Mungkin perlu waktu yang cukup lama jika diadakan sensus tentang film cinta. Bahkan tulisan ini juga akan membahas sedikit tentang cinta.

Mengapa demikian? Karena cinta memang sebuah kata yang mewujud begitu dekat dalam kehidupan sehari-hari, dengan beragam peristiwa tentunya. Ada yang berakhir indah, tetapi jangan lupa ada juga kisah cinta yang tak berakhir indah. Bahkan ada cinta yang berujung pada maut. Ah, ngeri memang.

Sepertinya kisah cinta yang indah memang terlalu sering kita jumpai. Minimal kita jumpai dalam sinetron atau film-film lainnya, yang ujungnya selalu mudah ditebak. 

Tentu menjadi kekecualian film Anna Karenina. Film yang diangkat dari buku Leo Tolstoy ini menampilkan kisah cinta yang sedikit tegang dan menyeramkan. Walaupun memang kisah cinta yang lain juga “seram.” Tergantung apa definisi seram yang saya sengaja beri tanda kutip. Saya tidak perlu menjabarkan, Anda paham maksud saya tentunya.

Dari ragamnya kisah cinta tersebut, sepertinya saya tertarik membahas cinta yang mirip dialami oleh Sukab, tokoh utama dari cerpen Seno Gumira Ajidarma: Sepotong Senja untuk Pacarku. Nah, buat yang belum tahu kisah dari Sukab, saya akan kasih tahu secara singkat.

Begini. Sukab yang jatuh cinta terhadap Alina dengan kadar berlebih tersebut rela melakukan apa saja demi Alina. Tak tanggung-tanggung, Seno menuliskan dalam ceritanya tersebut, Sukab sampai memasukkan senja ke dalam amplop, lalu mengirimkan kepada Alina. 

Tidak masuk akal memang. Tetapi, yang menjadi perhatian utama saya dalam kisah tersebut, sialnya cinta Sukab sama sekali tidak dibalaskan oleh Alina.

Nah, sekarang sudah tahu, kan, apa yang ingin saya tuliskan? Ya, cinta yang tak terbalas. Atau mungkin sebut saja: cinta yang dipandang sebelah mata. Kalau Anda sedang mengalaminya sekarang, maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyinggung. Semua hanya kebetulan saja.

Berdasarkan cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, saya dibawa dalam sebuah imajinasi bahwa ketika Sukab mengetahui respons Alina, Sukab yang malang tersebut pasti dirundung duka nestapa. Tetapi dari pandangan saya, seharusnya keadaan ini tidak harus membuat Sukab dan pengikutnya di dunia nyata patah semangat. Nah, bagaimana caranya supaya tidak patah semangat?

Menurut saya, terlalu sederhana dan kurang bijak kalau mengatakan, “Tidak usah patah semangat, masih banyak wanita lain kok.”

Begini, belum tentu orang dapat jatuh cinta dengan mudah. Kadang cinta itu begitu kuat dan tak bisa digantikan oleh orang lain. Bisa saja, seperti kata Sujiwo Tejo, kamu bisa menikah dengan siapa, tetapi kamu tidak bisa merencanakan kamu jatuh cinta pada siapa. Ah, semoga saya tidak salah. Pokoknya, mencintai seseorang bukan hal yang gampang. Ini perlu disadari.

Lalu apakah dengan demikian cinta itu harus dipertahankan? Atau mungkin dipendam sendiri sambil menghibur diri, “cinta tak harus memiliki.” 

Sayang sekali, saya juga tak sepakat. Meskipun seperti kata Aan Mansyur, bahwa jika seseorang telah menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya memperoleh kemungkinan, namun tidak salahnya berharap kemungkinan lain. 

Apalagi jika sang pujaan hati telah mengirim undangan pernikahan. Jangan berharap menunggu janda atau duda, saran saya temukan kemungkinan lain. Artinya, berjalan dan melangkahlah, mana tahu dalam perjalanan tersebut ada seseorang yang lain, yang membuat duniamu diam penuh seluruh, karena kali ini cinta itu datang tak direncanakan.

Jika kamu orang yang memiliki kegemaran bermusik, silakan bermusik. Mana tahu kamu ketemu seseorang yang kamu cintai, yang juga sama-sama suka musik. 

Jika kamu adalah orang yang suka belajar, teruslah belajar dan menggapai cita-cita. Mana tahu, jika kamu lelaki, bisa ketemu wanita seperti Maudy Ayunda, sudah pintar menyanyi, cantik, rajin belajar, dan banyak koleksi bukunya lagi. Meski hal ini, jangan juga terlalu diharapkan dengan begitu dalam juga.

Intinya, yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini, teruslah menghidupi hidupmu yang sangat sayang, jika hanya diisi dengan meratapi nasib. Jika kamu merasa dalam apa yang kamu senangi terkadang masih begitu kurang, belajarlah untuk meningkatkan diri lagi. Itu jauh lebih baik ketimbang meratapi nasib.

Meski menjalani hidup dengan merelakan sang pujaan, jauh lebih sulit ketimbang membaca nasihat ini, namun pikirkan sekali lagi: hidup sepertinya kurang mendapat makna jika hanya terjebak masalah cinta yang kadang ribet itu. Selain itu, bukankah makna hidup dan cinta itu begitu luas dalam semesta ini?

Akhir kata, tidak selalu nasihat ini kamu ikuti. Jika kamu tetap memutuskan untuk tetap mencintai orang tersebut, tetaplah mencinta. Karena semesta selalu punya cara untuk membalas cintamu. 

Tetapi kamu juga perlu punya waktu untuk merenung: mungkin ini sudah saatnya untuk berhenti mencintai orang yang tak mencintaimu. Memikirkan hal ini memang berat dan menakutkan, tapi jangan takut dan merasa berat, saya bersamamu. Juga dengan Sukab.