“Karena kamu tidak percaya ada surga dan neraka, kalau kamu nanti meninggal, kamu akan ke mana?” tanya seorang Indonesia pada koleganya seorang Jepang. 

Mereka sedang duduk-duduk santai di sebuah kedai kopi modern. Mereka menunggu jadwal meeting dengan client yang masih dua jam lagi.

Si Jepang sudah cukup lama tinggal di Jakarta sehingga mampu berbicara dalam bahasa Indonesia walaupun kurang sempurna. “Kalau meninggal ya meninggal saja. Tidak ke mana-mana,” jawabnya lugas. Lanjutnya lagi, “Kamu percaya ada surga dan neraka?”

“Ya percaya sekali,” jawab si Indonesia.

“Bagaimana di surga?” tanya si Jepang.

"Wah, kebetulan nih. Gw bisa kasi dakwah, mana tahu dia tertarik masuk agama, bakal nambah pahala gw," batin si Indonesia.

“Surga itu tempat yang menyenangkan. Apa pun yang kita butuhkan, ada. Tidak perlu kerja keras lagi. Kita cuma makan-tidur di sana. Anehnya, walau cuma makan tidur tapi kita tidak akan sakit. Pokoknya di surga hanya ada yang menyenangkan dan indah-indah,” jelas si Indonesia dengan meyakinkan. Seakan dia pernah berkunjung ke sana.

Si Jepang mengangguk-angguk mendengarkan penjelasan koleganya yang tampak bersemangat dengan wajah penuh senyum saat bercerita. “Trus kalau di neraka bagaimana?” tanyanya lagi.

“Oh, kalo di neraka kebalikan di surga. Di neraka, semua siksa yang paling sakit akan kita alami. Penyiksaan fisik yang tak pernah berhenti. Pokoknya sangat menyakitkan. Kita tidak mati walaupun disiksa sedemikian dahsyatnya. Bisa dibayangkan dong bagaimana ngerinya siksa neraka itu,” jelas si Indonesia dengan wajah yang tegang, mungkin karena sambil membayangkan kengerian yang terjadi di sana.

Si Jepang tetap mengangguk-angguk tanpa ekspresi ketakutan sama sekali. Kemudian tanyanya lagi, “Bagaimana caranya ke surga?”

“Berbuat yang baik sesuai perintah agama, misalnya tidak mencuri, tidak membunuh, tidak berdusta, tidak melawan Allah, dan lain-lain. Oh iya, tentu masuk agama dulu,” jelas si Indonesia dengan wajah bangga dan percaya diri.

“OK,” kata si Jepang datar, “Trus kalau masuk neraka bagaimana caranya?” 

“Oh, itu paling gampang. Berbuat saja semua yang berlawanan dengan perintah Tuhan niscaya kamu akan masuk neraka,” jelas si Indonesia dengan gaya pendakwah.

“Apakah semua orang Indonesia tahu deskripsi surga dan neraka seperti itu?”

“Iya. Pasti Karena sejak kecil, bahkan sejak belum bisa baca pun kita sudah diajari tentang surga dan neraka,” jawab si Indonesia.

“Ok, aku mengerti semua yang kamu jelaskan. Tapi yang tidak aku mengerti adalah kalau semua orang sudah tahu surga itu enak dan neraka itu mengerikan, kenapa banyak yang melakukan hal tidak baik sehingga nanti mereka masuk neraka? Kenapa?” tanya si Jepang sambil menatap tajam pada si Indonesia. 

Si Indonesia tersenyum masam. Habis kata-katanya untuk menjawab. Dia sangat paham ke mana arah pembicaraan koleganya itu. Teringat dia saat tinggal dua tahun di Jepang.

Orang-orang Jepang yang tidak percaya ada surga tapi akhlak mereka melebih orang yang beragama. Di Jepang, walaupun kita kehilangan dompet atau barang berharga di tempat umum, pasti akan ketemu lagi. Mobil yang tidak dikunci tidak akan hilang. Mereka tidak mau mengambil barang/hak yang bukan miliknya. 

Lha, di Indonesia, jangankan mobil – yang walau sudah dikunci double –, sandal saja bisa hilang di depan masjid. Handphone bisa hilang di dalam gereja. Orang Jepang akan sangat malu bila tidak berhasil melakukan tanggung jawabnya dengan benar, sehingga pejabat negara mereka akan mengundurkan diri atau bahkan melakukan hara-kiri.

Tapi lihatlah orang kita. Bila gagal, maka akan mencari kambing hitam atas kegagalan tersebut, atau cuci tangan bila ada masalah. Mencuri atau bahasa kerennya korupsi sudah menjadi gaya hidup para pejabat dan pengusaha. Ah, korupsi sudah tidak mengenal strata sosial. 

Semua kalangan dari yang paling atas sampai bawah, banyak yang melakukan perbuatan tercela ini. Bahkan ada yang merasa menjadi Robin Hood karena sebagian hasil korupsi tersebut disebar-sebar ke rumah ibadah dan fakir miskin.

Bila sudah begini, siapakah sebenarnya yang akan masuk surga? Jangan-jangan mereka yang tidak beragama dan tidak mengharap surga tapi melakukan hal-hal baik untuk alam semesta dan manusia yang akan menghuni surga. 

Dan kita yang berkoar-koar tentang surga dan neraka, yang selalu merasa lebih memahami Tuhan dan paling dekat dengan Tuhan yang akan jadi penghuni neraka. Mengapa? Karena kita lebih banyak melakukan kegiatan-kegiatan yang cocok jadi penghuni neraka, pun saat kita promosi tentang surga.