“Believe nothing, no matter where you read it, or who has said it, not even if I have said it, unless it agrees with your own reason and your own common sense”. 

Saya sudah menyukai kalimat yang tertera dalam kutipan di atas sejak pertama kali saya membacanya di salah satu platform media sosial.

Secara tidak langsung, kata-katanya seakan terkait dengan cerita yang kali ini akan saya tuliskan.

Sepenggal rasa tentang pengenalan saya dengan apa yang disebut sebagai meditasi.

***

Saya sudah mengenal kata meditasi sejak lama. Tapi, selama sekian tahun, saya berpikir bahwa meditasi itu hanya dilakukan oleh orang-orang tertentu saja. Suatu komunitas yang menganut kepercayaan tertentu, atau dilakukan oleh seseorang yang sedang berlatih ilmu bela diri.

Bahkan, ada beberapa cerita yang saya dapatkan bahwa meditasi seringkali terkait dengan hal-hal yang bersifat mistis.

Dan meskipun saya tidak mudah percaya pada sesuatu yang belum pernah saya alami sendiri, tapi, dari sedikit banyak cerita yang saya dengar, sempat membuat saya tidak begitu berminat untuk mengenal lebih jauh tentang makna yang sebenarnya dari meditasi itu sendiri.

***

Perjalanan saya untuk mengenal lebih dalam tentang meditasi dimulai sekitar dua setengah tahun silam. Ketika itu, saya mulai kewalahan menghadapi semua hal yang terjadi dalam hidup saya.

Dimulai dari rasa frustasi yang saya rasakan karena melakukan pekerjaan yang tidak saya sukai. Entah itu sebagai pekerja kantoran, ataupun saat saya menjadi seorang pelaku usaha wiraswasta. Saya tidak menyukai keduanya.

Saya cukup cakap dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang ada. Namun, saya melakukannya dengan banyak rasa kesal dan kecewa yang terpendam. Alhasil, sederet panjang keluhan selalu menyertai keseharian saya.

Rekan kerja yang tidak menyenangkan, pembeli yang terlalu menuntut, pekerjaan yang terlalu banyak, hingga pendapatan yang tidak setimpal. Tiada hari berlalu tanpa satupun keluhan yang terucap dari lidah tajam saya.

Lalu kemudian, masalah finansial juga menjadi isu berikutnya yang turut mempengaruhi situasi dalam rumah tangga saya.

Setiap hari, bahkan bisa dikatakan hampir setiap saat, pikiran saya selalu dipenuhi kecemasan tentang uang.

Apakah saya akan memiliki uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari? Apakah besok saya akan bisa mendapatkan uang yang lebih banyak? Atau apakah saya akan bisa membayar semua tagihan yang seakan terus ada dan datang tiada henti? Setumpuk pertanyaan serupa selalu silih berganti memenuhi benak saya.

Saya seperti dicengkram kuat-kuat oleh kekhawatiran. Seluruh pikiran dan perasaan saya seperti terbelenggu oleh ketakutan.

Dan perlahan, saya melihat bahwa diri saya sendiri mulai melemah dan merasa kalah. Kalah oleh pikiran dan emosi saya sendiri.

***

Saya merasakan kelelahan yang amat sangat. Lelah mengikuti semua tuntutan pikiran-pikiran saya sendiri.

Saya merasa lelah dikuasai oleh berbagai emosi yang sering menyeret saya pada keterpurukan dan rasa putus asa yang mendalam.

Dan ketika semua yang terjadi hampir melampaui batas kekuatan yang saya miliki, tiba-tiba saja, tanpa berpikir lagi, saya putuskan untuk berhenti. Saya berhenti dari kegiatan apapun yang sedang atau akan saya lakukan di saat itu.

Saya berusaha mengambil jeda dalam kegaduhan dan keriuhan pikiran saya sendiri.

Saya hanya berdiam diri saja tanpa melakukan apapun selain menutup mata dan bernapas.

Saya baru mengetahuinya di kemudian hari bahwa ternyata di saat itu, di momen itu, saya sedang melakukan sebuah meditasi.

***

Meditasi adalah pintu masuk saya untuk belajar mengenal siapa diri saya yang sebenarnya. Saya belajar melatih diri saya sendiri untuk lebih sering mengambil jeda, berdiam diri dan tidak melakukan apapun dalam keseharian saya.

Saat sedang dalam diam, suara-suara di pikiran saya terdengar lebih jelas. Kemarahan, ketakutan dan kekhawatiran saya terasa lebih nyata.

Mereka hadir bersamaan dengan kilas balik berbagai peristiwa yang telah saya alami di masa lalu. Peristiwa-peristiwa tidak menyenangkan yang berusaha saya lupakan.

Pertengkaran dalam keluarga, kata-kata yang menyakitkan, harapan yang tidak terwujud, hingga rasa kehilangan yang terlalu mendalam.

Seluruh emosi yang ingin saya hindari muncul serentak tanpa belas kasihan.

Mereka berusaha membujuk dan menyeret saya untuk kembali melarikan diri. Lari dari diri saya sendiri, seperti yang telah saya lakukan selama ini.

Seperti saat amarah hadir melalui lontaran kata-kata tajam dari orang lain, ataupun ketika hal yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan, saya selalu terhanyut oleh bujukan marah. Saya lampiaskan gejolaknya pada orang-orang di sekitar saya.

Sering kali juga, saya lari dari kecemasan dan meninggalkannya bersama rasa bersalah melalui makan secara berlebihan ataupun membeli barang-barang tak berguna yang tidak saya butuhkan.

Tapi, kali ini saya berusaha untuk tidak lari kemanapun. Saya memberanikan diri untuk menghadapi emosi apapun yang sedang saya rasakan di saat ini.

Saat kekhawatiran dan ketakutan datang melalui pemikiran apakah saya akan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari atau apakah hari esok akan menjadi lebih berat untuk dijalani, maka yang saya lakukan adalah membujuk diri saya sendiri layaknya seorang dewasa yang sedang membujuk anak kecil.

Saya bisikan puluhan kata cinta untuk diri saya sendiri. Saya berikan segenap rasa aman dalam kehangatan janji untuk jangan lagi merasa takut ditinggalkan sendiri.

Saya belajar untuk menerima mereka semua sebagai bagian dari diri saya sendiri. Sebagai cermin untuk diri saya sendiri.

***

Saya tidak pernah menyangka bahwa meditasi yang dulu terasa aneh dan ganjil untuk dilakukan, ternyata telah banyak memberi makna yang sangat berarti dalam keseharian saya sekarang ini.

Kalimat-kalimat pahit yang sering terucap dari lidah saya telah jauh melunak. Amarah dan kecewa tidak lagi terlalu mendominasi keseharian saya.

Dan meskipun hingga hari ini saya masih sering kali terpeleset dan terjatuh, saya belajar untuk tidak lagi membuat diri saya sendiri terjebak dan terpuruk dalam keputusasaan.

Saya belajar untuk menerima semua hal sebagai suatu pengalaman yang memang harus terjadi di saat itu.

Semuanya dimulai dengan satu keputusan singkat. Keputusan untuk berhenti sejenak dan mengambil jeda sesaat. Satu keputusan terbaik yang pernah saya lakukan sejauh ini.

***

Mungkin cerita kali ini terasa  mengambang untuk dicerna.

Memang sulit rasanya menuangkan sesuatu yang terasa abstrak dalam kalimat-kalimat nyata. Tapi, bukanlah juga menjadi hal yang mustahil untuk dimengerti.

Karenanya, ada baiknya saya tuliskan kembali kutipan yang sudah saya tulis di awal tulisan ini tadi.

“Jangan percaya apapun, entah di manapun Anda membacanya, atau siapapun yang mengatakannya, bahkan jika Saya sekalipun yang telah mengatakannya, kecuali jika hal itu sesuai dengan alasan dan nalar Anda sendiri”. Buddha, Sidharta Gautama.