Apa yang terlintas di benak kita kala mendengar kata outsourcing? Buruh? Pegawai tidak tetap? Atau karyawan kontrak? Jawaban-jawaban spekulatif ini mungkin yang secara spontanitas akan terlontar dari mulut kita jika ditanya mengenai pengertian outsourcing

Secara umum memang tidak ada yang salah dengan jawaban-jawaban tersebut. Namun jika kita ingin jawaban yang lebih ilmiah, kita bisa merujuk pada Oxford Advanced Learner's Dictionary yang mendefinisikan outsourcing sebagai “the process of arranging for somebody outside a company to do work or provide goods for that company.” 

Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kurang lebih pengertiannya adalah “proses pengaturan seseorang di luar sebuah perusahaan untuk bekerja atau menyediakan barang-barang untuk perusahaan tersebut.”

Jika dilihat dari tinjauan yuridis terhadap Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, outsourcing atau alih daya diartikan sebagai pemindahan atau pendelegasian beberapa proses bisnis kepada suatu badan penyedia jasa, di mana badan penyedia jasa tersebut melakukan proses administrasi dan manajemen berdasarkan definisi serta kriteria yang telah disepakati oleh para pihak.

Dewasa ini, sistem outsourcing sering digunakan dalam dunia bisnis untuk alasan-alasan strategis, diantaranya sebagai solusi yang efektif untuk efisiensi biaya produksi (cost of production). Sebab dengan sistem outsourcing perusahaan dapat menghemat pengeluaran (outcome) dalam membiayai sumber daya manusia (SDM) yang bekerja di perusahaan tersebut.

Jadi, suatu perusahaan tidak perlu repot-repot merekrut tenaga kerja untuk kebutuhan operasional tertentu yang hanya memerlukan waktu yang singkat. Dalam hal ini, perusahaan cukup bekerja sama dengan perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing untuk dipekerjakan di perusahaan tersebut.

Tentunya dengan status sebagai karyawan atau tenaga kerja outsourcing. Proses ini dinilai lebih efektif dan efisien, mengingat perusahaan tidak banyak mengeluarkan waktu, biaya, dan tenaga.

Sekilas kita memandang sistem outsourcing sebagai sistem yang lumrah dan biasa-biasa saja. Namun jika kita telaah lebih dalam, sistem ini sering menimbulkan kerugian dan risiko yang lebih besar terutama bagi para pekerjanya. 

Meski outsourcing dipandang sebagai solusi yang efektif dalam pengelolaan tenaga kerja masa kini, namun sistem ini kerap terkendala inkonsistensi regulasi dan birokrasi yang rumit yang justru potensial merugikan para pekerja.

Tidak adanya jenjang karier,  masa kerja yang tidak jelas, kesejahteraan yang tidak jelas, pendapatan yang terbatas, potongan upah yang tidak jelas, adalah sederet kerugian yang kerap dialami oleh para pekerja outsourcing

Belum lagi ancaman PHK yang sering menghantui karena perusahaan dengan mudahnya bisa melakukan pemecatan kapan saja sebab belum ada payung hukum yang jelas dimana kesejahteraan pekerja outsourcing dapat berlindung di bawahnya.

Dengan kata lain, perusahaan menginginkan seorang pekerja sebab kebutuhan-kebutuhan tertentu. Jika requirement itu telah terpenuhi, maka perusahaan tersebut berhak memberhentikan pekerja itu sesuai dengan perjanjian kerja yang sedari awal sudah dibuat dan ditanda tangani. 

Dan biasanya tanpa pesangon apapun. Kejam, bukan? Begitulah. But, business is business. Outsourcing yang memang dalam cengkraman kapitalisme tidak akan pernah bermurah hati pada sesama.

Sistem outsourcing bisa diibaratkan ketika kita memerlukan seseorang hanya sedang butuhnya saja atau karena ada maunya. Jika kita tidak sedang membutuhkannya, kita bisa mengabaikannya dengan sikap apatis yang kita punya. 

Namun tentu itu tidak etis dan cenderung mencederai nilai-nilai sosial kita sebagai homo homini socius dan zoon politicon seperti yang Aristoteles utarakan jauh-jauh hari.

Sekarang, bayangkan jika istilah outsourcing ini dianalogikan terhadap hubungan vertikal antara manusia sebagai makhluk dengan Allah SWT sebagai Khaliq (pencipta)! Tentu saja ayat-ayat Alquranul Kariem mengatur bagaimana seharusnya kita ber-akhlaq  kepada Allah SWT. 

Akhlaq dalam pengertian sikap makhluk terhadap khaliq yang dengannya melahirkan berbagai kewajiban yang harus kita tunaikan.  Selain sebagai makhluk, manusia juga mendapat predikat sebagai hamba (‘abid) dengan kewajiban-kewajiban penghambaan yang melekat padanya. 

Mengenai hal ini, surat Az-Zariyat, surat ke-51 dalam Alquran telah menjelaskannya kepada kita. “Dan tidaklah Kami ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS 51:56).

Berdasarkan Tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram, menafsirkan ayat tersebut dengan makna lain yaitu bahwa manusia (dan jin) diciptakan untuk diperintahkan dan dilarah oleh Allah. 

Dengan kata lain, manusia sebagai ‘abid’ (hamba) harus patuh dan tunduk kepada Allah sebagai Ma’bud (yang diperhamba). Sebab makna ‘ibadah’ secara bahasa adalah tunduk dan patuh.

Kata ‘tidaklah Kami ciptakan’ pada ayat tersebut juga mengandung penekanan yang bermakna bahwa tugas manusia di di dunia ini hanyalah beribadah atau menghamba kepada Allah. 

Mengabdi kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun. Menghamba berarti taat dan patuh sepenuhnya tanpa syarat. Implementasinya ialah takwa, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Allah membuat segala peraturan yang termaktub di dalam Kitab Suci Alquran tidak lain demi kemaslahatan hidup umat manusia di muka bumi. Tidak ada syariat Allah yang menimbulkan madharat, melainkan seluruhnya membawa manfaat jika kita patuhi dan laksanakan. 

Kita pun sebagai hamba tidak mempunyai hak memilah-milah kewajiban hukum dan syariat mana yang harus kita tunaikan. Kewajiban yang kita sukai kita kerjakan, sedangkan yang tidak kita sukai kita tinggalkan.

Bukankah seorang budak pun harus tunduk patuh dan berserah diri kepada majikannya? Apalagi kita yang mengaku sebagai hamba Allah. Sebab konsep penghambaan dalam Islam harus dilakukan dengan totalitas tanpa batas. Menghamba dalam keadaan senang ataupun terpaksa, sedih atau gembira, dalam sunyi maupun ramai, serta dalam keadaan sempit ataupun lapang.

Kadang kala ketika kita sedang dirundung duka atau ditimpa musibah, kita bersimpuh dan memohon kepada-Nya, meminta agar segala kesedihan dan kedukaan dihilangkan. Namun ketika sedang memperoleh kesenangan, kita acap kali lalai dan lupa. Padahal tujuan Allah menimpakan kesedihan adalah agar kita bersabar, dan jika diberi kesenangan tidak lain agar kita patut bersyukur.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 153, Allah mengingatkan kita untuk menjadikan sabar dan sholat sebagai penolong. Baik sabar ataupun syukur keduanya memiliki esensi bahwa dalam keadaan apapun kita tidak berhak meninggalkan Allah serta senantiasa selalu meminta kepada-Nya. 

Belum lagi dalam surat Al-Ikhlas menegur kita untuk selalu menjadikan Allah sebagai tempat bergantung segala sesuatu. Allaahu Asshomaad.

Secara disadari atau tidak, ketika mengucapkan salah satu ayat dalam surat AL-Fatihah dalam bacaan sholat kita sering mengikrarkan bahwa kita hanya akan beribadah dan meminta kepada Allah, tidak kepada selain-Nya. Tidak menyangsikan dan mengecilkan segala pemberian-Nya, melainkan yakin atas kuasa-Nya.

Apakah ayat-ayat tersebut tidak cukup menyadarkan kita bahwa Allah sebenarnya ingin agar kita selalu membutuhkannya dalam keadaan apapun? Mulai sekarang mari berbenah diri untuk tidak menjadikan Allah sebagai Tuhan outsourcing

Mendatangi-Nya kala butuh dan menjauhi-Nya kala senang. Kita saja sebagai makhluk enggan dijadikan pekerja outsourcing, apalagi Allah sebagai Tuhan.